Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi cerpen Kepada yang Terhormat Tuan Izrail (Gemini AI)
Fathorrozi 🖊️

Pengap. Hampir tak ada udara terhempas. Kasur empuk berbungkus kain putih ialah pemandangan menjemukan. Tatkala hari gelap, hanya detak jarum jam yang terdengar atau igauan lelap para penunggu pasien.

Prapto terbaring tak bisa pejamkan mata. Telinganya pekak, sesak suara penghalang mimpi. Ia terbaring. Sorot matanya menyusuri atap. Ia meratap, mungkin. Entah apa yang tengah diratap. Mungkin saja nasib malang yang lagi menderanya.

Sebulan yang lalu, karma telah turun tangan terhadap dirinya. Perilaku durjana anti manusiawi telah sah menjadi detak jantungnya. Sutejo, keponakannya, ia mutilasi setelah disodomi, lalu dimasukkan ke dalam karung beras kemudian dilemparkannya ke sungai.

Tak hanya Sutejo korbannya. Menurut pengakuannya lebih dari 5 orang yang tubuhnya telah dicincang menjadi berpotong-potong. Bukan hanya di situ, Prapto yang seumur hidupnya tidak pernah kawin itu juga sering merampok pengguna jalan. Kapak dan celurit yang sering ia gunakan sebagai alat penodong mangsanya.

Tapi, siapa bilang Prapto dibebaskan dari jerat hukum? Bukan tak ada pihak berwajib yang belum mencium kelakuan bejat Prapto. Kepada sekian petugas ia melontarkan urusan kriminalnya. Bahkan sempat pula Prapto sendiri yang mendatangi kantornya. Ia bicara jujur, apa adanya. Ia akui semua yang telah ia perbuat. Hingga ia pun memperlihatkan barang bukti dan saksi mata. Namun, apa jawaban yang dapat ia tangkap? “Dasar orang tak waras! Enyahlah kau dari sini!”

Ia tak habis pikir, seketika itu batinnya bergumam, “Kenapa dunia ini sudah tidak lagi menerima orang jujur? Kejujuran makin mengikis, tetapi jika aku datang dengan kujujuran, malah diusir tanpa hormat. Lantas, mau dikemanakan orang jujur yang kini kian secuil, sedang dunia sendiri tak mau mengakui keberadaannya? Memang dunia ini lama-kelamaan semakin tidak bisa dicerna keedanannya. Tambah hari, bulan dan tahun, edannya kian menjadi-jadi. Lebih baik kubiarkan saja dunia berputar dengan poros keedanannya, sebelum aku juga semakin edan kata dunia.”

Ia muak dengan para petugas itu. Ia pun lalu melanjutkan perjalanannya. Menerobos orang-orang yang menyesaki mall dan supermarket. Ia tak tahu kepada siapa harus mengadu. Ia mencari orang yang bisa menerima pengaduannya. Ia teramat sangat ingin mengakhiri “jalan hitam”nya. Ia ingin mengubah gelap-pekat menjadi terang-benderang.

Tak sanggup menahan penat yang sangat, akhirnya Prapto tertidur pulas di serambi sebuah Masjid Agung di kota itu.

“Sebelum nyawamu berhenti tepat di kerongkonganmu, bertobatlah!” gema suara itu memecah keheningan.

Prapto tertunduk tak bergeming. Lalu terdengar suara itu lagi, “Ingat! Kuperingatkan sekali lagi, cepatlah bertobat jika kau tak ingin hal serupa yang dialami ibu dan adikmu juga kau alami!”

Lenyapnya suara misterius tadi menjadi sadarnya Prapto dari mimpinya. Ia bangun sembari mengucek-kucek matanya. Dan membetulkan letak krah bajunya. Sambil lalu mengingat-ingat akan mimpi yang baru melepasnya.

“Dari mana asal suara itu? Apa maksudnya? Apa yang terjadi sama ibu dan adik?” Prapto berdiri sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Prapto mengernyitkan cuping hidungnya. Ia mencium bau sesuatu.

“Benar. Tidak salah lagi. Ini adalah bukti. Tentunya ini berasal dari pemilik suara tadi,” Prapto memastikan prasangkanya dengan semakin mencari-cari bau itu. Bau anyir darah.

“Pasti, yang datang ke dalam mimpiku tadi adalah malaikat kematian. Iya, aku yakin itu suara malaikat Izrail.”

