D.O EXO memang dikenal memiliki suara yang hangat dan penuh perasaan. Dalam lagu solonya berjudul That’s Okay, ia menyampaikan pesan emosional yang begitu jujur tentang rasa sakit, penerimaan, dan penghiburan. Lagu ini pertama kali dirilis pada 1 Juli 2019, bertepatan dengan hari wajib militernya. Namun justru di tengah kepergiannya sementara itu, D.O memberikan pelukan hangat bagi penggemarnya lewat lagu yang mendalam dan personal.
Lirik That’s Okay menyentuh sisi manusia yang sering kali disembunyikan, yaitu ketika emosi menumpuk dan seseorang terbiasa menyembunyikan hatinya. Baris seperti “Indraku mati rasa, karena emosi yang tebal lewat” mengisyaratkan betapa beratnya perasaan yang tak tertumpahkan. Lagu ini mengajak pendengar untuk tidak takut menghadapi hati mereka sendiri, bahkan jika itu berarti menatap luka-luka yang selama ini disangkal.
Di bagian lain lirik, D.O mengungkap perasaan tentang kenangan yang datang silih berganti. Ia berkata bahwa hari-hari bahagia dan hari-hari yang menghancurkan hati akhirnya ia biarkan pergi secara alami layaknya matahari dan bulan yang selalu terbit dan tenggelam. Dalam kesederhanaannya, baris ini membawa kedalaman makna bahwa semua hal memiliki waktu, termasuk luka, dan akan ada saatnya untuk sembuh.
Simbolisme yang digunakan dalam lagu ini pun sangat kuat. Dalam musik videonya, digambarkan seorang pria yang merawat kaktus kecil di rumahnya. Lambat laun, tanaman itu tumbuh subur. Kaktus sendiri dikenal sebagai tanaman yang bertahan di lingkungan ekstrem menjadi lambang ketangguhan dan harapan yang tidak pernah mati meski diliputi kesunyian. Imaji ini selaras dengan pesan lagu bahwa proses penyembuhan tidak harus keras atau terburu-buru, tapi bisa terjadi perlahan dan pasti.
D.O juga menggambarkan bagaimana kesedihan bisa hadir berdampingan dengan harapan. Ia menyanyikan, “Aku berharap, aku kesakitan. Hatiku berdebar, hatiku mati rasa.” Perasaan bertabrakan ini menjadi potret yang sangat manusiawi karena kita bisa bahagia dan sedih dalam waktu yang sama. Semua itu tidak masalah. Justru dari dualitas emosi itulah, kita belajar menerima dan bertumbuh.
Bagian klimaks lagu mengandung pesan yang terasa seperti pelukan: “Jadi jangan sembunyikan dirimu tapi tunjukkan padaku. Kamu apa adanya, tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Kalimat ini seolah jadi deklarasi kasih sayang yang tulus bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi diri sendiri, meski rapuh dan penuh luka.
Lagu ini terasa sangat cocok sebagai hadiah perpisahan sementara dari D.O. kepada para penggemarnya. Di tengah kekosongan yang mungkin mereka rasakan saat ia menjalani wamil, That’s Okay menjadi pengingat bahwa semua akan baik-baik saja pada waktunya. Tidak ada emosi yang salah, dan tidak perlu terburu-buru untuk menjadi “baik-baik saja”.
Dibawakan dengan instrumen akustik yang sederhana dan nada lembut, lagu ini memberikan ruang bagi setiap kata dan emosi untuk sampai ke hati pendengarnya. Vokal D.O yang terdengar tulus dan intim, seolah sedang berbicara langsung kepada setiap orang yang sedang terluka atau kelelahan. Lagu ini bukan hanya tentang D.O, tetapi tentang kita semua.
Secara keseluruhan, That’s Okay bukan hanya lagu perpisahan, tetapi juga lagu penyembuhan. Ia tidak menawarkan solusi ajaib, tapi memberi pelukan dalam bentuk suara. Lagu ini mengingatkan bahwa rasa sakit bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses hidup yang harus dirayakan juga. Karena seperti bintang yang terus bersinar di tempat yang sama, manusia pun akan selalu menemukan kembali cahayanya.
Akhir kata, seperti yang D.O nyanyikan, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Kalimat itu bukan bentuk menyerah, tapi bentuk penerimaan, bahwa meski dunia tidak selalu mudah, kita tetap bisa bertahan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Sering Merasa Sakit Tapi Hasil Lab Normal? Waspada Psikosomatik, Ini Cara Mengatasinya!
-
Sindir Balik, Ingat Lagi Momen Aura Cinta Diskakmat Miskin Sok Kaya oleh Dedi Mulyadi
-
Legenda Heavy Metal Ozzy Osbourne Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
-
Ulasan Buku Ketika Cinta Harus Pergi, Kiat Move-On Menghadapi Perpisahan
-
Retail Therapy atau Pelarian? Perilaku Konsumtif dalam 'Kacamata' Psikologi
Entertainment
-
Bahas soal Hak Asuh Anak, Pihak Inara Rusli Ungkit Kasus Lama Virgoun
-
Anime Gundam GQuuuuuuX Raih Special Prize di Ajang Nihon SF Taisho Awards
-
Tao Eks EXO Raup 30 Miliar Won dalam 3 Bulan dari Bisnis Pembalut
-
Rampungkan Bab Terakhir, Manga Blue Exorcist Umumkan Hiatus 4 Bulan
-
Gabung Film Live Action Blue Lock, Yuki Tachibana Perankan Gin Gagamaru
Terkini
-
Menyoal Istilah "Gentengisasi" dan Prioritas Pembangunan Pemerintah
-
Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma itu Sakit!
-
Berpeluang Membela Timnas Indonesia, Luke Vickery Berikan Kode Positif?
-
Kesehatan Mental Generasi Muda: Antara Tantangan dan Layanan Pemerintah
-
Hiroshi dan Mata yang Lahir di Punggung