Ulasan

Masjid Lawang Songo, Jejak Arsitektur Jawa yang Tetap Terjaga di Lirboyo

Masjid Lawang Songo, Jejak Arsitektur Jawa yang Tetap Terjaga di Lirboyo
Mihrab Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo tetap di pertahankan bentuk aslinya. (Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Di tengah ramainya aktivitas Pondok Pesantren Lirboyo, ada sebuah bangunan lama yang tetap terjaga dengan mempertahankan bentuk aslinya. Namanya Masjid Lawang Songo. Masjid tua di Kota Kediri ini sudah berdiri hampir satu abad dan sampai sekarang sejumlah bagian aslinya masih bisa ditemukan.

Jika sedang berada di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo, coba sempatkan melihat masjid yang berada di Jalan KH Abdul Karim, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini. Letaknya cukup unik karena berada di tengah-tengah kawasan pondok, di antara rumah atau ndalem para pengasuh pesantren.

Masjid Lawang Songo bukan sekadar tempat santri menunaikan ibadah. Bangunan ini juga menjadi salah satu saksi panjang perjalanan Pondok Pesantren Lirboyo. Usianya yang sudah mendekati satu abad membuat masjid ini menyimpan banyak cerita yang masih bisa dilihat melalui bentuk bangunannya.

Sesuai namanya, Masjid Lawang Songo memiliki sembilan pintu. Tiga pintu berada di sisi kiri, tiga di sisi kanan, dan tiga lainnya berada di bagian depan masjid.

Jumlah pintu tersebut bukan sekadar kebetulan. Konon, gagasan mengenai sembilan pintu itu diusulkan oleh Kyai Haji Mohammad Ma'roef. Dari sinilah nama Lawang Songo kemudian begitu melekat pada masjid yang berada di tengah kawasan pesantren ini.

Menariknya, filosofi nama tersebut masih bisa langsung dilihat ketika kita berdiri di depan masjid. Tidak perlu membaca papan nama atau bertanya kepada orang sekitar. Cukup menghitung pintunya, kalian sudah bisa mengetahui kenapa masjid ini disebut Lawang Songo.

Cerita Ubin Merah dan Empat Tiang Kayu

Tiang Kayu dan Ubin Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo menyimpan cerita tersendiri. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
Tiang Kayu dan Ubin Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo menyimpan cerita tersendiri. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Masjid Lawang Songo ternyata memiliki usia yang cukup panjang. Kalau mengacu pada waktu peresmiannya, masjid ini diresmikan pada 15 Rabiul Awwal 1347 Hijriah atau sekitar 1928 dalam kalender Masehi.

Namun, sejarahnya ternyata lebih tua dari tahun peresmian tersebut. Masjid ini sejatinya sudah ada sejak 1913. Pada masa awal pembangunannya, bentuk masjid masih sangat sederhana dengan bahan utama berupa kayu.

Seiring berjalannya waktu, bangunan kemudian mengalami perbaikan. Meski begitu, sejumlah bagian lama masih dipertahankan hingga sekarang. Jadi, jangan membayangkan masjid tua yang sudah kehilangan seluruh bentuk aslinya karena dimakan usia.

Kalau diperhatikan lebih detail, nuansa bangunan lawas masih terasa cukup kuat. Dinding masjid memang sudah menggunakan tembok, tetapi beberapa bagian kayu masih dipertahankan.

Lantainya menggunakan ubin berwarna merah tua. Sementara di bagian tengah terdapat empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Pintu-pintu yang berjumlah sembilan itu juga masih menggunakan material kayu.

Yang menarik, bagian-bagian sederhana seperti ubin, pintu, jendela, hingga bentuk utama masjid masih dipertahankan. Tidak banyak ornamen berlebihan yang membuat bangunan kehilangan karakter lamanya.

Hampir Seabad, Bangunan Asli Masih Dijaga

Pintu yang berjumlah sembilan di Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo tetap dipertahankan. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
Pintu yang berjumlah sembilan di Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo tetap dipertahankan. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Namanya juga bangunan yang sudah berusia puluhan tahun, tentu ada bagian yang harus diperbaiki. Pihak pondok tetap melakukan perawatan agar Masjid Lawang Songo bisa digunakan dengan baik.

