Induk sepak bola Indonesia, PSSI beberapa waktu lalu akhirnya mengikat secara resmi Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Melansir laman Suara.com, selain mengikat pelatih berkebangsaan Korea Selatan tersebut hingga tahun 2027, PSSI juga merilis target yang dibebankan kepada sang pelatih.
Uniknya, di luar dugaan sebagian kalangan, PSSI sama sekali tak menargetkan STY untuk bisa membawa Pasukan Merah Putih ke putaran final Piala Dunia edisi 2026 mendatang.
Dalam penjelasan Erick Thohir, disebutkan bahwa target yang dibebankan kepada pelatih berusia 53 tahun tersebut adalah membawa Pasukan Merah Putih bisa kembali menembus peringkat 100 besar FIFA, setelah terakhir kali melakukannya pada akhir dekade 90an lalu.
Jika dipikir-pikir, target yang dibebankan oleh PSSI kepada STY untuk membawa Timnas Indonesia kembali ke jajaran 100 besar FIFA ternyata lebih realistis daripada mengamankan satu slot tiket putaran final Piala Dunia.
Bukan bermaksud apa-apa, namun jalan untuk menembus peringkat 100 besar dunia, bisa dikatakan relatif lebih mudah daripada menggapai 8+1 tiket Piala Dunia 2026 yang menjadi slot benua Asia.
Hal ini dikarenakan Indonesia bisa memilih lawan untuk dihadapi dalam rangka menaikkan peringkat mereka, bukan seperti babak kualifikasi Piala Dunia yang komposisi lawan-lawannya sudah ditetapkan dalam undian beberapa waktu lalu.
Seperti contoh, Indonesia yang tergabung di grup C, harus melewati lawan sekelas Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain dan China untuk bisa mengamankan tiket Piala Dunia. Namun, untuk sekadar push rank di FIFA, Indonesia bisa memilih lawan yang sekiranya memiliki level kekuatan yang relatif setara, namun memiliki peringkat yang lebih baik daripada mereka.
Hal ini berkaitan dengan perolehan poin yang akan didapatkan oleh Indonesia dalam setiap laga yang mereka jalani. Meskipun menghadapi lawan yang memiliki kualitas setara, namun jika lawan tersebut memiliki peringkat yang lebih baik daripada Indonesia, tentu Indonesia akan mendapatkan tambahan poin yang cukup signifikan.
Hal ini tentunya berbeda dalam kasus kualifikasi Piala Dunia. Karena mau tak mau, Indonesia harus melawan tim-tim yang telah ditetapkan melalui undian, dan tak bisa memilih lawan yang memiliki level permainan yang relatif setara.
Jadi, sepertinya memang realistis jika PSSI untuk kali ini membebani STY untuk membawa Indonesia masuk 100 besar dunia, bukannya meloloskan Pasukan Merah Putih ke putaran final Piala Dunia.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
-
Surat Terbuka untuk Ketua DPR: Jangankan Ngopi, ASN Guru Mau Liburan Saja Serba Salah!
-
Bukan Kebetulan! Ternyata Ini Bukti 'Semesta' Sudah Mengatur Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Bek Timnas Indonesia Sudah Siap? Ini 3 Penyerang Paling Mematikan di Putaran 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026
-
Bantah Menpora, Erick Thohir Yakinkan Maarten Paes Belum Bisa Bela Timnas Indonesia September Besok: Masih Diusahakan
-
Persaingan Antar Pemain Naturalisasi Ketat, Timnas Indonesia Diuntungkan
-
Timnas Indonesia Diusulkan Menjamu Jepang di Stadion GBT, PSSI Beri Restu?
-
3 Pemain Timnas Indonesia Punya Kans Kasih Gaya Bermain Berbeda di Ronde 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026
Hobi
-
Final Piala Presiden 2026: Persib vs Persebaya, Duel Dua Tim dengan Statistik Nyaris Identik
-
Jadwal MotoGP Inggris 2026: Tiap Poin Berharga untuk Raih Gelar Juara Dunia
-
Bantah Rumor Tak Akur, Marc Marquez Sebut Pecco Bagnaia Rekan yang Baik
-
Pilih Gabung Ducati, Pedro Acosta Ogah Pakai Motor KTM yang Tak Kompetitif
-
Jorge Martin: Aprilia akan Dukung Saya Sepenuhnya Demi Gelar Juara Dunia
Terkini
-
Makna Lagu 'Petal' Ariana Grande: Luka Jadi Bahan Bakar untuk Tumbuh
-
Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?
-
Intip 4 OOTD Y2K Pop-Punk ala Choi Yena, Gaya Lebih Cute dan Rebel!
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?