Warkop “Marilah Cerita” yang terletak tepat di seberang gerbang utama kampus tidak pernah benar-benar sepi. Mau siang saat terik matahari membakar aspal, atau malam ketika angin mulai menusuk tulang, tempat ini selalu memiliki magnetnya sendiri.
Sebenarnya, atmosfer di warkop ini tidak pernah menentu. Sering kali, meja-meja kayu di sana hanya dipenuhi riuh suara gebrakan kartu domino, teriakan frustrasi anak-anak muda yang kalah bermain game mobile, atau obrolan ngalor-ngidul tanpa ujung pangkal. Namun, di antara puluhan kepala yang datang dan pergi, ada lima orang yang sudah menyerupai inventaris tetap.
Pertama, tiga mahasiswa beda jurusan yang kepala dan isi dompetnya sama-sama sering meranggas di tanggal tua: Fajar yang idealis, ditemani dua temannya yang setia berperan sebagai tim hore sekaligus kritikus ulung. Kedua, Mas Rio, sang pemilik warkop sekaligus barista tunggal yang tangannya cekatan menyeduh kopi, tetapi otaknya sangat encer dan selalu terbuka jika diajak berdiskusi tentang apa saja.
Terakhir adalah Pak Hendra. Pria paruh baya beranak satu ini merupakan pelanggan paling setia setiap malam. Alasan Pak Hendra kerap nongkrong di sini selalu berhasil membuat yang lain terkekeh. Istrinya adalah salah satu dosen killer di kampus.
“Biar adil,” kata Pak Hendra suatu kali, “Istri saya memberi ujian kepada kalian di dalam kelas, saya mendengarkan keluhan kalian di luar kelas.”
Namun, malam ini, tidak ada yang menyentuh permainan atau memegang kartu. Atmosfer warkop mendadak berubah pekat. Di atas meja, layar gawai menampilkan dua berita utama yang sama-sama memuakkan. Pertama, rilis kebijakan pemerintah pusat yang makin nyeleneh dan mengacak-acak konsep Trias Politika. Kedua, surat edaran dari rektorat kampus yang baru keluar sore tadi, sebuah kebijakan birokrasi baru yang sangat tidak jelas, membatasi jam malam kegiatan mahasiswa, dan menaikkan biaya fasilitas tanpa alasan logis.
“Sempurna,” desis Fajar sambil menatap nanar surat edaran di ponselnya. “Di atas, pemerintahnya hobi membuat aturan amburadul. Di bawah, birokrasi kampus kita ikutan latah bikin kebijakan yang mencekik mahasiswa. Kita ini mau dicetak jadi agen perubahan atau cuma jadi robot bayaran?”
Mas Rio yang sedang mengelap gelas di balik meja bar menyahut, “Konsep pemisahan kekuasaan yang ideal itu sudah runtuh, Jar. Baik di skala negara maupun instansi kecil kayak kampus kita. Penguasa yang bikin aturan, penguasa juga yang mengadili kalau kita protes. Ruang gerak kita dikunci pakai undang-undang karet dan ancaman drop out.”
“Betul itu, Mas Rio,” timpal Pak Hendra sambil menyeruput kopi hitamnya. “Istri saya saja di rumah kadang mengeluh soal sistem administrasi kampus yang makin ruwet. Tapi ya itu, dosen pun tidak bisa berkutik, apalagi kalian yang mahasiswa. Bersuara sedikit, urusan bisa panjang.”
Diskusi pun mengalir liar. Solusi-solusi idealis dari teori hukum dan tata negara berhamburan dari mulut ketiga mahasiswa itu, membentur realitas pahit yang dipaparkan oleh Pak Hendra dan Mas Rio. Namun, semua orang di meja itu tahu, sekeras apa pun mereka berteriak malam ini, esok hari mereka tetap harus tunduk pada sistem yang menjerat mereka.
Fajar menarik napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba berdiri. Ia mengetuk gelas kopinya dengan sendok, menciptakan dentingan nyaring yang memutus kesibukan Mas Rio.
“Kalau di luar sana kita dikebiri oleh aturan kampus dan negara yang tidak jelas, kenapa kita tidak bikin wilayah kekuasaan sendiri saja di sini?” ujar Fajar dengan mata berapi-api.
“Maksudmu piye, Jar?” tanya Mas Rio sambil mengerutkan dahi.
“Mulai malam ini, warkop ini kita deklarasikan sebagai Republik Marilah Cerita!” seru Fajar, setengah berbisik namun penuh penekanan. “Aturannya cuma satu: cukup beli minuman di Mas Rio dan ikut melingkar dalam diskusi, kita sah jadi warga negara. Di sini, kita bebas mencaci maki kebijakan rektorat yang ngawur, bebas menguliti pemerintah yang amburadul, tanpa perlu kasih solusi, dan yang terpenting: tanpa perlu takut ditangkap!”
Pak Hendra tersenyum lebar, langsung mengangkat gelas kopinya. “Saya daftar jadi warga negara pertama, Presiden Fajar!”
Malam itu, Republik Marilah Cerita resmi lahir di atas meja warkop yang kayunya mulai retak. Untuk beberapa jam, mereka merasa benar-benar merdeka. Mereka menumpahkan segala kejengkelan tanpa batas ketakutan, menertawakan kebodohan sistem di luar sana, dan merayakan kedaulatan yang selama ini dirampas dari mereka.
Namun, begitu jarum jam dinding warkop hampir menyentuh angka dua pagi, tawa mereka perlahan mereda. Keheningan malam kembali mengambil alih, menyisakan sisa-sisa ampas kopi di dasar gelas plastik.
Mas Rio yang sejak tadi menyimak sambil menyilangkan dada di balik meja bar, tiba-tiba mengetuk meja kayu dengan pelan. Suaranya terdengar serius, memecah keheningan.
“Deklarasi kita malam ini memang keren, Jar. Tapi kalian harus ingat,” kata Mas Rio, menatap Fajar dan Pak Hendra bergantian. “Sebuah negara, sekecil apa pun itu, tidak akan bertahan lama kalau cuma modal patungan beli kopi dan mencaci maki. Di luar sana, birokrasi kampus dan hukum pemerintah punya instrumen nyata untuk menghancurkan kita kalau sampai obrolan di warkop ini bocor.”
Fajar dan kedua temannya terdiam. Pak Hendra yang tadinya terkekeh, kini meletakkan gelas kopinya dengan perlahan. Kalimat Mas Rio ada benarnya. Ini bukan lagi sekadar banyolan tongkrongan setelah kalah bermain game mobile. Mereka baru saja menciptakan sebuah anomali.
“Jadi, apa langkah kita selanjutnya?” tanya salah satu teman Fajar, memecah kecemasan yang mulai merayap.
Fajar menatap sekeliling warkop yang remang-remang, lalu tersenyum tipis. Matanya memancarkan tekad yang belum padam. “Kalau begitu, besok malam kita berkumpul lagi di jam yang sama. Republik ini butuh struktur. Kita butuh aturan main yang jelas, pembagian peran yang matang, dan cara untuk mempertahankan diri dari dunia luar.”
Pak Hendra saling berpandangan dengan Mas Rio. Sebuah kesepakatan tanpa kata terjalin di antara lima orang itu.
Republik Marilah Cerita memang sudah diproklamasikan malam ini. Namun, ujian sesungguhnya baru akan dimulai besok malam: bagaimana cara mereka menyusun kabinet pemerintahan rahasia ini di bawah hidung para penguasa kampus dan negara?
Baca Juga
-
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Teman Teduh Memeluk Kerapuhan
-
Socrates di Meja Tongkrongan, Mengapa Banyak Belajar Bikin Pendiam?
-
Menggugat Orkestrasi Dukungan MBG: Gerakan Murni atau Pertunjukan Politik?
-
Memoar Getir Vabyo: Ketika Eksploitasi Kerja Dibungkus Ironi Komedi
-
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Ketika Ide Menjadi Komoditas
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat