Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Ilustrasi ikan piranha (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di kedalaman Sungai Negro yang gelap, Zoe adalah piranha terkecil di kawanan. Gigi-giginya tajam, tapi tubuhnya hanya sebesar daun teratai kecil. Kawanan memanggilnya “Zoe yang Tak Berguna” karena ia tak pernah ikut mengoyak mangsa. Saat yang lain berlomba mencabik ikan besar, Zoe hanya mengambang diam, menatap pantulan matahari di permukaan air.

“Matahari itu tak bisa kau makan,” ejek pemimpin kawanan, si Tua Bercak Merah. “Turunlah ke gelap, atau kau mati kelaparan.”

Zoe tak menjawab. Setiap pagi, ketika sinar pertama menembus kanopi hutan Amazon dan mencapai sungai, ia berenang ke atas. Di sana, di antara akar-akar yang menjuntai, ia mengapung menghadap cahaya. Ia tak tahu kenapa, tapi setiap kali matahari menyentuh sisiknya, ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar—seperti lagu yang tak bisa ia nyanyikan.

Suatu musim kering parah tiba. Air surut. Sungai Negro menyempit menjadi genangan-genangan berlumpur. Ikan-ikan kecil menghilang. Kawanan piranha mulai saling menggigit. Yang lemah dimakan duluan. Zoe menyaksikan teman-temannya menjadi kanibal demi bertahan.

Malam itu, kawanan berkumpul di lubang dalam. “Kita harus pindah ke anak sungai yang lebih dalam,” kata si Tua. “Tinggalkan yang tak kuat.”

Mata mereka tertuju pada Zoe.

Zoe berenang keluar sendirian. Ia naik ke permukaan yang kini hanya setinggi lutut manusia. Di sana, matahari terbenam merah darah. Zoe mengapung, menatap langit jingga. Untuk pertama kalinya ia berbisik pada dirinya sendiri, “Kalau aku tak bisa makan seperti mereka, mungkin aku bisa melakukan sesuatu yang lain.”

Pagi berikutnya, Zoe berenang ke hulu sungai—arah yang tak pernah dipilih kawanan karena arus terlalu deras dan air dangkal. Ia melawan arus dengan seluruh kekuatannya. Sisiknya terkelupas. Gigi-giginya nyaris patah karena menggigit batu agar tak terseret. Tapi ia terus maju.

Di tengah perjalanan, ia menemukan sesuatu: sebuah celah kecil di antara akar pohon raksasa. Dari celah itu mengalir air segar—sumber mata air tersembunyi yang belum tersentuh kekeringan. Air itu jernih, dingin, penuh ikan kecil yang masih hidup.

Zoe tak langsung memanggil kawanan. Ia tahu jika ia bilang “ikut aku, ada makanan”, mereka tak akan percaya. Piranha tak percaya pada yang lemah.

Ia kembali ke genangan utama. Kawanan sedang bertikai. Dua piranha besar saling menggigit di depan mata yang lain.

Zoe berenang ke tengah. Suaranya kecil, tapi ia berteriak sekuat mungkin: “Ikut aku kalau kalian mau hidup. Bukan karena aku kuat. Karena aku melihat apa yang kalian tak lihat.”

Mereka menertawakan. Si Tua maju. “Kau bahkan tak bisa menggigit ikan. Apa yang kau tawarkan?”

Zoe menatap matahari yang baru terbit. “Aku tawarkan cahaya. Bukan cahaya di langit. Cahaya yang membuat kita tak perlu saling memakan.”

Ia berbalik dan berenang ke hulu lagi. Kali ini, tiga piranha kecil mengikuti—mungkin karena tak ada pilihan lain. Lalu lima. Lalu sepuluh. Akhirnya hampir seluruh kawanan ikut, termasuk si Tua yang masih meragukan.

Perjalanan itu brutal. Arus menghantam. Batu-batu tajam melukai. Beberapa menyerah dan kembali. Tapi Zoe tak berhenti. Setiap kali kawanan mau putus asa, ia mengapung ke permukaan, membiarkan matahari menyentuh sisiknya, lalu berkata, “Lihat. Masih ada cahaya. Masih ada harapan.”

Akhirnya mereka sampai. Mata air itu mengalir deras, membentuk kolam kecil yang penuh kehidupan. Ikan-ikan kecil berenang riang. Zoe berdiri di depan aliran, tak memakan satu pun. Ia hanya menonton.

Si Tua mendekat. “Kenapa kau tak makan?”

Zoe menjawab pelan, “Karena aku lapar akan sesuatu yang lebih besar dari daging. Aku lapar akan tempat di mana kita tak harus jadi monster untuk bertahan.”

Malam itu, kawanan tak saling menggigit. Mereka berbaring di dasar kolam yang jernih, menatap pantulan bintang dan matahari yang sudah tenggelam. Zoe mengapung di atas, membiarkan cahaya bulan menyentuh sisiknya.

Hari-hari berikutnya, sungai mulai pulih. Air naik lagi. Tapi kawanan tak kembali ke genangan gelap. Mereka tetap di mata air itu. Dan setiap pagi, Zoe naik ke permukaan, membiarkan matahari menyapa. Kawanan mengikuti—bukan untuk makan, tapi untuk merasakan hangat yang sama.

Si Tua suatu hari berkata, “Kau tak pernah jadi piranha seperti kami. Tapi kau membuat kami jadi sesuatu yang lebih baik.”

Zoe tersenyum—senyum kecil yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Aku hanya piranha yang memilih menatap matahari daripada menggigit kegelapan.”

Hutan Amazon terus bernapas. Sungai terus mengalir. Dan di salah satu sudut kecilnya, ada kawanan piranha yang tak lagi haus darah. Mereka haus cahaya.

Karena terkadang, yang terkecil dan paling tak terduga—yang tak pernah ikut mengoyak—adalah yang membawa kita keluar dari kegelapan.