Dr. Tirta Luruskan Isu Asam Lambung Picu Mati Mendadak yang Ramai di Medsos

Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
Dr. Tirta Luruskan Isu Asam Lambung Picu Mati Mendadak yang Ramai di Medsos
dr. Tirta. [Instagram @dr.tirta]

Media sosial ramai dengan narasi yang mengaitkan asam lambung atau GERD sebagai penyebab mati mendadak. Isu tersebut menyebar luas dan memicu kekhawatiran publik, terutama di kalangan penderita gangguan lambung.

Narasi tersebut berkembang dalam berbagai unggahan warganet yang menyebut bahwa naiknya asam lambung bisa langsung memicu kematian mendadak. Informasi itu kemudian viral dan menimbulkan kepanikan di ruang digital.

Melihat simpang siur informasi tersebut, dr. Tirta Mandira Hudhi memberikan klarifikasi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.

“Saya terpaksa banget buat video agak ngegas kayak gini garagara apa? Garagara sejawat saya nih seniorsenior saya, dosendosen saya di bidang perjantungan digoblokgobloki,” ujar dr. Tirta, mengekspresikan kegeramannya melihat serangan warganet terhadap tenaga medis yang memberikan edukasi kesehatan.

“GERD itu jauh banget hubungannya kalau bisa menyebabkan serangan jantung,” ujar dr. Tirta dalam video klarifikasinya di Instagram.

Komentar Dr. Tirta menanggapi komentar warganet (X/tirta_cipeng)
Komentar Dr. Tirta menanggapi komentar warganet (X/tirta_cipeng)

Ia menjelaskan bahwa secara medis, kematian mendadak (sudden death) umumnya berkaitan dengan gangguan pada organ vital seperti jantung dan otak. Kondisi tersebut berbeda secara mekanisme dengan gangguan asam lambung atau GERD.

Dr. Tirta menekankan bahwa GERD memang bisa menimbulkan gejala yang tidak nyaman, seperti nyeri dada, sensasi panas di ulu hati, dan rasa asam di tenggorokan. Namun, gejala tersebut tidak bisa disamakan dengan penyebab kematian mendadak. “Berdebar yang dirasakan penderita GERD biasanya karena rasa nyeri, bukan karena irama jantung bermasalah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti fenomena penyebaran informasi kesehatan tanpa dasar ilmiah yang sering terjadi di media sosial. Menurutnya, hal ini berpotensi menyesatkan publik dan membentuk ketakutan kolektif yang tidak berbasis data medis.

Klarifikasi dari dr. Tirta menjadi pengingat pentingnya literasi kesehatan digital. Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi medis yang viral di media sosial tanpa rujukan ilmiah atau penjelasan dari tenaga kesehatan profesional. Sebaiknya setiap informasi kesehatan dicek ulang melalui sumber resmi, seperti jurnal medis, situs kementerian kesehatan, atau langsung berkonsultasi dengan dokter. Mengkritisi unggahan warganet dan memahami konteks ilmiahnya membantu publik terhindar dari panik yang tidak perlu dan keputusan kesehatan yang keliru.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak