Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Ilustrasi perempuan hamil (pixabay.com)
Sam Edy

Sungguh, tak pernah aku menyangka semua akan berakhir begini. Semua sudah terlanjur. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus menghadapinya sendirian.

Semua bermula ketika aku tergoda bujuk rayu lelaki itu. Bujuk rayu yang sangat manis melebihi manisnya madu. Duh, perempuan mana yang tak langsung jatuh hati dengan lelaki tampan itu?

Lelaki yang kukenal lewat media sosial. Lelaki bukan sembarang lelaki. Memang sih, dia bukan keturunan darah biru atau berasal dari keluarga yang kaya-raya. 

Dia adalah lelaki yang lumayan terkenal setelah membintangi beberapa sinetron dan film kolosal. Dia aktor muda berbakat yang ketampanannya digilai banyak kaum perempuan.

Dan salah satu perempuan yang tergila-gila pada lelaki tampan berlesung pipit itu adalah aku. Aku merasa aku adalah perempuan yang paling beruntung di dunia waktu itu.

Pasalnya dia membalas chat perkenalanku. Tentu terlebih dahulu aku mem-follow semua akun media sosial miliknya mulai dari Instagram, Twitter, Facebook dan Tikktok-nya.

Lantas ketika aku mencoba menge-chat lelaki itu, ternyata dia membalas dengan sangat hangat dan menyenangkan. Singkat cerita akhirnya kami pun sering mengobrol lewat chat dan sesekali melakukan video call.

Kurang lebih sebulan sejak aku mengenal Tio, nama lelaki tampan itu, lewat telepon dia mengajakku kopi darat. Tadinya aku meminta ketemuan di tempat wisata atau kafe yang ada di kota ini tapi dia menolak dengan alasan khawatir bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya dan menjadikan kami bahan gosip murahan.

"Bagaimana kalau di apartemenku aja," usul Tio ketika kami terjeda dalam diam.

Tak perlu berpikir lama untuk memutuskan, akhirnya aku mengangguk saja, menyetujui idenya. Bagiku, di mana pun tempatnya, itu nggak masalah dan aku pasti akan mengiyakannya.

Kapan lagi coba, bisa ketemu dengan cowok tampan idolaku kalau bukan sekarang? Teriak lantang batinku waktu itu.

***

Sungguh tak pernah kumenyangka bila pada pertemuan pertama di apartemennya yang sepi itu, begitu aku masuk, Tio tanpa basa-basi langsung memeluk dan mencium wajahku. Rasanya campur aduk antara senang, cemas, takut dan perasaan sejenisnya.

"Jangan, Mas,"

"Kenapa? Kamu nggak menyukaiku?"

"Bu... bukan begitu,"

"Lalu?"

"Aku takut, Mas,"

"Takut kenapa? Cuma pelukan dan ciuman, kok,"

Akhirnya aku pun luluh dengan rayuannya. Benar juga katanya, kalau cuma pelukan dan ciuman, kenapa aku harus takut? 

***

Dan ternyata semua bermula dari pelukan dan ciuman. Pertemuan berikutnya Tio meminta melakukan hal yang lebih dari itu. Dan sialnya aku terbujuk oleh rayuan mautnya. Kata-katanya begitu manis dan menjanjikan hingga aku terlena karenanya.

"Aku takut hamil, Mas,"

"Itu nggak akan mungkin terjadi," ucapnya manis sambil tersenyum sementara tangan kanannya memamerkan alat pengaman yang katanya dia beli lewat online.

***

Semua hanya omong kosong. Nyatanya Tio enggan mengenakan pengaman saat kita berhubungan badan. Dan sialnya lagi aku tak kuasa menolak. Lagi-lagi, aku begitu mudah terpengaruh oleh kata-kata dan rayuan mautnya.

Akhirnya, tragedi yang kutakutkan itu pun terjadi. Aku positif hamil. Kehamilan yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Lebih tepatnya tidak pernah kami inginkan. Namun semua sudah terjadi. Sudah terlanjur basah. Aku hanya bisa meratapi diri.

Yang aku inginkan hanyalah pertanggungjawaban darinya. Sayang seribu sayang, dia tak mau bertanggung jawab atas kehamilan yang tak pernah kami inginkan ini.

Alih alih dia malah memintaku untuk menggugurkan kandungan. Dia bahkan menjanjikanku sejumlah uang dengan nominal yang lumayan besar asalkan aku menuruti kemauannya.

Tentu saja aku menolak. Aku takut. Lebih tepatnya aku takut dosa membunuh janin dalam perutku. Hah... dosa? Entah kenapa tiba-tiba aku takut dengan dosa. Padahal selama ini aku telah melakukan banyak dosa. Kenapa aku baru tersadar dengan dosa-dosa yang pernah kulakukan? 

Ah. Kepalaku mendadak terasa pening sepening-peningnya.

***

Kesedihan dan ketakutanku semakin bertambah ketika tiba-tiba Tio menghilang dan tak pernah membalas pesan-pesan yang kukirimkan padanya. 

Aku bingung mau curhat kepada siapa. Ingin mencurahkan semua persoalan ini kepada kedua orang tuaku tapi aku takut mereka akan marah besar. Mereka pasti akan memarahiku karena statusku saat ini masih mahasiswi di salah satu Universitas ternama di kota ini.

Aku benar-benar pusing dan hanya bisa menangis setiap hari meratapi nasibku yang tragis ini. Dan aku terus mengirim pesan ke Tio. Meskipun aku tahu dia tak akan pernah membalas pesan-pesanku, karena aku telah diblokir dari semua akun media sosialnya.

"Ya Tuhan, berilah aku petunjuk," lagi-lagi aku meratap sambil menangis. Tiba-tiba ada suara yang begitu keras menertawaiku. Tak hanya menertawaiku tapi juga berkata lantang:

"Hei, kamu baru ingat dosa dan ingat Tuhan ketika semua sudah terjadi? Harusnya sebagai perempuan kamu bisa menjaga mahkotamu, jangan sampai diobral murah kepada lelaki yang belum sah menjadi suamimu!"

Aku menutup kedua telingaku, berharap suara-suara itu segera pergi agar aku tak terus dihantui perasaan bersalah seperti ini. Namun semakin rapat aku menutup kedua telinga, suara itu semakin terdengar lantang dan memekakkan gendang kuping.

Karena tak kuat mendengar suara-suara mengerikan yang entah dari mana datangnya itu, akhirnya aku berdiri dan berlari sekencang-kencangnya. 

Aku terus berlari dan berlari sampai kedua kakiku terasa lelah. Aku hanya bisa menjerit histeris saat tubuhku limbung dan akhirnya terpental di pertigaan jalan yang ramai.

***

Kebumen 1 Januari 2026.