Ulasan

Ulasan Film Munafik: Melawan Iblis, Remake Horor Religi Paling Mencekam!

Ulasan Film Munafik: Melawan Iblis, Remake Horor Religi Paling Mencekam!
Poster film Munafik: Melawan Iblis (IMDb)

Munafik: Melawan Iblis merupakan adaptasi resmi film horor religi Malaysia Munafik (2016) karya Syamsul Yusof yang kini dihadirkan dalam versi Indonesia. Film ini disutradarai Guntur Soeharjanto dan diproduseri Oswin Bonifanz di bawah bendera Unlimited Production bersama sejumlah mitra produksi. Film berdurasi 103 menit dengan rating D17 ini resmi tayang serentak di bioskop Indonesia, termasuk Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis, mulai 3 September 2026.

Sebuah Teror Demonis Pembuka Tabir Dosa

Salah satu adegan di film Munafik: Melawan Iblis (IMDb)
Salah satu adegan di film Munafik: Melawan Iblis (IMDb)

Kisah berpusat pada Adam (Arya Saloka), seorang ustaz sekaligus praktisi ruqyah yang hidup di desa pesisir yang kental dengan kepercayaan mistis. Setelah membantu mengusir iblis dari tubuh seorang anak, Adam mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawa istrinya, Aini. Duka mendalam membuatnya menghentikan praktik ruqyah dan menarik diri.

Suatu hari, Ustaz Anwar (Dimas Aditya) meminta bantuannya untuk menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa), seorang perawat sekaligus putri Haji Mansur (Donny Damara), yang mengalami gangguan gaib ekstrem. Awalnya enggan, Adam akhirnya tergerak oleh pesan mendiang istri. Semakin dalam penyelidikan, semakin banyak rahasia gelap terungkap. Adam harus menghadapi teror iblis sekaligus luka masa lalu yang selama ini ia kubur.

Film ini berhasil menanamkan nuansa Indonesia yang kuat melalui praktik ruqyah, latar desa Pacitan, serta kultur masyarakat yang akrab dengan gangguan supranatural. Atmosfer gelap dibangun dengan efektif tanpa bergantung sepenuhnya pada jump scare. Adegan ruqyah menjadi ruang konfrontasi yang menegangkan antara Adam dan Fitri, di mana ketegangan muncul dari ketidakpastian Adam sendiri terhadap apa yang dihadapi.

Ulasan Film Munafik: Melawan Iblis

Salah satu adegan di film Munafik: Melawan Iblis (IMDb)
Salah satu adegan di film Munafik: Melawan Iblis (IMDb)

Penampilan para pemain menjadi salah satu kekuatan. Arya Saloka meyakinkan sebagai Adam yang berduka sekaligus berjuang mempertahankan keimanan. Ia menampilkan sosok tenang namun rentan secara emosional. Acha Septriasa menonjol dalam peran Fitri. Kontrol tubuh dan perubahan gesturnya saat kerasukan terasa natural dan mencekam, tanpa ekspresi berlebihan. Donny Damara sebagai Mansur dan Nova Eliza menghadirkan karakter ambigu yang menarik, meski ruang eksplorasi mereka terbatas.

Meski demikian, film memiliki kelemahan pada naskah. Fokus yang awalnya kuat pada Adam, Fitri, dan gangguan gaib melebar menjelang akhir dengan terlalu banyak karakter, konflik, dan plot twist. Tema munafik—keselarasan antara ucapan, perilaku, dan keimanan—kurang digali secara mendalam dibandingkan versi asli. Film ini lebih sibuk mengejar misteri “siapa iblisnya” ketimbang mempertanyakan mengapa manusia bisa munafik.

Adegan paling membuat bulu kudukku berdiri adalah rangkaian kerasukan dan ruqyah Fitri. Perubahan gestur tubuh Acha Septriasa, suara terkekeh misterius, barang-barang yang terlempar, serta pantulan wajah mengerikan di cermin menciptakan ketegangan yang intens. Perdebatan sengit saat iblis di tubuh Fitri mengejek Adam dengan tuduhan “Kamu sama seperti kami, Ustaz! Munafik!” makin menambah tensi psikologis yang mencekam. Suasana gelap dan penataan suaranya berhasil memperkuat efek horor tersebut tanpa harus bergantung pada efek visual yang berlebihan.

Sementara itu, adegan paling menyentuh muncul di bagian akhir. Setelah melalui teror dan pengungkapan rahasia, momen penerimaan Adam terhadap kehilangan istrinya serta upaya penyelesaian konflik batinnya menyentuh sisi emosional. Penggunaan lagu “Kemarin” dari Seventeen pada klimaks emosional memperkuat rasa duka dan keikhlasan, ya meski beberapa Bumomen tersebut sedikit melodrama. Adegan ini mengingatkan bahwa film tidak hanya tentang melawan iblis di luar, tetapi juga melawan keraguan dan luka di dalam diri.

Secara keseluruhan, Munafik: Melawan Iblis merupakan adaptasi yang berhasil membuat horor terasa dekat dengan konteks Indonesia. Film menawarkan atmosfer gelap, adegan horor yang cukup efektif, serta pesan tentang keikhlasan dan penerimaan takdir.

Buat kamu yang mencari horor religi dengan sentuhan lokal, film ini masih layak ditonton di bioskop. Tapi, buat yang berharap pembahasan tema kemunafikan yang mendalam kaya versi aslinya, bagian akhir film ini rasanya agak kehilangan fokus. Meski begitu, ceritanya tetap jadi pengingat kalau teror paling menyeramkan kadang justru muncul dari dalam diri kita sendiri. Rating pribadi: 7.5/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda