Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Ilustrasi cerpen Senja Terakhir di Kampung yang Masih Bernapas (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Matahari sudah condong ke barat, warna jingga merah membakar pucuk-pucuk kelapa yang masih tersisa. Pak Kromo duduk di beranda rumah kayu yang tiangnya sudah miring. Di tangannya sebatang rokok kretek menyala perlahan, asapnya menari bersama angin sore yang membawa bau tanah basah dan asap tungku tetangga.

Kampung ini dulu bernama Sumberagung. Sekarang orang-orang hanya memanggilnya Kampung yang Masih Bernapas—sebutan setengah bercanda dan setengah putus asa. Sawah-sawah di belakang sudah menjadi kolam tambak udang milik perusahaan dari kota. Rumah-rumah bambu sudah berganti tembok bata, lalu ditinggalkan karena retak dan banjir rob. Hanya segelintir orang yang bertahan, seperti Pak Kromo, Mbok Sari, dan tiga anak kecil yang masih suka bermain di pematang tambak meski airnya sudah keruh.

Hari ini senja terasa lebih berat. Kemarin malam surat pengumuman dari perusahaan tiba. Dalam tiga puluh hari semua rumah yang tersisa harus dibongkar. Tanah akan diratakan untuk perluasan tambak dan pembangunan resort kecil. Ganti rugi pun ditawarkan: cukup untuk beli rumah petak di pinggir kota, tapi tidak cukup untuk membeli sebidang tanah yang bisa ditanami lagi.

Pak Kromo menatap ke arah timur. Di sana, di balik deretan pohon jati yang sudah jarang, masih berdiri pohon waru besar tempat dulu istrinya, Mbok Wulan, menggantung ayunan untuk anak-anak kampung. Pohon itu kini miring, akarnya setengah terbuka karena tanah di bawahnya terkikis rob di setiap bulan purnama. Mbok Wulan sudah pergi sepuluh tahun lalu, terkena stroke di beranda yang sama. Sejak saat itu Pak Kromo tidak pernah lagi duduk di ayunan.

Tiba-tiba terdengar langkah kecil. Itu Arga, cucu Mbok Sari, berlari menghampiri sambil membawa layangan yang putus talinya.

“Pak Kromo, layanganku jatuh ke tambak. Bisa minta tolong ambilkan?”

Pak Kromo memandang anak itu. Wajahnya kotor karena lumpur, matanya masih berbinar meski besok tidak ada lagi tempat untuk menerbangkan layangan.

“Iya, nanti Bapak ambilkan. Tunggu di sini.”

Pak Kromo bangkit perlahan. Lututnya berderit seperti kayu tua. Ia berjalan menuju pematang sempit yang memisahkan rumah-rumah dengan tambak. Air sudah naik setinggi betis. Layangan Arga tersangkut di ranting mangrove yang mati. Pak Kromo meraihnya dengan tangan gemetar, lalu kembali ke beranda sambil mengibas-ngibaskan air dari celana.

“Terima kasih, Pak,” kata Arga sambil tersenyum lebar. “Besok aku terbangin lagi ya?”

Pak Kromo hanya mengangguk. Ia tahu besok mungkin tidak ada lagi angin yang sama, tidak ada lagi ruang kosong untuk layangan beterbangan.

Malam turun dengan cepat. Lampu-lampu neon dari tambak perusahaan menyala terang di kejauhan, membuat bintang-bintang di atas terlihat pucat. Mbok Sari datang membawa sepiring pisang goreng dan teh panas. Mereka duduk dan diam di beranda, hanya ditemani suara jangkrik dan sesekali bunyi mesin pompa air tambak.

“Besok kita ke mana, Kromo?” tanya Mbok Sari pelan.

Pak Kromo menatap sisa bara rokok di tangannya.

“Entahlah. Mungkin ke rumah anakku di Surabaya. Atau mungkin ke mana saja yang masih punya pohon.”

Mbok Sari menghela napas. “Aku takut kota. Di sana orang berjalan dengan cepat, tak saling sapa.”

Mereka terdiam lagi. Angin membawa bau amis udang dan garam. Di kejauhan terdengar suara anak-anak kecil tertawa—mungkin Arga dan teman-temannya masih bermain meski sudah gelap.

Pada pagi berikutnya, Pak Kromo bangun sebelum subuh. Ia mengambil parang kecil, lalu berjalan ke pohon waru yang miring. Dengan gerakan lambat ia memotong ranting-ranting kecil yang masih hidup, mengumpulkannya menjadi satu ikatan. Setelah itu ia kembali ke beranda, mengambil ember tua, lalu mengisinya dengan tanah dari bawah pohon itu.

Ia menanam beberapa bibit waru kecil di pekarangan rumahnya yang sempit. Bibit-bibit itu ia dapat dari Mbok Wulan dulu, disimpan bertahun-tahun di gudang kecil.

“Kalau aku pergi, setidaknya ada yang tumbuh di sini,” gumamnya sendiri.

Siang itu truk-truk perusahaan datang. Beberapa pekerja muda turun, membawa alat ukur dan papan nama baru. Mereka memasang plang bertuliskan “Proyek Pengembangan Tambak dan Wisata Bahari – PT Makmur Laut”. Pak Kromo memandang dari beranda tanpa berbicara.

Arga datang lagi sore itu, membawa layangan yang sudah diperbaiki.

“Pak, besok kita terbangin bareng ya? Di lapangan dekat sungai, masih ada tempat di situ.”

Pak Kromo pun tersenyum tipis. “Besok pagi, sebelum matahari terbit. Kita kejar angin pagi.”

Malam terakhir di kampung itu, Pak Kromo tidak tidur. Ia duduk di beranda sampai senja benar-benar menghilang. Langit berubah ungu tua, lalu hitam pekat. Di kejauhan lampu-lampu tambak masih berkedip, tapi di kampung ini hanya ada lampu minyak tanah yang redup.

Ia mengambil selembar kain putih tua—kain sarung Mbok Wulan—lalu melipatnya rapi di pangkuan. Di sampingnya, bibit-bibit waru kecil berdiri tegak di ember tanah.

“Masih bernapas,” bisiknya pada angin.

Keesokan paginya, sebelum fajar, Pak Kromo dan Arga berjalan ke lapangan kecil di dekat sungai. Layangan pun naik tinggi, menari di angin pagi yang dingin. Untuk sesaat kampung terasa hidup lagi—ada tawa anak kecil, ada benang layangan yang bergetar, ada pohon waru yang masih berusaha berdiri meskipun miring.

Ketika matahari muncul, tiba-tiba layangan putus lagi. Kali ini talinya benar-benar habis. Layangan jatuh ke sungai, hanyut perlahan menuju laut.

Pak Kromo tidak mengejar.

Ia hanya berdiri, memandang layangan itu pergi, lalu berbalik menatap rumah-rumah yang sebentar lagi akan rata dengan tanah.

“Sudah,” katanya pelan.

Arga memandangnya bingung.

“Sudah apa, Pak?”

“Sudah cukup untuk bernapas.”

Pak Kromo berjalan pulang. Di beranda ia mengangkat ember berisi bibit waru itu, lalu membawanya ke pohon waru tua yang miring. Dengan hati-hati ia menanam bibit-bibit itu mengelilingi batang induknya.

Matahari sudah tinggi ketika truk pembongkar mulai bekerja. Suara mesin menggema. Pak Kromo duduk di beranda untuk terakhir kalinya, memandang senja yang belum datang, tapi ia tahu sudah tidak akan pernah sama.

Kampung ini akan mati. Tapi di bawah pohon waru tua itu, beberapa bibit kecil mulai menghirup udara. Kecil, rapuh, tapi masih bernapas.