Ulasan

Review Buku Cerita Buat Para Kekasih: Cinta Tak Selalu Berakhir Bahagia

Review Buku Cerita Buat Para Kekasih: Cinta Tak Selalu Berakhir Bahagia
Buku Cerita Buat Para Kekasih karya Agus Noor (Instagram/naomibookstore_)

Agus Noor bukan nama baru dalam dunia sastra Indonesia. Cerpen-cerpennya berkali-kali masuk dalam berbagai buku pilihan dan penghargaan sastra. Maka, saya merasa membaca buku Cerita Buat Para Kekasih ini seperti masuk ke sebuah rumah yang penghuninya sudah sangat mengenal cara memainkan kata, tetapi sengaja membiarkan tamunya tersesat di beberapa ruangan.

“Di antara para kekasihku, hanya kamu yang suka bercerita.” Kalimat pembuka yang ringan itu seolah mengajak saya duduk santai di samping seorang kekasih, mendengarkan cerita sebelum tidur. Tetapi setelah benar-benar menyelesaikan membaca buku kumpulan cerita pendek karya Agus Noor, saya justru merasa bahwa buku ini bukan kumpulan cerita yang tepat untuk dibaca sambil berharap mendapatkan dongeng cinta yang manis.

Judulnya memang terdengar romantis. Sampulnya pun memberi kesan bahwa saya akan berhadapan dengan kisah-kisah cinta, perempuan, rindu, dan hubungan antarmanusia yang biasa kita temukan dalam cerita romansa. Namun Agus Noor ternyata punya cara sendiri untuk mempermainkan harapan pembacanya.

Di dalam buku ini, cinta bisa terasa hangat, tetapi beberapa halaman kemudian berubah menjadi sesuatu yang ganjil, gelap, menyakitkan, bahkan mengerikan.

Judul yang Menipu, tetapi Malah Menarik

Saya akui, judul Cerita Buat Para Kekasih cukup menipu. Saya membayangkan cerita-cerita romantis yang bisa dibacakan kepada pasangan sebelum tidur. Ternyata, beberapa kisah di dalamnya justru bisa membuat saya berpikir ulang sebelum mematikan lampu kamar.

Ada perempuan, kekasih, cinta, kenangan dan kerinduan. Tetapi ada pula kematian, kebencian, kekerasan, kegelisahan sosial, ketidakadilan, absurditas, bahkan tokoh yang menyimpan mayat istrinya di dalam akuarium.

Cerita “Akuarium”, misalnya, menjadi salah satu kisah yang sulit saya lupakan. Gagasan tentang seorang lelaki yang mempertahankan keberadaan istrinya yang telah meninggal dalam sebuah akuarium terasa aneh sekaligus menyedihkan. Di tangan Agus Noor, sesuatu yang mustahil justru menjadi pintu masuk untuk membicarakan kehilangan.

“Ah, cinta hanya ingatan yang terus dipertahankan orang-orang kesepian.” (hlm. 159).

Setelah membaca kalimat ini, saya tidak langsung berpindah halaman. Saya berhenti sebentar. Bukankah manusia memang sering mempertahankan sesuatu bukan karena sesuatu itu masih ada, tetapi karena kenangan tentangnya terlalu sulit dilepaskan?

Agus Noor: Puitis, tetapi Tidak Membosankan

Bagi saya, bahasa menjadi salah satu kekuatan terbesar buku ini. Agus Noor menggunakan diksi yang puitis, tetapi tidak menjadikan ceritanya seperti puisi panjang yang sulit dicerna. Ada kalimat yang lembut, ada yang nakal, ada yang lucu, ada yang menusuk, dan ada pula yang membuat saya mengernyitkan dahi.

Yang menarik, kalimat-kalimat indah tersebut tidak selalu mengantar pembaca kepada sesuatu yang indah. Kadang justru sebaliknya.

Saya bisa saja dibuat tersenyum oleh sebuah kalimat, lalu beberapa paragraf kemudian dibuat terkejut oleh kejadian yang sama sekali tidak saya duga. Inilah pola yang berkali-kali saya temukan, Agus Noor seperti membiarkan saya berjalan dengan tenang, lalu tiba-tiba membuka pintu dan menunjukkan sesuatu yang berada di luar perkiraan.

Buku ini juga tidak hanya berisi cerpen panjang. Ada cerita yang sangat pendek, bahkan hanya beberapa paragraf atau sekitar satu halaman. Cerita-cerita mini itu menjadi kejutan tersendiri.

Hemat saya, kemampuan membuat cerita singkat tetapi tetap mempunyai efek setelah selesai dibaca bukan perkara mudah. Agus Noor membuktikan bahwa panjang cerita tidak selalu menentukan besar kecilnya dampak sebuah cerita.

“Seorang Wanita dan Jus Mangga”: Sederhana yang Berubah Menjadi Menegangkan

Cerita pertama, “Seorang Wanita dan Jus Mangga”, langsung memberi gambaran tentang bagaimana Agus Noor bekerja. Awalnya sangat sederhana. Ada seorang lelaki dan perempuan. Ada buah mangga. Ada aktivitas membuat jus. Sepertinya tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Tetapi Agus Noor mempunyai cara untuk membuat hal biasa terasa mencurigakan. Ia mengamati perempuan bukan sekadar dari wajah atau pakaian, tetapi dari gerak-geriknya. Dari cara mengupas buah, pembaca diajak membaca karakter dan rahasia yang tersembunyi.

Cerita ini membuat saya menyadari bahwa ide cerita sebenarnya bisa ditemukan di mana saja. Bahkan dari aktivitas sesederhana mengupas mangga. Di sinilah saya melihat Agus Noor sebagai penulis yang sangat kuat dalam mengolah observasi menjadi fiksi.

“Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati”: Ketika Sastra Menolak Lupa

Kalau beberapa cerita bermain-main dengan cinta dan absurditas, “Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati” membawa buku ini ke wilayah yang lebih serius.

Cerita tersebut mengajak pembaca berhadapan dengan persoalan kekerasan, ketidakadilan, ingatan sejarah, dan manusia yang kehilangan haknya.

“Memaafkan bukan berarti meniadakan kesalahan.” (hlm. 107).

Bagi saya, kalimat tersebut terasa relevan bukan hanya untuk memahami cerita, tetapi juga kehidupan secara umum. Memaafkan memang tidak sama dengan menghapus kejadian. Sastra seperti ini mempunyai fungsi menjaga ingatan.

Ketika sejarah terlalu mudah dilupakan, cerita bisa menjadi cara lain untuk mengingatnya. Agus Noor tidak menyampaikan kritik dengan gaya seperti buku pelajaran. Ia membungkus kegelisahan itu melalui tokoh, konflik, metafora dan kejutan. Hasilnya justru terasa lebih mengganggu pikiran.

Dari Kunang-Kunang hingga “Matinya Seorang Demonstran”

Kunang-kunang menjadi semacam motif yang berulang dalam buku ini. Ada “Kunang-Kunang di Langit Jakarta” dan cerita lain yang juga berkaitan dengan kunang-kunang.

Saya melihat kunang-kunang bukan sekadar serangga dalam cerita, tetapi seperti simbol kecil tentang cahaya yang muncul di tengah gelap.

Sementara “Matinya Seorang Demonstran” membawa saya kepada persoalan kehidupan aktivis, kekuasaan, dan kondisi sosial-politik. Agus Noor memperlihatkan bahwa buku yang diberi nama Cerita Buat Para Kekasih ternyata tidak hanya berbicara kepada orang yang sedang jatuh cinta. Ia juga berbicara kepada manusia yang sedang gelisah melihat keadaan sekelilingnya.

Cinta Tidak Selalu Berbentuk Pelukan

Setelah menyelesaikan seluruh cerita, saya semakin memahami bahwa kata “kekasih” dalam buku ini tidak harus dimaknai secara sempit sebagai pasangan romantis.

Kekasih bisa menjadi seseorang yang mendengarkan. Kekasih bisa menjadi seseorang yang diajak berbagi kegelisahan. Bahkan, kekasih bisa menjadi simbol manusia yang sedang berusaha memahami manusia lainnya.

Oleh karena itu, cerita-cerita dalam buku ini tidak selalu menawarkan kebahagiaan. Ada kesedihan, kehilangan, perselingkuhan, kecemburuan, kematian, kebencian, dan kesepian. Namun bukankah kehidupan memang seperti itu?

Kita mencintai, lalu kehilangan. Kita bertemu, lalu berpisah. Kita tertawa, kemudian menangis. Kita berharap, lalu kecewa.

Agus Noor tidak berusaha membuat kehidupan terlihat selalu indah. Ia justru mengambil bagian-bagian yang sering kita sembunyikan dan menjadikannya cerita.

Relevan bagi Generasi Muda

Menurut saya, buku ini masih relevan bagi generasi muda sekarang. Bukan karena semua ceritanya cocok dengan kehidupan anak muda secara langsung, tetapi karena persoalan yang dibicarakan Agus Noor masih sangat dekat dengan kehidupan kita, seperti cinta, kesepian, hubungan manusia, prasangka, gosip, ketidakadilan, kehilangan, pencarian identitas, hingga kebiasaan melihat sesuatu hanya dari permukaannya.

Generasi muda hari ini hidup di tengah banjir informasi. Kita bisa mengetahui banyak hal dalam hitungan detik. Tetapi mengetahui sesuatu belum tentu berarti memahami sesuatu.

Cerita seperti “Nyonya Fallacia”, misalnya, mengingatkan saya pada kebiasaan manusia membicarakan orang lain tanpa benar-benar mengetahui kenyataannya. Di zaman media sosial, persoalan semacam ini terasa semakin dekat.

Begitu pula cerita-cerita yang mengajak pembaca melihat ketidakadilan. Anak muda tidak hanya membutuhkan bacaan yang menghibur, tetapi juga bacaan yang mengajak mereka berhenti sejenak dan bertanya, mengapa keadaan seperti ini terjadi?

Bagi mereka yang sedang belajar menulis, buku ini juga menarik untuk dipelajari. Cerita-cerita pendeknya menunjukkan bagaimana sebuah ide sederhana bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang mengejutkan. Cerita mini di dalamnya bahkan memperlihatkan bahwa keterbatasan ruang bukan alasan untuk berhenti membuat cerita.

Kelebihan dan Kekurangan

Menurut saya, kelebihan buku ini terletak pada keberagaman cerita, kekuatan diksi, permainan metafora, kejutan di akhir cerita, serta keberanian Agus Noor menggabungkan cinta dengan kritik sosial.

Saya juga menyukai variasi panjang cerita. Pembaca tidak dipaksa terus-menerus membaca cerpen yang panjang. Ada cerita yang selesai dalam beberapa halaman, ada pula yang sangat singkat.

Foto-foto hitam putih yang muncul di sela-sela cerita juga memberikan suasana tersendiri. Foto-foto tersebut terasa menyatu dengan nuansa buku yang sensual, misterius dan sedikit muram.

Namun, saya juga menemukan beberapa cerita yang cukup sulit saya pahami. Metafora dan absurditas yang terlalu jauh membuat saya harus berhenti dan membaca ulang. Tidak semua cerita langsung memberikan pemahaman pada pembaca.

Tetapi mungkin justru itu bagian dari pengalaman membaca Agus Noor. Tidak semua cerita harus selesai dipahami dalam sekali baca. Sungguh.

Identitas Buku

  • Judul: Cerita Buat Para Kekasih
  • Penulis: Agus Noor
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: II, Januari 2017
  • Tebal: 290 Halaman
  • ISBN: 978-602-03-3626-8
  • Genre: Fiksi / Cerpen

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda