Ulasan

Ulasan Film Toko Perlengkapan Mayat: Kisah Tragis Keluarga Tumbal Penglaris

Ulasan Film Toko Perlengkapan Mayat: Kisah Tragis Keluarga Tumbal Penglaris
Poster film Toko Perlengkapan Mayat (instagram/film_tokoperlengkapanmayat)

Film horor thriller Indonesia Toko Perlengkapan Mayat resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 6 Agustus 2026. Diproduksi oleh Young Creative Entertainment dan Affor Entertainment, film berdurasi 79 menit ini digarap oleh sutradara Surya Darmawan yang sekaligus menulis naskahnya. Klasifikasi usia dari Lembaga Sensor Film adalah 21 tahun ke atas karena mengandung unsur kekerasan, darah, serta kengerian yang intens. Latar pengambilan gambar di Bukit Kasepekang, Desa Majannang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memberikan nuansa lokal yang kental dan mendukung suasana mencekam.

Sensasi Horor Bertema Pesugihan yang Mencekam

Salah satu adegan di film Toko Perlengkapan Mayat (Instagram/film_tokoperlengkapanmayat)
Salah satu adegan di film Toko Perlengkapan Mayat (Instagram/film_tokoperlengkapanmayat)

Cerita berpusat pada Daeng Sarro (diperankan Armhada Sijaya), pemilik toko perlengkapan mayat warisan keluarga yang terancam bangkrut akibat tekanan ekonomi dan persaingan usaha. Dalam upaya mempertahankan bisnisnya, ia nekat melakukan ritual pesugihan untuk mendapatkan pelaris jualan. Ritual tersebut menuntut tumbal berupa potongan tubuh. Awalnya usaha tampak berhasil dan toko mulai ramai. Namun, ikatan gaib yang terbentuk justru menjadi malapetaka yang mengincar keturunan Daeng Sarro sendiri. Setelah istrinya meninggal, ia mengundang anak dan cucunya untuk menginap di rumah pelosok desa. Ketika sang anak harus kembali ke kota karena urusan mendesak, cucu-cucunya tinggal bersama kakeknya, dan peristiwa misterius mulai menghantui mereka hari demi hari.

Ulasan Film Toko Perlengkapan Mayat

Salah satu adegan di film Toko Perlengkapan Mayat (Instagram/film_tokoperlengkapanmayat)
Salah satu adegan di film Toko Perlengkapan Mayat (Instagram/film_tokoperlengkapanmayat)

Film ini menonjolkan tema pesugihan, ritual tumbal, dan kutukan keluarga yang sangat dekat dengan kepercayaan lokal masyarakat. Pendekatan ini membuat horor terasa lebih realistis dan tidak semata-mata mengandalkan jump scare. Latar Makassar serta penggunaan aktor lokal, termasuk Dwiaffor, Ivana Meylanda Saragih, Bambang, A. Noufah Patadjangi, Baba Ong, Amir Desar, Muh Arif Budiman, dan Siti Sahrani, memperkuat kesan autentik. Atmosfer gelap, visual mencekam, serta desain suara yang intens berhasil membangun ketegangan secara konsisten sepanjang 79 menit.

Dari segi penyutradaraan, Surya Darmawan berhasil menyajikan kisah yang ringkas tapi padat. Fokus pada konsekuensi ambisi dan keputusan yang salah memberikan lapisan moral di balik teror. Film ini bukan sekadar cerita tentang toko jenazah, melainkan peringatan tentang bagaimana satu pilihan berbahaya dapat menghantui generasi berikutnya. Elemen ritual dan potongan tubuh digambarkan dengan cukup berani, sesuai dengan klasifikasi 21+, sehingga penonton yang sensitif terhadap kekerasan visual disarankan berhati-hati.

Salah satu adegan yang paling berhasil menciptakan rasa merinding buatku adalah rangkaian ritual tumbal potongan tubuh yang dilakukan Daeng Sarro. Suasana gelap, detail visual yang mengerikan, serta iringan suara yang menekan menciptakan ketegangan yang intens. Adegan-adegan ketika teror mulai menyerang cucu-cucu di rumah pelosok juga efektif. Kejadian misterius yang muncul secara perlahan—bayangan, suara-suara aneh, dan penampakan yang terkait dengan ikatan gaib—membangun rasa tidak nyaman yang berkelanjutan buatku. Penggunaan lokasi di Bukit Kasepekang yang terpencil memperkuat isolasi dan kerentanan para karakter, sehingga setiap peristiwa terasa lebih mengancam.

Setelah menonton, adegan yang paling membekas buatku adalah saat konsekuensi ritual mulai menimpa keluarga. Momen ketika kesuksesan bisnis yang semula tampak menguntungkan berubah menjadi kutukan yang mengincar keturunan Daeng Sarro meninggalkan kesan mendalam. Visual dan suasana di dalam toko perlengkapan mayat serta rumah desa yang sunyi, digabungkan dengan teror yang menyasar anak-anak, menciptakan bayangan yang sulit dilupakan. Tema warisan dosa dan ambisi yang membabi buta membuat penonton merenungkan pesan moral jauh setelah credits berakhir.

Secara keseluruhan, Toko Perlengkapan Mayat merupakan film horor lokal yang solid dalam membangun atmosfer dan memanfaatkan unsur kepercayaan tradisional. Durasi yang relatif singkat membuat alur tetap fokus tanpa bertele-tele. Meskipun mengandalkan elemen yang sudah familiar dalam horor Indonesia, pendekatan lokal dan intensitas visual menjadikannya tontonan yang layak dipertimbangkan bagi penggemar genre ini. Film ini cocok bagi penonton yang mencari horor dengan nuansa ritual dan kutukan keluarga, serta siap menghadapi adegan-adegan yang gelap dan berdarah.

Dengan rilis pada 6 Agustus 2026, film ini menambah deretan karya horor Indonesia yang mengeksplorasi sisi gelap ambisi manusia. Bagi yang ingin merasakan ketegangan langsung di layar lebar, Toko Perlengkapan Mayat menawarkan pengalaman mencekam yang berakar kuat pada budaya lokal. Rating pribadi: 7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda