Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Memakan Hak Orang Lain (Gemini AI)
Oktavia Ningrum

Aku hanya ingin nasi padang. Bukan rendang bertingkat, bukan gulai kepala ikan yang berenang di kuah santan penuh dosa kolesterol.

Hanya setengah porsi nasi, tanpa ayam, dengan kuah sedikit saja. Sedikit, yang kalau ditakar pakai kejujuran, mungkin cuma cukup buat membasahi nasi dan perasaan.

Sepuluh ribu rupiah.

Dibayar pakai QRIS.

Selesai.

Hidup, pikirku, sedang sederhana hari itu.

Aku melangkah keluar warung, aroma santan masih menempel di hidung, ketika suara itu datang. Seperti suara tak diundang dalam lagu yang sudah mau selesai.

Parkir, Mbak.”

Aku berhenti. Menoleh. Menghela napas pelan.

“Mas, saya nggak ada uang receh. Tadi bayarnya pakai QRIS,” kataku sopan, sambil mengulurkan uang dua puluh ribu. Satu-satunya uang fisik di dompetku, seperti iman yang tinggal sisa-sisa.

Kang parkir itu mengambil uangku.

Memasukkannya ke saku.

Lalu… pergi.

Bukan pergi jauh. Hanya beberapa langkah ke mobil sebelah, seolah dua puluh ribu itu sudah sah menjadi miliknya. Seolah kembalian adalah mitos yang hanya hidup di buku ekonomi SMP.

“Mas,” panggilku, nadaku masih manusia.

“Uangnya dua puluh ribu.”

Ia menoleh setengah badan. Wajahnya datar. Suaranya ringan, tapi kalimatnya berat.

“Saya cacat, Mbak.”

Aku diam.

Otakku bekerja, tapi jaringan logikaku buffering. Aku menunggu kelanjutan. Mungkin ada penjelasan. Mungkin ada kalimat kedua.

Tidak ada.

“…Terus?” tanyaku akhirnya. “Apa hubungannya sama uang saya?”

Ia mendesah, seperti aku yang salah paham terhadap semesta.

Sampeyan ndak kasihan ta?” katanya.

“Biasanya orang nggak minta kembalian,” lanjutnya. 

Ah.

Di titik itu, aku sadar. Ini bukan soal parkir. Ini soal narasi. Tentang bagaimana satu kondisi dijadikan kartu sakti untuk membungkam logika orang lain.

Aku menatapnya, pelototan maksimal. Sayangnya mataku sipit, tidak diciptakan untuk intimidasi, dan lebih cocok untuk menahan tawa atau pura-pura sabar.

“Mas,” kataku pelan tapi padat,

“Warung Padang ini jual nasi ayam sepuluh ribu. Mereka masak dari sore, bangun subuh, ngulek bumbu, tanggung risiko basi. Untungnya paling empat ribu.”

Aku menunjuk tanah di bawah kakinya.

Sampeyan cuma berdiri di depan warung. Nebeng nama parkir. Terus minta dua puluh ribu? Yo ora masuk akal.”

Aku berhenti sebentar, memberi ruang pada akal sehat untuk masuk.

“Kembaliannya, Mas,” tagihku sambil menjulurkan tangan tidak tahu diri. Jemariku menari ke atas dan ke bawah, menuntut kembalinya sisa-sisa receh yang hampir dijajah orang lain. 

Ia mengedumel. Tangannya merogoh saku. Barulah aku melihat jelas, tangannya memang berbeda. Ada kelainan bentuk, nyata, tak bisa disangkal.

Dan di situ, ada jeda kecil dalam diriku. Bukan kasihan, melainkan kesadaran bahwa cacat fisik itu nyata.

Tapi cacat nalar... itu pilihan.

Ia menyerahkan uang lima belas ribu. Wajahnya masam, seperti orang yang merasa dizalimi padahal baru saja gagal menzalimi.

Aku menerima uang itu.

“Terima kasih,” kataku, netral.

Aku berjalan pergi, sambil tertawa kecil dalam hati. Bukan karena lucu, tapi karena absurd.

Di kepalaku, kata cacat berputar-putar lalu berubah bentuk. Menjelma suara-suara lain yang sering kudengar, di tempat lain, oleh orang-orang lain.

Cacat: “Hei, harusnya kamu kasihan. Saya ini cacat, lho.”

Bodoh: “Hei, harusnya kamu maklum. Saya kan nggak ngerti.”

Stres: “Kamu harus nurut. Saya lagi stres.”

Miskin: “Kamu wajib sedekah. Saya miskin.”

Pejabat: “Saya ini pejabat. Kamu tahu sendiri lah. Upeti. Pajak!”

Semuanya sama.

Berbeda kostum, satu panggung.

Semua ingin satu hal. 

Hak tanpa tanggung jawab, empati tanpa kejujuran, dan belas kasihan tanpa batas.

Padahal, dunia ini tidak runtuh hanya karena seseorang meminta kembalian. Yang runtuh adalah ketika ketidakadilan dibungkus alasan, lalu disuruh kita terima sambil tersenyum.

Aku membuka bungkus nasi padang di rumah. Kuahnya sudah menyerap nasi, seperti kejadian tadi menyerap pikiranku.

Aku makan perlahan.

Hari itu aku belajar satu hal. Tidak semua yang cacat perlu dikasihani, dan tidak semua yang normal berani jujur.

Gelap?

Tidak.

Ini cuma terang yang terlalu jujur untuk sebagian orang.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS