Di ladang yang selalu menghadap timur, berdiri sebatang bunga matahari bernama Surya. Batangnya tinggi, daunnya lebar, tapi kelopaknya tak pernah sepenuhnya terbuka. Ia selalu menunduk sedikit, seolah menyimpan rahasia. Petani bilang ia sakit. Burung-burung bilang ia sombong. Hanya angin yang tahu: Surya takut mekar penuh karena takut layu terlalu cepat.
Setiap pagi, ketika matahari baru muncul, seekor lebah kecil bernama Putput datang. Sayapnya berderit karena pernah tersangkut duri waktu kecil. Ia tak pernah ikut kawanan lebah besar yang sibuk mengumpul nektar dari bunga-bunga genit. Putput hanya mendarat di Surya—satu-satunya bunga yang tak pernah mengusirnya.
“Kenapa kau selalu menunduk?” tanya Putput suatu pagi.
Surya diam lama. “Kalau aku mekar penuh, matahari akan membakarku. Angin akan merobek kelopakku. Hujan akan membuatku busuk. Lebih aman begini.”
Putput menggeleng. “Kau takut mati sebelum mati.”
Surya terkejut. Tak ada yang pernah bicara seberani itu padanya.
Putput tak memaksa. Ia hanya mendarat setiap hari, mengisap sedikit nektar yang tersisa di kelopak tertutup, lalu pergi tanpa keluhan. Kadang ia membawa serbuk sari dari bunga lain—bukan untuk disimpan, tapi untuk ditaburkan di sekitar Surya. “Biar kau tak sendirian,” katanya.
Di hari ke-47, badai datang. Angin kencang, hujan deras. Bunga-bunga lain roboh. Surya bertahan karena batangnya kuat, tapi kelopaknya semakin rapat tertutup. Putput tak datang. Surya menunggu. Sepanjang malam ia merasa kosong.
Pada pagi ke-48, ladang basah dan hening. Putput muncul—sayap kirinya patah separuh, tubuhnya basah kuyup. Ia terbang miring, hampir jatuh, tapi tetap mendarat di Surya.
“Kau terluka,” bisik Surya.
“Sayapku putus di pohon akasia. Aku jatuh ke lumpur. Hampir tak bisa terbang lagi.”
“Kenapa kau tetap datang?”
Putput tersenyum kecil. “Karena kau masih menunggu. Dan aku tak mau kau menunggu sendirian.”
Surya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasakan getar di dalam batangnya—bukan rasa takut, melainkan sesuatu yang hangat.
Putput tak bisa terbang jauh lagi. Ia tinggal di Surya. Siang hari ia bersembunyi di bawah kelopak. Malam hari ia menggigil di tangkai. Surya melindunginya dengan daun lebarnya dari embun. Mereka tak banyak bicara. Hanya ada.
Di hari selanjutnya, matahari terbit sangat terang. Putput naik ke puncak kelopak Surya yang masih tertutup. “Hari ini kau harus mekar.”
“Aku takut.”
“Tak apa. Aku juga takut terbang dengan sayap patah. Tapi aku tetap terbang ke sini.”
Surya menarik napas dalam—seolah batangnya mengembang. Perlahan kelopaknya terbuka. Satu per satu. Warna kuning cerah memenuhi ladang. Cahaya matahari menyentuh wajahnya penuh. Panas. Terik. Tapi juga indah.
Putput berdiri di tengah bunga yang kini mekar sempurna. “Lihat. Kau tak terbakar. Kau bersinar.”
Surya menangis—air mata nektar menetes pelan. “Aku tak tahu bisa begini indah.”
Putput mengangguk. “Kau selalu bisa. Hanya perlu satu lebah bodoh yang tak menyerah.”
Sejak hari itu, Surya tak lagi menunduk. Ia menghadap matahari setiap pagi, mekar penuh, memberi nektar berlimpah. Putput tak bisa terbang jauh, tapi ia tetap di sana—menjadi penjaga kecil di tengah bunga raksasa. Kawanan lebah lain mulai datang. Burung-burung bernyanyi. Petani tersenyum melihat ladang yang hidup kembali.
