Ulasan

Review Serial Tires Season 2: Ketika Kegagalan Bisnis Dihadapi dengan Humor

Review Serial Tires Season 2: Ketika Kegagalan Bisnis Dihadapi dengan Humor
Salah satu adegan di serial Tires Season 2 (IMDb)

Tires Season 2 merupakan kelanjutan serial komedi tempat kerja Netflix yang berlatar bengkel otomotif Valley Forge Automotive Center. Serial ini diciptakan oleh Shane Gillis, Steve Gerben, dan John McKeever. Musim kedua dirilis secara global pada 5 Juni 2025 dengan 12 episode, dua kali lebih panjang dibandingkan musim pertama.

Di wilayah Indonesia, Tires Season 2 telah tersedia untuk streaming di Netflix sejak tanggal rilis tersebut dan tetap dapat ditonton hingga saat ini.

Drama Tempat Kerja yang Canggung dan Menggelitik

Salah satu adegan di serial Tires Season 2 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Tires Season 2 (IMDb)

Setelah keberhasilan ide pemasaran ban termurah di musim sebelumnya, Will (Steve Gerben) dan sepupunya Shane (Shane Gillis) berusaha mengembangkan bisnis sekaligus kehidupan pribadi mereka. Will yang cemas dan ambisius ingin memperluas jangkauan bengkel, sementara Shane tetap menjadi sumber kekacauan dengan sikap sembrono dan humor kasarnya. Musim ini memperkenalkan Phil (Thomas Haden Church), ayah Shane yang kaya namun imatur. Kedatangan Phil mengubah struktur kepemilikan bengkel dan memicu konflik keluarga serta dinamika kerja yang lebih kompleks.

Dukungan pemain kembali seperti Cal (Chris O’Connor), Kilah (Kilah Fox), dan Dave (Stavros Halkias) diperkuat oleh penampilan tamu Vince Vaughn, Jon Lovitz, dan Veronika Slowikowska sebagai Kelly, ketertarikan romantis Shane. Cerita berkembang dari sekadar sketsa komedi menjadi narasi yang lebih terstruktur, mencakup ambisi bisnis, hubungan keluarga yang retak, dan upaya karakter untuk tumbuh meski sering gagal.

Review Serial Tires Season 2

Salah satu adegan di serial Tires Season 2 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Tires Season 2 (IMDb)

Kalau menurutku sih, musim kedua ini terasa lebih matang. Humor tetap kasar, vulgar, dan tidak peduli dengan sensitivitas politik—ciri khas yang membedakannya dari komedi tempat kerja modern yang lebih aman. Adegan-adegan seperti pelatihan HR yang kacau, inspeksi kesehatan yang memalukan, serta interaksi pasif-agresif antara Shane dan Phil menghasilkan tawa yang tajam sekaligus autentik.

Thomas Haden Church menjadi penambahan paling menonjol. Ia menghadirkan nuansa baru melalui karakter Phil yang ingin memperbaiki hubungan dengan putranya sambil membawa gaya bisnis yang pragmatis dan sering kali merugikan. Kimia antara Gillis dan Gerben semakin kuat; mereka bukan sekadar lawan tanding, melainkan dua sosok yang saling melengkapi dalam kekacauan sehari-hari.

Kelemahannya tetap ada ya, Sobat Yoursay. Beberapa lelucon terasa berlebihan dan aku yakin tidak semua penonton akan menerima gaya humor yang sangat maskulin serta vulgar. Karakter perempuan masih kurang dikembangkan dibandingkan rekan laki-lakinya. Akan tetapi, bagi penggemar komedi biru-kerah yang tidak berpura-pura, musim ini berhasil meningkatkan kualitas tanpa kehilangan identitasnya.

Salah satu momen paling dramatis terjadi ketika Phil mengambil alih kepemilikan Valley Forge dari saudara laki-lakinya, Jon. Shane yang selama ini menjaga jarak emosional dengan ayahnya harus menghadapi kenyataan bahwa sang ayah kini menjadi bosnya. Ketegangan memuncak dalam pertemuan-pertemuan yang diwarnai rasa tidak percaya, rasa bersalah, dan ketakutan akan masa depan pekerjaan seluruh karyawan. Konflik ini mencapai puncaknya saat bisnis mengalami tekanan finansial dan ancaman penjualan bengkel mengintai, memaksa karakter-karakter utama mempertanyakan loyalitas serta identitas mereka di tempat kerja.

Adegan lain yang intens melibatkan hubungan Shane dengan Kelly. Kecemburuan, kesalahpahaman, dan ketidakdewasaan Shane menciptakan benturan emosional yang terasa nyata, terutama ketika ia menyaksikan akibat dari sikapnya sendiri. Momen-momen ini memberikan bobot dramatika di tengah humor kasar yang mendominasi.

Di balik lelucon kasarnya, musim kedua menawarkan momen-momen yang mengejutkan karena kelembutannya. Salah satu yang paling menyentuh adalah perkembangan hubungan Shane dan Phil. Meski penuh penolakan dan sarkasme, terdapat upaya tulus dari keduanya untuk saling memahami. Phil yang biasanya cepat menjual bisnis bermasalah akhirnya memberikan jaminan kepada Will dan Shane bahwa ia tidak akan melepaskan Valley Forge, sekalipun situasi memburuk. Janji tersebut membawa nuansa kehangatan yang jarang muncul di serial sejenis.

Momen lain yang meninggalkan kesan adalah loyalitas antarkarakter di akhir musim. Ketika tekanan bisnis memuncak, Will dan Shane menunjukkan sisi peduli mereka terhadap rekan kerja, termasuk Cal. Tindakan kecil seperti hadiah atau dukungan diam-diam mengingatkanku bahwa di balik kekacauan, ada ikatan kemanusiaan yang sederhana namun bermakna. Tema musik pembuka yang lembut juga memperkuat kesan emosional tersebut, seolah menyeimbangkan humor kasar dengan rasa empati.

Tires Season 2 berhasil memperbaiki kekurangan musim sebelumnya dengan plot yang lebih padat, pengembangan karakter yang lebih dalam, dan penambahan pemain yang memikat. Serial ini tetap setia pada gaya komedi yang edgy dan tidak berkompromi, sekaligus menawarkan lapisan emosional yang membuatnya lebih dari sekadar tontonan lelucon. Buat kamu yang menyukai The Office versi lebih kasar atau It’s Always Sunny in Philadelphia dengan sentuhan blue-collar, musim ini layak ditonton.

Dengan 12 episode yang dirilis sekaligus, Tires Season 2 dapat dinikmati secara binge-watching di Netflix Indonesia kapan saja. Serial ini membuktikan bahwa komedi tempat kerja masih memiliki ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan jiwa aslinya. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda