Ulasan
Jurnal Jo: Sulitnya Jadi Remaja, Kebelet Dewasa tapi Daya Tak Mampu!
Woiilah, lama nggak ketemu tulisan Ken Terate! Kalau pernah membaca novel-novel teenlit Indonesia pada era 2010-an, nama Ken Terate mungkin terasa seperti menemukan kembali buku lama yang terselip di rak. Ada sesuatu yang khas dari tulisannya. Ringan, hiperbolis, jenaka, tetapi kadang juga terasa sedikit perih. Istilahnya, asik, tetapi rada perih-perih gurih. Salah satu novel yang paling mudah dikenali dari gaya tersebut adalah Jurnal Jo.
Terbit pada 2008 melalui PT Gramedia Pustaka Utama, Jurnal Jo merupakan novel remaja setebal 240 halaman yang mengikuti kisah Jo Wilisgiri, seorang gadis berusia 12 tahun yang baru saja meninggalkan bangku SD dan harus menghadapi dunia baru bernama SMP.
Sinopsis Novel
Dan ternyata, menjadi remaja itu tidak gampang.
Jo bahkan punya semacam “peraturan menjadi remaja”. Tidak boleh memakai celana pendek, harus punya pakaian dan aksesori yang keren, wajib memakai deodoran, mulai memperhatikan pakaian dalam sesuai perkembangan tubuh, punya geng yang keren, dan yang paling menyebalkan sih katanya harus punya pacar supaya diakui sebagai remaja.
Bagi Jo, semua aturan tidak tertulis tersebut terasa absurd. Ia masih merindukan kehidupan SD yang lebih sederhana. Namun, memasuki SMP membuat semuanya berubah. Ia mulai kehilangan sahabat baiknya, Sally, yang perlahan berubah karena ingin diterima dalam kelompok pergaulan yang dianggap keren. Sally kemudian bergabung dengan geng berisi Nadine, Mei, dan Tiurma, anak-anak yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi.
Masalahnya, perubahan Sally bukan sekadar soal gaya berpakaian atau teman bermain. Persahabatan mereka ikut terkena dampaknya. Jo sendiri harus bersekolah di tempat ayahnya bekerja sebagai guru bahasa Jawa. Bagi seorang anak SMP yang sedang berusaha menemukan identitas diri, sekolah yang sama dengan ayah tentu bukan situasi yang paling menyenangkan. Rasanya seperti membawa orang tua masuk ke wilayah yang seharusnya menjadi ruang pribadi.
Di tengah kegelisahan tersebut, Jo mencoba mencari tempat untuk dirinya sendiri. Ia bergabung dengan Klub Sastra, sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang awalnya dipilih bukan karena ambisi besar, tetapi lebih karena tidak punya pilihan lain.
Justru dari sinilah cerita berkembang. Jo bertemu Andre, cowok yang membuat masa SMP-nya menjadi semakin rumit. Ia juga mengenal Rajiv, seorang cowok keturunan India yang baik hati melalui kegiatan karang taruna di lingkungan rumahnya.
Tetapi Jurnal Jo tidak berhenti pada kisah “siapa suka siapa”. Justru persoalan persahabatan menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Sally yang kehidupannya mulai bermasalah perlahan menyeret Jo ke dalam berbagai persoalan. Jo harus belajar bahwa menjadi sahabat seseorang bukan berarti selalu membenarkan semua keputusan sahabat tersebut.
Kelebihan dan Kekurangan
Di sinilah novel ini terasa berbeda dari sebagian teenlit yang menjadikan percintaan sebagai pusat cerita. Ken Terate membawa pembaca masuk ke dunia coming-of-age: fase ketika seseorang mulai menyadari bahwa dirinya berubah, tubuhnya berubah, teman-temannya berubah, dan hubungan dengan orang lain tidak lagi sesederhana ketika masih anak-anak.
Menariknya, semua itu disampaikan melalui sudut pandang pertama Jo. Cara berpikir Jo yang polos, spontan, kadang lebay, dan suka memberikan komentar terhadap segala sesuatu membuat novel ini terasa seperti benar-benar membaca buku harian seorang anak SMP.
Gaya bahasa Ken Terate juga menjadi kekuatan tersendiri. Hiperbola yang menjadi cirinya membuat berbagai persoalan sederhana terasa dramatis dengan cara yang menghibur. Namun, di balik kelucuannya, ada banyak pengamatan yang sebenarnya cukup tajam tentang kehidupan remaja.
Apalagi bagi pembaca yang pernah melewati masa SMP pada era ketika blog sedang menjadi tren. Novel ini juga terasa menarik karena memasukkan aspek teknologi dan kebiasaan anak muda pada zamannya. Blog, internet, pergaulan sekolah, hingga pencarian identitas terasa seperti potret kecil kehidupan generasi tersebut. Mungkin sekarang beberapa detail teknologinya sudah terasa vintage. Tetapi justru di situlah daya tarik nostalgia Jurnal Jo.
Rekomendasi Pembaca
Novel ini mengingatkan bahwa masa remaja tidak selalu harus diisi dengan kisah cinta yang dramatis. Ada persoalan lain yang sama pentingnya. Kehilangan sahabat, ingin diterima, merasa berbeda, berusaha memahami tubuh sendiri, menghadapi orang tua, dan mencari tahu sebenarnya kita ingin menjadi siapa.
Jo memang masih 12 tahun. Tetapi keresahannya terasa universal. Karena hampir semua orang pernah berada di fase ketika dunia terasa membingungkan dan kita berharap ada buku petunjuk untuk menjadi dewasa. Sayangnya, buku petunjuk itu tidak pernah ada.
Yang ada hanyalah pengalaman, kesalahan, sahabat yang datang dan pergi, dan mungkin sebuah “jurnal” untuk mencatat semuanya. Dan mungkin itulah yang membuat Jurnal Jo tetap menyenangkan dibaca. Ia menemani kita mengingat betapa kacaunya dulu kita ketika sedang belajar menjadi dewasa.
Identitas Buku
- Judul: Jurnal Jo
- Penulis: Ken Terate
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Kota Terbit: Jakarta
- Tahun Terbit: 2008
- Tebal: 240 halaman
- ISBN: 9786020306292