Ulasan

Drunken Mama: Kegilaan Sehari-hari Pidi Baiq Berubah Menjadi Renungan

Drunken Mama: Kegilaan Sehari-hari Pidi Baiq Berubah Menjadi Renungan
Buku Drunken Mama karya Pidi Baiq (Goodreads)

Usai membaca seri Dilan dan Drunken Molen, Drunken Mama menjadi buku kelima karya Pidi Baiq yang saya baca. Buku Drunken Mama ini saya membacanya melalui iPusnas. Jadi, kali ini saya ingin sekaligus mengucapkan terima kasih kepada iPusnas.

Sebelum membaca Drunken Mama, saya sudah punya bayangan tentang seperti apa tulisan Pidi Baiq. Cerita sehari-hari, kelakuan yang tidak biasa, dialog yang kadang bikin geleng-geleng kepala, humor absurd, lalu tiba-tiba ditutup dengan sebuah renungan. Pola semacam itu sudah saya kenal dari Drunken Molen. Maka dari itu, ketika membuka Drunken Mama, saya sebenarnya sudah siap untuk kembali dibuat bingung sekaligus tertawa. Dan ternyata benar. Pidi tetaplah Pidi.

Drunken Mama merupakan kumpulan cerita yang terasa seperti catatan harian seorang manusia yang punya cara pandang sangat berbeda terhadap kehidupan. Terdapat 17 cerita dengan beragam kejadian yang sebenarnya sederhana, tetapi di tangan Pidi Baiq bisa berubah menjadi sesuatu yang aneh, lucu, absurd, bahkan kadang membuat kita bertanya, “Ini benar-benar pernah terjadi atau cuma hasil imajinasi Pidi?”

Beberapa judul yang menarik perhatian saya antara lain “Cerdas Cermat Ospek”, “Nomor Telepon”, “Rumah Kawan”, “Mi Instan Obama”, “Mukjizat Poligami”, “Masa-Masa Gasibu”, “Ikan Lilin”, “1996”, “Drunken Mama”, “Aso Delivery”, “Menjemput Rental”, “Pedang Adam”, “Sawer Tabungan”, dan “Perahu Bioskop”.

Kisah-kisah tersebut tidak harus dibaca secara berurutan. Bahkan, rasanya lebih cocok dibaca santai, satu cerita demi satu cerita, terutama ketika kepala sedang penuh dan kita membutuhkan bacaan yang tidak terlalu berat.

Yang membuat Drunken Mama menarik adalah cara Pidi Baiq mengolah kejadian biasa menjadi sesuatu yang tidak biasa. Ia senang mengerjai orang, melakukan keisengan, membuat percakapan yang tidak masuk akal, dan menempatkan dirinya sendiri sebagai tokoh utama dalam banyak kejadian. Namun, di balik kekonyolan tersebut, selalu ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

Di sinilah menurut saya Drunken Mama sedikit berbeda dari Drunken Molen. Kalau Drunken Molen terasa lebih ringan dan renyah, Drunken Mama terasa sedikit lebih serius. Tentu saja, seriusnya Pidi Baiq tetap bukan serius seperti buku filsafat yang membuat dahi berkerut. Keseriusan Pidi justru datang setelah kita tertawa.

Hampir setiap cerita diakhiri dengan semacam renungan. Ada yang sederhana, ada pula yang membuat saya berhenti sejenak untuk memikirkannya. Tentang berbuat baik, berbagi, bersyukur, keluarga, kehidupan, sampai pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sebenarnya pernah muncul di kepala kita.

Salah satu yang paling membekas bagi saya adalah bagian “Mukjizat Poligami”. Pidi menghadirkan percakapan yang terdengar konyol tentang alasan seorang ayah menikah lagi. Ketika ditanya apakah karena nafsu, jawabannya justru dibelokkan menjadi sesuatu yang absurd, yakni sang ayah ingin mengetahui seperti apa anaknya jika bersama perempuan lain. Respons “Eksperimen?” membuat percakapan itu semakin konyol.

Lucu? Menurut saya, iya. Setidaknya cukup membuat saya tersenyum. Tetapi yang menarik bukan hanya leluconnya. Pidi seperti sedang menunjukkan bahwa sesuatu yang serius bisa dibicarakan melalui cara yang ringan. Kita diajak tertawa terlebih dahulu, kemudian pelan-pelan diajak berpikir.

Hal serupa terasa dalam percakapan mengenai Tuhan. Pertanyaan sederhana seperti apakah Tuhan perlu dicari dijawab dengan logika yang khas Pidi. Jawabannya tidak seperti ceramah agama pada umumnya. Ia menggunakan permainan logika dan humor, tetapi tetap menyisakan sesuatu untuk direnungkan.

