Ulasan
Review Film The Wrong Girls: Petualangan Telekinesis Dua Sahabat yang Rusuh
The Wrong Girls, film komedi stoner yang ditulis dan disutradarai oleh Dylan Meyer dalam debut penyutradaraannya, dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 14 Agustus 2026 oleh Neon. Film berdurasi sekitar 99 menit ini dibintangi Kristen Stewart sebagai Frankie dan Alia Shawkat sebagai Molly, dua sahabat kodependen yang tinggal di Los Angeles.
Mereka menjalani kehidupan dari gaji ke gaji sambil sering mengonsumsi ganja. Frankie bekerja sebagai pengemudi pengiriman setelah drop out dari Stanford, sedangkan Molly memiliki pekerjaan lepas terkait spreadsheet dan bercita-cita menjadi chef. Hubungan mereka diganggu oleh rencana Molly untuk pindah bersama pacarnya, Josh (Zack Fox), yang menambah ketegangan emosional di antara keduanya.
Sensasi Komedi Stoner Modern yang Sangat Unik

Alur cerita berpusat pada kasus salah identitas. Frankie secara keliru diberi sebuah koper berisi zat psikedelik eksperimental yang berasal dari cairan cumi-cumi raksasa. Zat tersebut dirancang untuk mereplikasi kemampuan telepati. Ketika keduanya mencoba zat itu, mereka memperoleh kemampuan telepati satu sama lain serta kemampuan berkomunikasi dengan kucing peliharaan mereka, Dio dan GG (disuarakan oleh Seth Rogen dan Kumail Nanjiani).
Situasi kemudian berubah menjadi kekacauan ketika mereka dikejar oleh sekelompok penjahat Denmark yang ingin memanfaatkan zat tersebut, termasuk ilmuwan gila yang diperankan Kate McKinnon. LaKeith Stanfield muncul sebagai tokoh yang dikenal sebagai Not Metal Head Dave, sementara cameo dari Tony Hale, Geena Davis, dan suara Cate Blanchett memperkaya ensemble.
Review Film The Wrong Girls

Bisa kubilang film ini punya nuansa konyol yang mengejutkan tapi manis, terutama berkat chemistry Stewart dan Shawkat yang terasa alami dan hangat saat menampilkan persahabatan tulus di tengah kekacauan. Meski humor khas stoner-nya cuma bikin tersenyum tipis dan eksekusi babak ketiganya agak kedodoran—ditambah candaan soal aksen si ilmuwan yang kurang dapet—film ini tetap menarik secara visual lewat desain set yang unik dan efek praktis yang niat.
Overall, The Wrong Girls berhasil sebagai komedi buddy yang ringan dan absurd, memadukan elemen stoner klasik dengan sentuhan supernatural. Film ini tidak berusaha menjadi karya intelektual mendalam, melainkan menawarkan pelarian yang menyenangkan melalui dinamika persahabatan dan kekacauan yang disengaja. Skor musik oleh Ty Segall mendukung suasana santai sekaligus kacau. Buat kamu yang menyukai genre Harold and Kumar atau Romy and Michele’s High School Reunion dengan tambahan elemen telepati, film ini layak ditonton.
Film ini dirilis secara digital (premium video on demand) mulai 1 September 2026 di berbagai platform, termasuk Apple TV Store, Amazon Video, dan Fandango at Home. Di wilayah Indonesia, film tersedia untuk disewa atau dibeli melalui Apple TV, sesuai data ketersediaan regional yang mencakup Indonesia. Saat ini, penonton di Indonesia dapat mengaksesnya melalui layanan sewa atau pembelian di Apple TV.
Salah satu adegan paling dramatis terjadi ketika Frankie dan Molly, yang sudah terhubung secara telepati, menghadapi kejaran para penjahat Denmark di tengah kekacauan Los Angeles. Ketegangan meningkat saat mereka menyadari konsekuensi penuh dari kemampuan baru mereka, termasuk risiko zat tersebut disalahgunakan untuk tujuan yang lebih besar.
Momen ini diperkuat oleh konflik internal Molly mengenai masa depan persahabatan mereka dan kemungkinan berpisah, menciptakan lapisan emosional di balik aksi yang kacau. Adegan tersebut menyeimbangkan humor dengan rasa keterdesakan yang nyata.
Adegan yang paling kuingat saat nonton filmnya adalah momen pertama kali keduanya mengalami efek zat tersebut dan mulai berkomunikasi telepati, termasuk mendengar pikiran kucing peliharaan mereka yang sinis dan penuh keluhan. Interaksi dengan Dio dan GG, yang disuarakan dengan sempurna oleh Rogen dan Nanjiani, menghasilkan tawa spontan karena sifat kucing yang judes dan tidak filter.
Adegan ini, digabungkan dengan penggunaan bong-o-tron dan imaginasinya yang liar, menjadi simbol keakraban mereka yang unik dan sulit dilupakan. Film ini, meskipun tidak sempurna, meninggalkan kesan hangat tentang kekuatan persahabatan di tengah absuritas kehidupan. Rating pribadi: 7/10.