Ia teringat terhadap isi kata-kata yang disuarakan kepadanya tadi. Segera ia beringsut, lalu beranjak pulang.

“Aaakh, untuk apa aku pulang?” pikirnya.

Kakinya tiba-tiba terhenti. Pandangannya mengawang. Kemudian lanjutnya, “Ibu dan adikku pasti masih sangat membenciku. Mereka begitu sayang kepada almarhum ayah. Padahal, jika mereka tahu bahwa ayahlah yang menjerumuskan aku ke lembah nista ini, kuyakin mereka pun sama sengitnya denganku. Tapi, tak baik kusesali keadaan. Daripada menghujat kegelapan malam, lebih baik menyalakan lilin.”

Akhirnya Prapto memutuskan untuk pulang meski ia ragu akan diterima lagi oleh ibu dan adiknya.

***

Sesampainya di kampung halaman, ia tak percaya kalau kampung itu tanah kelahirannya. Selama di perjalanan menuju rumahnya, tak seorang pun menyapa dia. Sudah lupa? Mungkin. Sebab, lebih dari empat tahun Prapto meninggalkan kampung.

Lagi-lagi langkahnya terhenti dikala ia tak lagi melihat rumahnya. Rumahnya rata dengan tanah. Terdapat bekas puing-puing kebakaran di sana. Ia tertegun. Aneh. Bingung. Ia menanyakan penyebab itu kepada para tetangganya yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Prapto.

“Rumahmu hangus akibat aliran listrik yang disambar petir. Kami berbondong-bondong untuk memadamkannya, tapi api itu malah makin beringas melalap rumahmu.”

“Terus, di mana ibu dan adikku sekarang? Bagaimana keadaannya?”

Tak ada jawaban.

“Kenapa tak dijawab? Ke mana ibu serta adikku, hah?”

Agak lama Prapto menanti, ada juga yang berani angkat bicara, “Dengan sangat terpaksa kukatakan yang sebenarnya padamu. Ibu dan adikmu saat peristiwa kebakaran tersebut tak sempat kami tolong. Amukan si jago merah terlalu dahsyat untuk kami lawan. Akhirnya……..”

“Hiks…. Hiks….” Prapto tak mampu menahan luruhan air mata. Tragedi yang sungguh mengiris hati Prapto. Prahara pilu yang teramat tragis selama hidupnya.

Prapto sadar. Ia teringat suara yang datang dalam mimpinya. Hatinya tambah sangat terpukul. Habis sudah. Di dunia ini ia tak punya siapa-siapa lagi. Ibu dan adiknya telah direnggut. Rumahnya hangus. Inilah imbas dari kelakuan biadabnya yang tak kenal pri kemanusiaan.

Sejak peristiwa itu, Prapto yang sekarang bukan Prapto yang dulu lagi. Ia tak bisa bicara kembali. Tak bisa juga menggerakkan kakinya. Ia bisu dan lumpuh. Untungnya masih ada dewa penolong yang membawanya ke rumah sakit untuk menjalani operasi.

***

Suara sepatu perawat terdengar mendekati Prapto yang terbaring di kasur putih. Di tangan perawat itu terhidang sepiring nasi, lengkap dengan sayur dan lauk-pauk. Air mineral di tangan kirinya. Ia letakkan bawaannya di meja persegi empat dekat muka Prapto. Ia memberi isyarat agar Prapto segera menyantapnya.

Seketika Prapto perlahan mengangkat kepala dan badan atasnya. Lalu, dengan sigap ia menarik tangan perawat yang hendak pergi meninggalkan Prapto.

“Eh…. He’eh. E’e…. he’eh,” isyarat Prapto sambil memainkan kepala dan bahasa tangannya. Seakan ia ingin minta diambilkan secarik kertas dan pulpen untuk menulis.

Perawat itu cukup mengerti. Ia pun keluar dan berjanji sesaat akan kembali lagi untuk memenuhi permintaan Prapto. Bola matanya mengekori derap langkah si perawat sampai benar-benar ia yakin perempuan berpakaian serba putih itu telah meninggalkan dirinya.