Salah satunya adalah penggantian genting masjid utama yang kondisinya sudah rusak. Penggantian tersebut kabarnya dilakukan sekitar 2008. Perawatan semacam ini menjadi penting agar bangunan lama tetap bisa bertahan tanpa harus mengorbankan bentuk aslinya.

Jadi, mempertahankan bangunan lama bukan berarti membiarkannya begitu saja. Ada bagian yang memang harus diperbarui, tetapi bagian yang masih bisa dipertahankan tetap dijaga. Hasilnya, wajah lama Masjid Lawang Songo masih terasa sampai sekarang.

Jumlah santri yang terus meningkat ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan bangunan masjid. Masjid utama akhirnya tidak lagi mampu menampung seluruh jamaah. Oleh karena itu, pada 1984 dibangun serambi pertama. Para santri kemudian menyebutnya sebagai Serambi Kuning karena lantainya menggunakan ubin berwarna kuning.

Belum selesai sampai di situ. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1994, kembali dibangun serambi baru. Alasannya masih sama, jumlah santri yang terus bertambah membuat ruang ibadah membutuhkan tambahan tempat.

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Timur Tengah

Tiang Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo dengan arsitektur Jawa berpadu dengan gaya Timur Tengah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
Tiang Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo dengan arsitektur Jawa berpadu dengan gaya Timur Tengah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Selain usianya, arsitektur Masjid Lawang Songo juga menarik untuk diperhatikan. Bangunan masjid ini disebut memadukan konsep Jawa dan Timur Tengah.

Pengaruh Jawa bisa dilihat dari bentuk atap joglo dan atap yang bersap. Sementara sentuhan Timur Tengah terlihat pada bagian mihrab atau tempat imam memimpin shalat. Bagian tersebut memiliki gawangan berbentuk lengkung yang memberikan karakter berbeda pada bangunan.

Konon, desain masjid ini juga disebut meniru desain dari negara-negara Timur Tengah. Namun, ketika melihat keseluruhan bangunan, nuansa Jawa kuno tetap terasa cukup kuat. Satu hal yang menurut saya justru membuat Masjid Lawang Songo menarik adalah kesederhanaannya.

Masjid ini tidak dipenuhi ornamen rumit. Pintu dan jendelanya tidak memiliki banyak ukiran. Bagian dalamnya juga tidak terlalu ramai dengan karya seni kaligrafi seperti yang sering kita temukan pada masjid-masjid masa kini.

Namun, kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Bangunan terlihat apa adanya dan tidak kehilangan karakter sebagai masjid tua. Setiap bagian seperti pintu kayu, jendela, ubin, hingga empat tiang utama seolah menjadi potongan kecil dari perjalanan panjang masjid ini.

Masjid Bersejarah di Kediri, Rumah Para Santri

Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo jadi tempat santri untuk menghafal nadhom. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
Masjid Lawang Songo di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo jadi tempat santri untuk menghafal nadhom. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Masjid Lawang Songo akhirnya bukan sekadar bangunan berusia hampir satu abad yang kebetulan masih berdiri di kawasan Lirboyo. Sampai sekarang, masjid bersejarah di Kediri ini tetap menjadi bagian penting dari aktivitas pesantren Lirboyo.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin banyaknya bangunan baru, masjid ini masih mempertahankan wajah lamanya. Sembilan pintu tetap menjadi ciri khas, ubin lama masih menghiasi lantai, sementara kayu-kayu tua masih menjadi bagian dari bangunan.

Kalau kalian sedang berkunjung ke kawasan Pondok Pesantren Lirboyo, Masjid Lawang Songo rasanya layak untuk dilihat lebih dekat. Sebab, di balik bangunannya yang terlihat sederhana, ada perjalanan panjang sejak ratusan tahun yang masih tersimpan di antara kayu, ubin, pintu dan dinding masjidnya.

Bagi saya tempat ini memang tidak penuh ornamen dan tidak dibuat dengan kemewahan berlebihan. Namun justru karena itulah, Masjid Lawang Songo punya wajah sendiri. Sederhana bentuknya, namun panjang ceritanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda