Rudi termenung di teras rumahnya sore itu. Pikirannya kalut. Obrolan bersama teman-temannya tadi pagi masih terus berkecamuk di kepalanya.
Mereka mengajak Rudi ke alun-alun yang ada di pusat kota untuk merayakan tahun baru nanti malam.
Tentu saja Rudi menyambut dengan gembira ajakan teman-teman SMP-nya itu. Ya, Rudi juga ingin seperti orang-orang pada umumnya yang merayakan tahun baru di pusat kota.
Menyaksikan ratusan bahkan mungkin ribuan kembang api melesat berhamburan di udara. Sungguh indahnya.
Namun yang jadi persoalan adalah kedua orang tua Rudi tidak mengizinkan putranya ikut merayakan tahun baru di alun-alun kota.
"Nggak usah ikut-ikutan temanmu," begitu kata ayah saat Rudi minta izin ingin merayakan tahun baru di alun-alun kota.
"Rudi hanya ingin melihat kembang api kok, Rudi nggak macam-macam, lagian teman-teman Rudi kan nggak ada yang aneh-aneh" terang Rudi berharap ayahnya berubah pikiran.
"Pokoknya Ayah nggak kasih izin,"
Rudi terdiam dengan wajah lesu.
"Rud, Ayah melarang kamu pergi ke alun-alun di malam hari karena Ayah khawatir terjadi apa-apa di sana," ucap Ibu berusaha meredam kesedihan putra semata wayangnya.
Akhirnya Rudi memilih diam. Meski batinnya berontak. Kenapa sih hanya ingin nonton kembang api di alun-alun saja dilarang?
Lagian juga nggak akan ada hal-hal yang membahayakan di sana. Kenapa sih orang tuaku nggak seperti kedua orang tua teman-temanku yang memberi izin mereka pergi ke alun-alun untuk merayakan tahun baru? Batin Rudi terus menggerutu.
***
Usai salat Isya, Rudi duduk termenung di kursi bambu yang ada di teras rumahnya yang sederhana. Teras rumah yang lantainya masih semen sebagaimana lantai rumahnya. Namun teras tersebut terasa adem karena banyak bunga-bunga di sana.
Ibu memang rajin menanam beragam jenis bunga sementara ayah juga hobi berkebun di sekitar rumah. Kalau Ayah lebih senang menanam beragam jenis pohon buah-buahan seperti pohon mangga, pohon jambu dan pohon belimbing. Termasuk juga menanam pohon cabai, terong dan tomat di samping rumah. Lumayan pas berbuah bisa buat memenuhi kebutuhan dapur tanpa harus membeli di warung.
"Rud, ikut Ayah, yuk?"
Lamunan Rudi yang sedang membayangkan merayakan tahun baru di alun-alun kota sontak terpenggal saat mendengar suara ayah yang baru keluar dari rumah.
"Ke mana, Yah?"
"Ke rumah Pak Somad, Ayah mau ambil ayam," terang Ayah.
Rudi pun segera beranjak mengikuti langkah Ayah menuju rumah Pak Somad yang jaraknya sekitar 300 meter dari samping rumah. Selama ini Ayah memang sering kulakan ayam-ayam sama Pak Somad. Tiap pagi sehabis subuh, Ayah dengan mengendarai sepeda motor bututnya membawa ayam-ayam menuju pasar. Ayam-ayam tersebut dimasukkan ke dalam keranjang kayu yang ditaruh di samping kanan dan kiri jok motor.
***
"Kok ayamnya cuma seekor, Emangnya besok ayah nggak jualan ayam?" Tanya Rudi dengan raut keheranan.
"Besok tetap jualan ayam kok Rud, Ayah sudah kulakan ayam tadi siang," terang Ayam.
"Terus ayam ini buat apa, Yah?" tanya Rudi sambil mengusap-usap punggung ayam berukuran lumayan besar di tangannya.
"Buat merayakan tahun baru," jawab ayah sambil tersenyum. Sementara Rudi melongo dengan raut dipenuhi tanda tanya.
***
Penasaran Rudi terjawab ketika sampai di rumah. Ternyata Ayah membeli seekor ayam berukuran lumayan besar untuk dipotong dan dimasak bersama ibu.
"Merayakan tahun baru nggak harus ke alun-alun kan Rud, kita bisa masak dan makan bersama di rumah," ujar Ibu membuat Rudi termenung.
"Rud bantuin Ayah nyalain apinya," pinta Ayah yang sedang membuat tusuk satai. Jadi ceritanya malam ini Ayah ingin bikin satai ayam. Makanan yang disukai oleh Rudi tentunya, hehehe.
"Siap, Yah," ujar Rudi sambil tersenyum.
Dan di menit-menit menuju pergantian tahun baru malam itu, Rudi bersama kedua orang tuanya makan satai ayam dengan nikmat. Namun entah mengapa Rudi Masih kepikiran teman-temannya yang sedang merayakan malam tahun baru di alun-alun kota.
Dan, wajah Rudi kembali terlihat sedih karena tidak bisa ikut gabunb bareng mereka.
***
Pagi itu Rudi terbangun dengan badan yang bugar. Usai salat subuh berjamaah bersama Ayah dan Ibu, Rudi melanjutkan aktivitasnya jalan pagi di sekitar rumahnya.
Sambil menikmati udara pagi yang dingin, Rudi kembali teringat teman-temannya yang tadi malam merayakan tahun baru di alun-alun kota. Ah, betapa senangnya mereka melihat ratusan kembang api warna-warni di sana, Rudi bergumam dalam hati.
Saat sedang asyik jalan pagi di area persawahan, Rudi berpapasan dengan Vania, salah satu tetangga yang adalah teman sekolahnya. Dan Rudi sangat terkejut ketika Vania bercerita panjang lebar bahwa tadi malam terjadi tragedi mengerikan.
Teman-teman Rudi mengalami kecelakaan sepulang dari merayakan tahun baru di alun-alun kota. Mobil box yang membawa teman-teman Rudi menyerempet pohon di pinggir jalan hingga terguling dan menyebabkan teman-temannya mengalami luka-luka yang cukup parah.
Tiba-tiba Rudi teringat Ayah dan Ibunya. Entah mengapa ucapan mereka kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Untung Ayah dan Ibu melarangku pergi ke alun-alun kota, bisik Rudi dalam hati.
***
Kebumen 1 Januari 2026.
Baca Juga
-
Menghardik Gerimis, Menikmati Cerita-Cerita Pendek Sapardi Djoko Damono
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Kenapa Luka Batin Tidak Pernah Hilang? Mengungkap 'Kerak' Trauma yang Membentuk Diri Anda
-
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta: Memahami Rasa Lewat Sajak Tere Liye
-
Inspirasi Kebijaksanaan Hidup dalam Novel Sang Pemanah
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Panggilan dari Dasar Laut Terdalam
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
-
iPhone Air Jadi iPhone Tertipis, Apakah Ada Spek yang Dikorbankan?
-
3 Parfum White Tea Terbaik untuk Halalbihalal, Wangi Clean Anti-Nyengat
-
Hati-Hati "Antek" Asing Berinsang: Sisi Gelap Ikan Sapu-Sapu yang Merusak Ekosistem