Tiba-tiba sekelebat bayangan terlihat oleh Prapto. Seketika badannya menggigil. Heran. Di luar kebiasaan. Pasti ada yang tidak beres dengan perasaanku, begitu ia pikir. Awalnya ia mengira perawat itu yang telah datang. Namun lama ia menunggu, tak seorang pun nampak. Prapto makin tak tenang. Ia begitu gelisah. Jangan-jangan malaikat Izrail hendak menepati janjinya, anggap Prapto.

Sesaat kemudian….

“Ini!”

Dengan gemetar Prapto menerima kertas sekaligus pulpen itu dari tangan mungil si perawat. Tak lupa, sekejap ia pandangi muka perawat dan menyatukan telapak tangan kanannya ke telapak kirinya, lalu diletakkan tepat di dadanya. Perawat itu mengangguk.

Tak seberapa lama kemudian, ketika perawat meninggalkan Prapto, suasana kembali hening. Prapto segera makan malam walau tak berselera. Kertas dan pulpennya ia letakkan di atas bantal.

“Ehhuek,” ia keselek tulang ikan yang tidak diketahui ikut termakan. Namun segera bisa dilenyapkan berkat bantuan air mineral yang ia teguk.

Usai makan, Prapto memandang jarum jam yang mengarah ke angka 9. Matanya awas ke samping kanan dan kiri. Tak ada seorang pun yang melihat dirinya. Setika badannya kembali terasa dingin. Sangat dingin. Seakan ia berada di Eskimo. Sekujur badannya seolah beku. Ia ambil pulpen dan kertas di atas bantalnya lalu dipindah ke atas meja di dekatnya. Prapto membenamkan wajahnya di balik bantal. Ia memejamkan mata. Ia kaget, lantas mengangkat bantal dari wajahnya sebab ada tangan yang tiba-tiba mencolek sebagian perutnya.

Prapto semakin terheran-heran. Kaget bercampur takut, setelah ia tahu ternyata tak ada orang yang mengganggunya. Tak ada yang mencolek perutnya. Tapi, sungguh ia sadar bahwa baru saja perutnya terasa ada yang mencolek. Ia melihat ke arah pintu yang terbuka. Matanya memantau siapa yang berlalu-lalang di luar.

Lagi-lagi bayangan itu berkelebat. Prapto sungguh tambah ketakutan. Ia takut malaikat Izrail segera menjemput nyawanya, sebab tobat yang ingin ia lakukan masih hanya sebatas dalam niatan. Tetapi, bukankah niat saja sudah ada nilainya?

Ia ambil kembali kertas dan pulpen di meja itu. Kertas yang tadinya kering, ternyata bersenyawa dengan kondisi badan Prapto. Bahkan, lebih dari itu. Kertas tersebut menjadi kuyup seolah terendam dalam air. Prapto kehabisan harap. Sebab, di kertas itulah ia ingin menuangkan segala kegundahan yang selama ini menyelimutinya. Ia hendak menguntai sebait kata guna pelenyap keresahan yang dikandungnya. Namun, sesaat itu semuanya menjadi luntur.

Masih ada hari esok, lebih baik kukeringkan dulu kertas ini agar tetap bisa digunakan, harap Prapto. Ia letakkan kembali kertas itu di tempat semula. Penuh kehati-hatian. Ia tak ingin kertas satu-satunya tersebut sobek akibat kecerobohannya.

Prapto menghela napas. Dingin di badannya lambat-laun mulai mereda. Selang beberapa menit kemudian, ia bermaksud melanjutkan keinginannya yang sempat kandas. Karena rupanya kertas itu sudah kering seperti sedia kala.

Cepat-cepat Prapto mengambil pulpen yang tergeletak di meja. Tak henti-hentinya ia dibuat heran lagi oleh keadaan. Pulpen itu menjadi dingin sedingin es lilin. Secepat kilat dingin tersebut menjalar ke tubuh Prapto. Lagi-lagi Prapto merasa kedinginan yang sangat di tubuhnya. Sampai ia pun hafal, rasa dingin itu petanda di sekitarnya ada sekelebat bayangan. Dan benar memang, ternyata bayangan itu terlihat lagi oleh Prapto.

Ketakutan Prapto kian tambah berlipat-lipat. Ia benar-benar takut didatangi malaikat Izrail. Namun ketakutannya tersebut, menjadikan Prapto semakin berambisi untuk secepat mungkin merampungkan maksudnya. Walau dengan gemetar, tangan kiri Prapto sangat kuat hendak menulis ke kertas putih di atas meja. Namun nyatanya, nasib untung belum di pihak Prapto. Ujung pulpen itu beku sehingga tak dapat mengalirkan goresan.

Kurang lebih sejam kemudian, Prapto kembali bangkit. Ia bangun dengan semangat barunya. Kini air mukanya sedikit riang. Ia agak senang sebab kertas itu sudah mengering, tapi entah dengan pulpen, apakah sudah tidak lagi beku? Tidak, ternyata. Pulpen itu sudah kembali seperti semula.

Prapto melihat ke luar ruangan sambil menoleh kanan-kiri. Ia hendak memastikan kalau kelebat bayangan tadi tidak menghantuinya lagi. Cepat-cepat ia menulis surat di kertas tersebut.

Kepada yang Terhormat: Tuan Izrail

Di Seantero Kawasan

Salam perdamaian.

Sehubungan dengan surat ini, aku mohon dengan sangat. Tolong jangan dulu kau ambil nyawaku saat ini, sebab aku masih belum siap menghadap Tuhanku. Aku yang terlalu berlumur dosa ini sangat tidak pantas menemui Tuhan Yang Maha Suci. Berilah aku waktu untuk bertobat sebelum kau hendak memisahkan ruh dengan jasadku.

Demikian surat ini aku buat dalam tempo sesingkat-singkatnya dan harap dimaklumi adanya.

Sekian dulu. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

Salam sejahtera.

Ttd

PRAPTO

Pikiran dan hatinya sudah mantap ingin memberikan surat itu kepada malaikat Izrail tatkala datang dengan kelebat bayangan. Mungkin dengan surat itu suara hati Prapto sampai dengan leluasa ke pangkuan Izrail. Mungkin surat itu mampu menjadi penyambung lidah Prapto yang tidak ingin mati dalam keadaan menyandang status: BELUM TOBAT. Ia mengira bahwa dengan surat itu ia lebih sopan memohon kepada malaikat Izrail daripada langsung secara lisan.

***

Tepat pukul 00.04 dini hari. Badan Prapto kembali disergap dingin sedingin-dinginnya. Ia menggigil tak tertahankan. Kertas yang digenggamnya menjadi basah, tapi ia tak menyadari. Ia perhatikan sekelilingnya. Sebagaimana biasa, dingin sebagai isyarat kedatangan malaikat Izrail.

Kalau Izrail betul-betul muncul, sebelum ia mengambil nyawaku, akan kuberikan terlebih dulu surat ini agar ia menangguhkan rencananya, hasrat Prapto makin meletup.

Prapto sudah begitu siap memberikan surat itu kepada malaikat Izrail. Bukan hanya siap menghadapi kelebatnya, namun ia juga sudah siap menanggung semua risiko yang hendak diterima. Lama menanti, tetapi kelebat itu belum terlihat pula. Mata Prapto menyipit, lebih waspada memperhatikan bayangan samar yang akan menyembul. Tak juga nongol rupanya. Ia perhatikan pintu masuk. Ia rasakan embun yang terhempas angin malam ke dalam ruangan. Ternyata itulah sumber hawa dingin sedari tadi.

Prapto kecewa. Ia gagal memberikan surat itu kepada malaikat Izrail. Surat yang ia tulis dengan susah payah, pada akhirnya menjadi basah, lusuh, sobek dan goresannya kabur tak terbaca. Ia teramat menyesal. Kesal yang sangat. Putus asa, bahkan.

Sementara embun yang telah kawin mesra bersama angin semakin dingin berembus. Prapto kembali menorehkan suara hatinya dalam bentuk tulisan kepada malaikat Izrail. Ia tulis di seprai putih alas tempat tidurnya.

Kepada yang Mulia: Tuan Izrail

Langsung saja…

Kali ini kumohon, jangan permainkan aku.

Jangan ganggu aku lagi. Biar aku bisa tenang.

Sekali lagi kumohon.

Ttd

PRAPTO

Demikian singkat tulisan itu.

Dengan perlahan Prapto menarik sedikit demi sedikit seprai putih tersebut. Lalu, dibuat selimut agar badannya tak lagi dihinggap dingin. Ia juga menutup mukanya dengan bantal, biar matanya tak lagi melihat kelebat bayangan semu. (*)