Ulasan

Masjid Al-Alawi Banjarmlati, Sokoguru Penjaga Jejak Arsitektur Jawa Kediri

Masjid Al-Alawi Banjarmlati, Sokoguru Penjaga Jejak Arsitektur Jawa Kediri
Masjid Al-Alawi Tetap Mempertahankan Empat Tiang Utama dan Delapan Tiang Penyangga untuk Menjadi Bagian Penting dari Struktur Bangunan Lama. (Dok. Pribadi / W.S Nurbaiti)

Tidak jauh dari Masjid Agung Kota Kediri tepat di Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, terdapat sebuah masjid tua yang masih mempertahankan wajah arsitektur Jawa. Masjid Al-Alawi namanya, di tempat ini bukan hanya menjadi tempat ibadah warga, tetapi juga menyimpan bentuk bangunan lama yang masih dapat dilihat hingga sekarang.

Sebab di tengah perkembangan bangunan modern, Masjid Al-Alawi tetap mempertahankan bagian kunonya. Bentuk limasan yang menyerupai pendopo menjadi salah satu ciri paling menonjol. Empat tiang utama dan delapan tiang penyangga masih menjadi bagian penting dari struktur bangunan lama.

Konon Masjid Al-Alawi diperkirakan telah berdiri sejak akhir abad XVII hingga awal abad XVIII. Masjid tersebut dikaitkan dengan Kiai Ambiya, seorang ulama yang disebut datang ke Kediri melalui Sungai Brantas. Di kawasan Banjarmlati yang saat itu masih berupa hutan, Kiai Ambiya kemudian menetap dan mendirikan masjid serta pondok.

Sokoguru Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid Al-Alwi Banjarmlati Kota Kediri di pertahankan dengan pintu yang memiliki ukiran Jawa. (Foto. Dok Pribadi / W.S Nurbaiti)
Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid Al-Alwi Banjarmlati Kota Kediri di pertahankan dengan pintu yang memiliki ukiran Jawa. (Foto. Dok Pribadi / W.S Nurbaiti)

Melihat dari sisi arsitektur, bentuk Masjid Al-Alawi masih menjaga karakter bangunan tradisional Jawa. Atap limasan membuat bangunan masjid memiliki kesan seperti pendopo, bentuk yang cukup lekat dengan arsitektur bangunan Jawa pada masa lalu.

Struktur utama bangunan ditopang empat tiang utama sebagai sokoguru yang tetap di jaga. Di sekelilingnya terdapat delapan tiang penyangga yang membantu menopang bagian bangunan. Susunan tiang tersebut sekaligus menciptakan ruang terbuka yang menjadi karakter khas bangunan tradisional.

Salah satu bagian yang menarik terdapat pada tiang utama di bagian tengah. Pada tiang tersebut terdapat ukiran berbentuk rumah lebah. Ukiran lama tersebut masih dipertahankan dan menjadi salah satu detail yang membedakan Masjid Al-Alawi dengan bangunan masjid modern.

Kabarnya keberadaan ukiran bukan sekadar hiasan. Bagi sebuah bangunan tua, detail semacam itu menjadi bagian dari identitas arsitektur yang memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lalu memberi sentuhan estetika pada tempat ibadah.

Konstruksi Berubah, Wajah Lama Tak Punah

Konstruksi Baru di Sekitar Masjid Al-Alwi yang tetap Menyatu mengelilingi Bangunan utama Masjid. (Foto. Dok. Pribadi / W.S Nurbaiti)
Konstruksi Baru di Sekitar Masjid Al-Alwi yang tetap Menyatu mengelilingi Bangunan utama Masjid. (Foto. Dok. Pribadi / W.S Nurbaiti)

Masjid Al-Alawi pada masa awal berdiri menggunakan material kayu. Lokasinya dahulu berada di tepian Sungai Brantas. Kawasan yang sebelumnya menjadi lingkungan sekitar masjid kini telah mengalami perubahan dan sebagian lahannya menjadi kebun.

Perubahan lingkungan juga diikuti perubahan konstruksi bangunan. Masjid yang dahulu didominasi material kayu kemudian berkembang menjadi bangunan beton. Meski demikian, bagian lama yang dianggap memiliki nilai sejarah tetap dipertahankan.

Proses pembangunan kembali juga memiliki cerita tersendiri. Bangunan masjid disebut dikerjakan oleh para santri dari pondok yang didirikan Kiai Ambiya. Perubahan tersebut membuat Masjid Al-Alawi dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan jamaah tanpa sepenuhnya menghilangkan karakter bangunan lama.

Hasilnya, wajah Masjid Al-Alawi kini memperlihatkan pertemuan antara bangunan lama dan konstruksi yang lebih baru. Bagian beton hadir untuk menunjang kebutuhan masa kini, sementara bentuk limasan, tiang, serta beberapa elemen kayu tetap menjadi pengingat terhadap bentuk awal masjid.

Bedug dan Kentongan yang Masih Dipertahankan

Sebuah bedug dan dua kentongan masih tersimpan di serambi Masjid Al-Alwi Banjarmlati, Kota Kediri. (Foto. Dok. Pribadi / W.S Nurbaiti)
Sebuah bedug dan dua kentongan masih tersimpan di serambi Masjid Al-Alwi Banjarmlati, Kota Kediri. (Foto. Dok. Pribadi / W.S Nurbaiti)

Jejak arsitektur lama juga dapat ditemukan di bagian serambi. Sebuah bedug dan kentongan berukuran cukup besar masih tersimpan di sana. Keduanya terbuat dari kayu tua dan bukan sekadar menjadi benda pajangan. Hingga sekarang, bedug dan kentongan masih digunakan jamaah sebelum azan dikumandangkan.

Keberadaan dua benda tersebut melengkapi suasana masjid yang masih mempertahankan tradisi lama. Di tengah penggunaan pengeras suara sebagai sarana utama penyampaian azan, bedug dan kentongan tetap memiliki tempat sebagai bagian dari kebiasaan jamaah.

Sepengetahuan penulis Masjid Al-Alawi juga memiliki hubungan sejarah dengan perkembangan pendidikan Islam di Kediri. Kiai Ambiya menjadi bagian dari garis keturunan ulama yang kemudian berlanjut kepada Kiai Sholeh. Dari keturunan tersebut lahir hubungan keluarga dengan KH Abdul Karim atau Mbah Kiai Manab, pendiri Pesantren Lirboyo.

Namun, jauh sebelum hubungan tersebut dikenal luas, Masjid Al-Alawi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjarmlati. Usianya yang panjang membuat bangunan tersebut melewati berbagai perubahan zaman. Kini, kekuatan Masjid Al-Alawi bukan hanya terletak pada usianya. Atap limasan, tiang utama, ukiran rumah lebah, bedug, dan kentongan menjadi bagian yang membuat masjid tersebut memiliki karakter berbeda. Tentu dengan peninggalan itu membuat cerita masyhur melalui catatan sejarah dalam bentuk bangunan yang terus dirawat oleh generasi setelahnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda