Ulasan
Masjid At Taqwa Pare, Lebih Seabad Berdiri Menjaga Jejak Sejarah Kediri
Di tengah kawasan Kauman, Pare, Kabupaten Kediri, berdiri sebuah masjid yang telah melewati perjalanan panjang. Masjid At Taqwa di Jalan Muria Nomor 10 bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyimpan cerita tentang masa ketika kesadaran nasionalisme mulai tumbuh di kalangan masyarakat.
Tidak ada catatan pasti mengenai kapan Masjid At Taqwa pertama kali dibangun. Namun, dari berbagai cerita yang berkembang, usia masjid tersebut diperkirakan sudah lebih dari satu abad. Seiring bertambahnya usia, bangunannya tentu mengalami banyak perubahan.
Masjid yang dahulu hanya berbentuk persegi berukuran sekitar 5 x 5 meter kini telah diperluas dan dibuat bertingkat. Meski begitu, tidak semua bagian lama ikut hilang. Beberapa peninggalan justru masih dipertahankan dan menjadi penanda bagaimana bentuk masjid pada masa lalu.
Pernah Menjadi Markas Sarekat Islam

Masjid At Taqwa tidak hanya menyimpan cerita tentang perkembangan keagamaan masyarakat Pare. Kawasan masjid juga disebut pernah menjadi salah satu tempat yang berkaitan dengan pergerakan Sarekat Islam.
Konon, areal masjid pernah digunakan sebagai markas Sarekat Islam Pare. Organisasi tersebut menjadi bagian penting dalam tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan masyarakat pribumi pada masa penjajahan. Jejak sejarah juga masih bisa ditemukan tidak jauh dari bangunan utama masjid.
Di sisi barat atau bagian belakang masjid terdapat area pemakaman tua. Di kawasan pemakaman tersebut terdapat makam para pejuang kemerdekaan yang semakin memperkuat hubungan kawasan Masjid At Taqwa dengan perjalanan sejarah masyarakat Pare.
Berjalan di sekitar masjid juga terasa seperti menyusuri kawasan lama Pare. Rumah-rumah dan pertokoan dengan arsitektur kuno masih dapat ditemukan di sekitar lokasi.
Bangunan-bangunan tersebut menjadi gambaran bahwa kawasan Kauman dan sekitarnya pernah tumbuh sebagai salah satu bagian penting dari kehidupan masyarakat Pare pada masa lalu.
Empat Saka Guru dari Kayu Jati

Salah satu bagian yang masih dipertahankan hingga sekarang adalah empat pilar kayu jati yang berada di tengah bangunan utama. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai saka guru, istilah yang juga umum digunakan dalam arsitektur tradisional Jawa.
Keempat pilar tersebut dipercaya telah berusia sangat tua. Diperkirakan berasal dari rentang tahun 1850 hingga 1900-an. Pada bagian bawah pilar terdapat ukiran yang semakin memperkuat kesan tradisional bangunan.
Keberadaan empat saka guru tersebut bukan hanya mempercantik interior masjid. Pilar-pilar tersebut juga menjadi penanda ukuran masjid pada masa lalu. Jika dahulu jamaah beribadah dalam bangunan yang hanya sekitar 5 x 5 meter, sekarang ruang masjid sudah jauh lebih luas.
Perubahannya memang cukup besar. Namun, empat pilar kayu jati tersebut tetap berada di tempatnya, seperti menjadi penghubung antara Masjid At Taqwa masa lalu dengan bangunan yang berdiri sekarang.
Mihrab Lama Masih Dipertahankan

Selain saka guru, bagian mihrab juga menjadi salah satu peninggalan lama yang masih dipertahankan. Mihrab tersebut tidak ikut dihilangkan ketika masjid mengalami renovasi besar. Keberadaannya membuat jamaah masih bisa melihat sebagian kecil bentuk masjid dari masa sebelumnya.
Mempertahankan bagian lama di tengah bangunan yang sudah mengalami perubahan tentu bukan perkara sederhana. Namun, justru bagian-bagian kecil seperti pilar dan mihrab itulah yang membuat sebuah bangunan tua tetap memiliki identitas.
Sebab jika semuanya diganti, masjid tersebut mungkin masih berdiri di lokasi yang sama, tetapi cerita tentang bangunan lamanya bisa saja ikut menghilang. Selain sejarahnya, Masjid At Taqwa juga menarik dari sisi arsitektur. Bangunan masjid menerapkan konsep rumah joglo yang cukup kuat. Karakter tersebut paling mudah terlihat pada bagian atapnya.
Ada lima prisma segi empat yang menjadi bagian dari struktur atap. Satu bagian berukuran paling besar berada di tengah, sedangkan empat lainnya berada di setiap ujung bangunan. Konsep tersebut memberikan karakter Jawa yang cukup kuat pada bangunan masjid. Nuansa joglo juga semakin terasa melalui penggunaan ornamen kayu di bagian dalam.
Bukan Sekadar Masjid Tua di Pare

Empat pintu dan dua jendela yang berada di bagian depan masjid memiliki ukiran. Ornamen tersebut membuat suasana di dalam bangunan terasa lebih dekat dengan karakter rumah tradisional Jawa. Namun, bangunan tersebut tetap memperlihatkan identitasnya sebagai tempat ibadah umat Islam.
Di antara pilar-pilar masjid terdapat ornamen berbentuk siluet kubah. Bentuk tersebut menjadi cara menarik untuk mempertemukan karakter arsitektur tradisional Jawa dengan identitas sebuah masjid. Secara keseluruhan terdapat 14 pilar yang menopang bangunan tempat ibadah tersebut.
Perpaduan antara kayu, ukiran, atap bergaya joglo dan siluet kubah membuat Masjid At Taqwa memiliki karakter yang berbeda. Tidak terlalu banyak ornamen yang berlebihan, tetapi justru dari elemen-elemen sederhana tersebut terlihat bagaimana budaya lokal dan arsitektur Islam dapat berdampingan.
Di Masjid At Taqwa, masa lalu justru masih bisa ditemukan pada pilar kayu, ukiran, mihrab dan bentuk arsitekturnya. Mungkin itulah cara sebuah bangunan tua bertahan menghadapi zaman. Bukan dengan berhenti berubah, tetapi dengan tetap menyisakan bagian-bagian lama agar generasi berikutnya masih bisa melihat dari mana semuanya bermula.