Inilah kekuatan sekaligus keunikan Pidi Baiq. Ia tidak selalu membutuhkan kalimat yang rumit untuk menyampaikan sesuatu yang dalam. Kadang justru kalimat sederhana dan nyeleneh lebih mudah melekat di kepala. Namun, saya juga harus jujur bahwa Drunken Mama bukan buku yang otomatis cocok untuk semua orang.

Ada bagian-bagian yang menurut saya terasa datar. Tidak semua lelucon berhasil membuat saya tertawa. Beberapa cerita bahkan terasa seperti percakapan sehari-hari yang diperpanjang. Kalau kita tidak cocok dengan humor absurd ala Pidi Baiq, kemungkinan besar akan muncul pertanyaan, “Lucunya di mana?”

Saya sendiri beberapa kali membaca sambil skimming. Ada cerita yang menarik, tetapi ada juga yang saya lewati dengan cepat. Bahasa yang digunakan pun terkadang membuat saya harus membaca ulang untuk menangkap maksudnya.

Jadi, kalau ada pembaca yang mengatakan buku ini lucu sekali, saya bisa memahami. Tetapi kalau ada pula yang mengatakan tidak menemukan kelucuannya, saya juga bisa memahami. Humor memang persoalan selera. Ada orang yang tertawa karena slapstick, ada yang suka satire, ada yang suka humor receh, dan ada yang cocok dengan kegilaan Pidi Baiq. Saya sendiri berada di tengah-tengah. Saya menikmati gaya Pidi, tetapi tidak selalu tertawa di setiap halaman.

Satu hal yang menurut saya sangat menarik adalah ilustrasi dalam buku ini. Gambar-gambar yang menyertai cerita membuat pengalaman membaca menjadi lebih hidup. Visual tersebut seperti memperkuat karakter Pidi yang memang tidak biasa. Selain itu, format cerita pendek membuat buku ini terasa ringan dan tidak melelahkan.

Tokoh-tokoh seperti Pidi, Rosi, Timur, Babe, Bi Odah, dan beberapa tokoh lainnya membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan keluarga. Pidi tidak sedang menciptakan dunia yang jauh dari pembaca. Ia justru mengambil hal-hal kecil dari kehidupan sehari-hari, kemudian memelintirnya menjadi sesuatu yang absurd.

Mungkin di situlah saya melihat makna terbesar Drunken Mama, bahwa kehidupan tidak harus selalu dijalani dengan wajah serius.

Kita boleh tertawa. Kita boleh iseng. Kita boleh melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tetapi setelah itu, jangan lupa mengambil pelajaran.

Bagi generasi muda masa kini, buku ini menurut saya masih cukup relevan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, tuntutan produktif, media sosial, overthinking, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, membaca sesuatu yang ringan seperti Drunken Mama bisa menjadi jeda. Kita diajak melihat bahwa hidup tidak melulu tentang pencapaian, target, dan keseriusan.

Lebih dari itu, Pidi Baiq menunjukkan pentingnya kreativitas dalam melihat dunia. Sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain bisa menjadi bahan cerita yang menarik jika kita punya cara pandang yang berbeda. Ini sangat relevan bagi anak muda yang hidup di era konten, ketika kemampuan melihat sesuatu dari perspektif unik justru menjadi nilai tersendiri.

Pidi juga mengajarkan bahwa berbuat baik tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku. Pesan moral dapat disampaikan lewat humor, keisengan, bahkan sesuatu yang terlihat tidak masuk akal.

Setelah selesai membaca Drunken Mama, saya semakin memahami mengapa karya-karya Pidi Baiq memiliki pembaca yang begitu loyal. Ia punya suara yang khas. Kita bisa menyukai atau tidak menyukai humornya, tetapi sulit mengatakan bahwa tulisannya tidak memiliki karakter.

Bagi saya, rangkaian Drunken sudah cukup sampai di sini. Kalau diteruskan terlalu banyak, mungkin kekuatan keunikannya justru bisa berkurang karena pembaca lama-lama akan merasa pola ceritanya berulang. Drunken Mama terasa seperti sebuah titik yang pas untuk menikmati kembali kegilaan Pidi Baiq sebelum kita beralih ke karya-karyanya yang lain.

Identitas Buku

  • Judul: Drunken Mama
  • Penulis: Pidi Baiq
  • Penerbit: DAR! Mizan
  • Cetakan: I, Februari 2009
  • Tebal: 216 Halaman
  • ISBN: 978-979-752-952-9
  • Genre: Fiksi Modern / Humor

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda