Pulpen itu tergeletak sendirian di atas meja kayu yang penuh goresan tipis dan noda tinta lama. Tubuhnya hitam polos, tanpa merek, tanpa hiasan, dan tanpa penutup. Dari bentuknya, tidak ada yang istimewa. Pulpen seperti itu bisa ditemukan di mana saja, terselip di sudut kelas atau terlupakan di laci kantor. Namun, sejak pertama kali aku melihatnya, ada rasa ganjil yang sulit kujelaskan, seolah-olah benda sederhana itu menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya disentuh sembarang orang.
Aku menemukannya di ruang arsip sekolah lama tempat aku bekerja sebagai staf administrasi. Ruangan itu jarang dibuka, bahkan oleh pegawai lain. Rak-rak besi berisi map usang berdiri rapat, udara terasa lembap, dan debu menempel di setiap sudut. Pulpen itu berada di atas selembar kertas kosong di meja kecil dekat jendela, seakan-akan sengaja ditinggalkan dan menunggu untuk diambil.
Saat kugenggam, beratnya terasa pas di tanganku, tidak terlalu ringan dan tidak terlalu berat. Ada rasa nyaman yang aneh, seperti aku telah lama mengenalnya. Aku membawanya ke meja kerja dan menggunakannya untuk menandatangani beberapa dokumen. Tinta hitamnya mengalir lancar, rapi, dan konsisten. Tulisan tanganku terlihat lebih tegas dari biasanya; garis-garisnya lurus dan penuh keyakinan. Aku bahkan sempat berpikir bahwa pulpen itu berkualitas tinggi.
Keanehan mulai muncul ketika jam kerja hampir selesai. Aku menuliskan catatan kecil tentang pekerjaan yang harus kuselesaikan keesokan harinya. Setelah menulis daftar tersebut, tanganku tidak berhenti bergerak. Di bawahnya, muncul satu kalimat yang tidak pernah kurencanakan: "Jangan ulangi kesalahan yang sama." Aku menatap tulisan itu lama, mencoba mengingat kapan aku menuliskannya, tetapi tidak ada ingatan yang muncul.
Aku menertawakan diriku sendiri dan menganggapnya sebagai kelengahan. Namun, rasa tidak nyaman tetap tinggal. Kalimat itu terasa terlalu pribadi, seolah-olah ditujukan langsung kepadaku. Malam itu, aku memutuskan membawa pulpen tersebut pulang.
Di kamar, aku membuka buku catatan lama yang sudah jarang kugunakan. Dengan ragu, aku mulai menulis tentang hari yang melelahkan. Lagi-lagi, pulpen itu menambahkan kata-kata yang tidak pernah kurencanakan. Ia menuliskan keluhanku yang tidak berani kuucapkan, lalu melanjutkannya dengan kalimat tentang penyesalan yang selama ini kupendam. Aku terdiam, tetapi tidak menghentikannya.
Semakin lama aku menulis, semakin terasa bahwa pulpen itu tidak menuliskan kebohongan. Ia hanya mengeluarkan hal-hal yang selalu kutahan: rasa iri terhadap orang lain, kemarahan yang kusembunyikan di balik senyum, dan ketakutan akan masa depan yang selalu kuhindari. Semua tertuang dengan tinta hitam yang dingin dan jujur, tanpa memberi ruang bagiku untuk menyangkal.
Hari-hari berikutnya, aku mulai bergantung pada pulpen tersebut. Aku menggunakannya untuk menulis surat yang tidak pernah kukirim, pengakuan yang tidak pernah kuucapkan, dan pikiran-pikiran yang selama ini hanya berputar di kepalaku. Setiap kali selesai menulis, aku merasa lelah sekaligus lega, seolah-olah baru saja mengeluarkan beban yang terlalu lama kupikul.
Suatu malam, aku memberanikan diri menulis tentang masa lalu yang ingin kulupakan—tentang satu keputusan yang merenggangkan hubunganku dengan keluarga dan meninggalkan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Tanganku gemetar, tetapi pulpen itu tetap menari di atas kertas. Ia menuliskan detail-detail yang selama ini berusaha kuhapus dari ingatan. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan, tetapi aku tidak menghentikannya.
Sejak malam itu, aku menyadari bahwa pulpen tersebut bukan sekadar alat tulis. Ia adalah cermin. Ia memantulkan diriku apa adanya tanpa memberi kesempatan untuk bersembunyi. Namun, aku juga mulai kehilangan batas. Aku menyerahkan kejujuran pada tinta, berharap kata-kata bisa mengambil keputusan yang tidak berani kuambil sendiri.
Puncaknya terjadi ketika aku tertidur di meja dengan pulpen masih berada di tanganku. Saat terbangun, buku catatanku telah terisi penuh. Di sana tertulis sebuah keputusan besar tentang hidupku, ditulis dengan kalimat tegas dan tanpa ragu, seolah-olah sudah lama dipersiapkan. Aku panik. Aku mencoba menuliskan kebalikannya, mencoba menarik kembali keputusan itu, tetapi tinta tidak keluar. Pulpen itu diam, seolah-olah menolak kehendakku.
Saat itulah aku mengerti. Pulpen itu tidak pernah mengendalikan diriku. Akulah yang dengan sukarela menyerahkan kendali. Aku menggunakan kejujuran sebagai pengganti keberanian, berharap tulisan bisa bertanggung jawab atas hidupku.
Keesokan harinya, aku kembali ke ruang arsip sekolah lama. Dengan langkah berat, aku meletakkan pulpen itu di atas meja kayu tempat pertama kali kutemukan. Aku tidak menghancurkannya dan tidak pula membuangnya. Aku hanya meninggalkannya bersama selembar kertas kosong, membiarkannya menunggu orang lain yang mungkin belum siap menghadapi dirinya sendiri.
Kini, aku kembali menulis dengan pulpen biasa. Tulisan tanganku kembali goyah, penuh coretan, dan ragu. Namun, setiap kata terasa sepenuhnya milikku. Aku belajar bahwa kejujuran memang penting, tetapi tanpa keberanian untuk bertanggung jawab, ia bisa menjadi beban yang menyesatkan. Pulpen itu mengajarkanku satu hal yang tidak pernah kutemukan di buku mana pun: bahwa kata-kata hanyalah alat, dan manusialah yang harus menentukan arah hidupnya sendiri.
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sinopsis Film Tolong Saya! (Dowajuseyo), Horor Psikologis Lintas Budaya
-
Intip 4 Mix and Match OOTD ala Bang Jeemin izna yang Cocok Buat Hangout!
-
Cha Eun-woo Terseret Dugaan Penggelapan Pajak, Agensi Siap Ikuti Hukum
-
Review Film Mercy: Paranoia Teknologi dan Keadilan Instan yang Menyeramkan!
-
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Film Horor Brutal yang Kuras Emosi Aulia Sarah