“Barang stok gudang sebanyak itu pergi ke mana, hah?! Dicuri orang?!”
Friska terdiam.
“Yang teliti, kau nggak bisa?!” Cik Zhao Fei menunjuk muka Friska. “Tiap hari ada saja selisih nyata. Bisa kerja nggak, sih?!”
Friska masih diam. Meskipun dia ingin sekali membeberkan sejumlah fakta toko kepada sang atasan.
“Kerja nggak becus! Orang jompo saja lebih pandai!”
Cik Zhao Fei berlalu dengan amarah meluap-luap, meninggalkan Friska yang kini menatap malas pada Koko Liam, anak Cik Zhao Fei yang menyumbang kekacauan.
Koko Liam tampak tercekat. Ketika dia hendak berkata sesuatu, Friska memutuskan berlalu. Merapikan apa yang bisa dirapikan, bahkan menyapu lantai yang sudah dibersihkan sejak tadi.
“Mbak, anu itu…” Koko Liam terbata-bata. “Itu… itu bukan salah Mbak, kok….”
Senyap. Tidak ada jawaban dari Friska kecuali helaan napas panjangnya sebelum sibuk menelepon vendor dan beberapa supplier lokal, merapikan dokumen yang berserakan, hingga disambi makan sebongkah roti isi krim keju secara membabi buta.
“Barang-barang itu… kupakai dulu, Mbak. Nanti gampang deh, kubilang ke Mama sendiri.”
Dan terjadi lagi. Entah sudah berapa kali Friska mengalami hal semenyebalkan begini. Acap kali kegaduhan di toko, entah penjualan yang menurun atau selisih barang tiap kali audit, sebenarnya didalangi oleh Koko Liam tanpa sepengetahuan Cik Zhao Fei. Pemuda itu kurang bertanggung jawab pada posisi dan toko, membuat Friska harus selalu bersabar.
Setiap kali Friska mencoba melaporkan Koko Liam pada Cik Zhao Fei dengan sekian bukti, pemuda itu selalu berhasil mengelak. Ditambah lagi, dia adalah putra semata wayang Cik Zhao Fei.
“Uhm, Mbak. Mbak pulang dulu nggak apa-apa deh. Hari ini nggak perlu lembur.”
Tanpa menoleh, Friska meraih tas kemudian berlalu meninggalkan toko Zhao Fei, tempatnya bekerja beberapa tahun ini. “Gila,” bisiknya dalam kegelapan.
Sepanjang jalan, pikiran Friska kosong. Tahu-tahu dia sudah sampai di rumah, dan telah berbaring di atas kasur kapuk dan memejamkan mata. Emosinya kembali mencuat saat menerima pesan permintaan maaf Koko Liam, entah yang keberapa.
Sebenarnya, Cik Zhao Fei adalah wanita yang baik. Namun, kalau sudah berhubungan dengan toko, diamuk adalah makanan sehari-hari Friska. Sialnya, satu-satunya kutu busuk adalah Koko Liam sendiri yang selalu teledor.
Toko pernah kehilangan beberapa barang mahal karena Koko Liam ketiduran saat Friska tengah mengambil izin. Seringnya, pemuda itu menggunakan barang toko untuk kepentingan pribadi, yang menyebabkan keruwetan pada masa audit dan pembukuan. Namun, Cik Zhao Fei terlalu mudah dibodohi, atau memang terlalu menyayangi putranya.
“Liam sialan!” bisik Friska penuh kebencian sebelum menutup matanya.
“Ini di mana?”
Seingatnya, Friska sedang bersiap tidur ketika kini dia berada di antah-berantah. Sebuah lanskap taman menghijau, dengan bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu beterbangan. Harmoni dari gerbang semak tanaman ekor tupai, semak bunga butterfly pea yang membiru, dalam simfoni gemericik sungai yang membentang. Airnya jernih serupa permata, membiarkan ikan-ikan di bawah sana terlihat berkejaran.
Di atasnya, ada sebuah jembatan kayu melengkung yang menjadi satu-satunya jalan menuju area gelap di seberang sana. Sepertinya hutan, karena tampak pepohonan tinggi menjulang. Namun, terdapat kabut pekat yang membuatnya begitu misterius.
“Tempat apaan itu?” tanya Friska sambil mencoba melangkah melintasi jembatan. “Aku cek aja kali ya?”
“Berhenti di sana.” Friska bergeming di ujung jembatan, hanya untuk mendapati ada seseorang yang juga berdiri di ujung yang lain. Siluetnya tampak tersembunyi dalam tirai-tirai dedaunan yang mirip bidara. “Ini bukan tempatmu, jadi biar aku yang ke sana.”
“Kamu siapa?” tanya Friska. “Ini tempat macam apa? Ini di mana? Kamu bukan demit, kan?”
Terdengar suara kekehan renyah dan langkah kaki mantap menapaki tiap jengkal jembatan kayu. Perlahan, wujudnya kian jelas. Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, dalam balutan turtleneck hitam yang lengannya sudah digulung nyaris ke siku, dan celana panjang senada. Namun, wajahnya tidak terlihat jelas. Kabut seolah menyembunyikannya.
“Itu adalah hutan rimba,” katanya seraya meninggalkan jembatan dan mengambil duduk di atas rerumputan taman. “Kamu tidak cocok pergi ke sana.”
Friska turut duduk di sebelah pemuda itu. “Hutan rimba? Hutan liar?”
“Betul. Bukan hutan sawit, pinus, atau homogen sejenisnya, melainkan heterogen.”
“Ada pohon mahoni di sana?”
Pemuda itu mengangguk. “Ada.”
“Pohon trembesi?”
“Ada juga," jawabnya sambil tersenyum.
“Pohon gaharu?”
Masih sabar. “Iya, ada.”
“Pohon kemenyan?”
“Ada.”
Sampai entah berapa spesies tanaman yang Friska tanyakan, pemuda itu terus mengiyakan. Yang membedakan adalah di awal-awal dia menjawab dengan antusias dan penuh senyum. Tetapi, makin lama makin malas menanggapi.
“Rafflesia arnoldii ada?”
“Ada.” Terdengar helaan napas kesal. “Kalau boleh kutambahkan, ada tanaman buah jernang, bunga bangkai, anggrek liar, tanaman darah naga, harimau, dan ular-ular berbisa. Sekali kamu masuk ke sana, tidak ada jalan kembali.”
Mata Friska berbinar senang, sebelum dahinya mengerut heran. “Kalau di sana memang hutan rimba yang nggak ada jalan kembali, kok kamu tadi keluar dari sana?”
“Itu tempatku.”
Friska melirik sudut bibir lelaki itu yang tampak tertarik sedikit. Meskipun tertutup kabut, masih ada celah yang terlihat.
“Kalau boleh kuingatkan, manusia memang demikian. Teruslah optimis dan berpegang teguh pada keyakinanmu. Toh, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun,” tutur pemuda tadi lembut. “Jangan menyimpan banyak kebencian dalam hati.”
“Maksudnya?”
“Kebencian hanya akan menyesakkan dadamu. Sekali-kali kamu membenci dunia dan dirimu, setan akan menyesatkanmu.” Pemuda tadi kemudian berdiri. “Entah pada kebencian yang kian mendalam, atau jalan kemusnahan.”
“A-aku nggak ngerti.”
Pemuda tadi malah mencengkeram kedua bahu Friska lembut. “Kembalilah. Maafkan dirimu sendiri dan berjuanglah di negeri yang kamu pijaki. Pegang erat kejujuran dan hiduplah dalam perjuangan yang nyata.”
"Ey, tunggu dulu…."
"Tetaplah menjadi dirimu sendiri, dengan caramu sendiri, dan hormatilah dunia serta manusia-manusia di sana."
Friska ingin bertanya apa maksud omongan pemuda tadi. Namun, tubuhnya yang terdorong maju berhasil membuatnya membuka mata hanya untuk menyadari bahwa dia terbaring di atas tempat tidurnya sendiri. Sekonyong-konyong, Friska mengusap wajahnya kasar.
“Hari Selasa ya? Beli getuk lindri Lek No enak mungkin?”
Baca Juga
-
Dari Jarum Turun ke Hati: Menyulam Ternyata Bisa Bikin Dopamin Happy!
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
-
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
-
Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi
Artikel Terkait
-
Dari Korban Bullying Menjadi Inspirasi: Kisah 3 Sosok yang Bangkit Lebih Kuat
-
Silent Bullying: Perundungan yang Tak Dianggap Perundungan
-
Self-esteem Recovery: Proses Memulihkan Diri setelah Mengalami Bullying
-
Generasi Muda dalam Ancaman menjadi Pelaku dan Korban Bullying
-
CERPEN: Remote Televisi di Antara Norma dan Hukum Rimba
Cerita-fiksi
Terkini
-
Mobil ini Bisa Jalan Terbalik Menentang Gravitasi, Ini Rahasia McMurtry
-
Review Serial Ejakulasi Dini: Drama Komedi Remaja yang Berani dan Kocak!
-
Human Specimens, Menantang Batas Antara Seni dan Kemanusiaan
-
Ironi Gizi di Negeri Kaya: Panganan Segar Melimpah, Tapi Produk Kemasan Jadi Jalan Pintas
-
Lotus Feet Girl: Ketika Kecantikan Dibangun dari Luka