Suatu sore, ketika angin sepoi membawa aroma nektar, Putput berbisik, “Aku mungkin tak akan lama lagi. Sayapku semakin lemah.”
Surya menggoyang kelopaknya pelan. “Tak apa. Kau sudah memberiku satu musim penuh cahaya. Itu lebih dari cukup.”
Putput tersenyum. “Dan kau memberiku tempat pulang.”
Malam itu, Putput tertidur di tengah bunga. Tak bangun lagi. Surya tak menangis. Ia hanya membuka kelopak lebih lebar keesokan paginya, membiarkan matahari menyentuh tempat Putput pernah berada.
Ladang itu tetap hidup. Bunga matahari lain mulai meniru Surya—tak lagi takut mekar. Lebah-lebah kecil belajar: tak perlu sayap sempurna untuk membuat perubahan.
Dan setiap pagi, ketika matahari terbit, Surya berbisik pelan ke angin:
Surya berbisik pelan ke angin: “Terima kasih, Putput. Kau lebah kecil yang mengajarkanku cara mencintai cahaya—meski hanya dengan datang setiap hari.”
Musim pun telah berganti. Ladang semakin hijau. Bunga matahari lain, yang dulu selalu menunduk seperti Surya, mulai mengangkat kepala. Kelopak mereka terbuka lebar, menangkap matahari tanpa ragu. Nektar mengalir deras. Kawanan lebah besar kembali, tapi kali ini mereka tak lagi mengabaikan lebah kecil yang sayapnya cacat. Putput telah meninggalkan teladan: kehadiran lebih berarti daripada kesempurnaan.
Petani memperhatikan perubahan itu. Ia tak lagi memanggil Surya “bunga sakit”. Ia menamainya “Surya Penjaga”—karena ladang itu kini tak pernah sepi, bahkan di musim kemarau. Burung-burung bernyanyi lebih riang. Anak-anak lebah baru lahir mendengar cerita tentang lebah kecil bernama Putput yang tak pernah menyerah meski sayapnya patah.
Suatu pagi, seekor lebah muda bernama Riri mendarat di kelopak Surya. Sayapnya baru tumbuh, masih lemah. “Aku takut terbang jauh,” katanya gemetar.
Surya menggoyang kelopaknya lembut. “Putput juga takut. Tapi ia tetap datang. Kau tak perlu terbang jauh. Cukup datanglah setiap hari. Itu sudah cukup untuk mengubah seseorang.”
Riri diam sejenak, lalu tersenyum. Ia mulai mengunjungi Surya setiap pagi, membawa serbuk sari kecil dari bunga tetangga. Perlahan, ia berani terbang lebih tinggi. Lalu lebih jauh. Hingga suatu hari ia memimpin kawanan kecil ke ladang baru yang belum disentuh.
Surya menatap ke timur, kelopaknya tetap terbuka lebar. Matahari menyentuh tempat kosong di tengahnya setiap pagi—tempat Putput pernah tidur terakhir kali. Tak ada kesedihan lagi. Hanya rasa syukur yang hangat.
Karena Surya tahu: kehidupan tak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari seberapa dalam ia menyentuh yang lain. Dan Putput, meski kecil dan rapuh, telah menyentuh ladang selamanya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tak Pakai Hijab Lagi, Jule Ngaku Salah dan Minta Maaf ke Na Daehoon
-
Kasus Penipuan Eks Karyawan Fuji Resmi Disidik, Diduga Tak Bekerja Sendiri?
-
Board of Peace dan Paradoks Diplomasi Indonesia
-
Mengenal Filsafat dengan Cara yang Menyenangkan lewat Novel Dunia Sophie
-
Cha Eun-woo Rilis Permintaan Maaf Imbas Kasus Penggelapan Pajak Rp200 M