Hajatan besar bakal dijalani oleh Timnas Indonesia U-23 pada pertengahan tahun ini. Sepertimana yang telah dijadwalkan oleh AFF, pada tanggal 15 hingga 31 Juli 2025 mendatang, Pasukan Muda Merah Putih ini akan bertarung di turnamen level regional bertajuk 2025 ASEAN U-23 Championship atau yang lebih kita kenal dengan nama Piala AFF U-23.
Berbeda dengan penyelenggaraan edisi sebelumnya, sepertimana dilansir laman Suara.com (22/4/2025), untuk turnamen tahun ini, induk sepak bola Asia Tenggara telah menunjuk Indonesia untuk menjadi tuan rumah.
Maka, mau tak mau Gerald Vanenburg harus mempersiapkan kekuatan terbaik timnya, karena sudah pasti harapan tinggi para pencinta sepak bola nasional akan disematkan di pundaknya bersama para penggawa Garuda.
Namun demikian, meskipun Indonesia didapuk oleh AFF untuk menjadi tuan rumah dan harapan tinggi dipastikan tersemat pada mereka, namun jikalau memungkinkan, pelatih Gerald Vanenburg tak perlu memaksa para pemain diaspora untuk bermain di turnamen tersebut.
Alasannya pun cukup jelas, yakni turnamen tersebut tak masuk dalam kalender resmi FIFA, dan berjalannya turnamen akan berbarengan dengan masa-masa persiapan atau awal-awal dimulainya kompetisi di benua Eropa.
Dua alasan tersebut sejatinya cukup kuat untuk membuat Vanenburg tak memaksakan para pemain diaspora yang masih eligible untuk merapat ke timnya.
Karena bagi klub-klub luar negeri, terutama di benua Eropa, bulan Juli adalah masa untuk membangun skuat dan mempersiapkan kekuatan terbaik yang mereka miliki.
Bahkan, di bulan-bulan ini pula biasanya ada semacam promosi pemain yang dilakukan klub-klub tersebut, di mana para pemain yang semula bermain di tim satelit, bisa dinaikkan kelasnya ke tim utama jika tim pelatih merasa sang pemain layak untuk menerima hal itu.
Masa-masa seperti ini cenderung sangat penting bagi para pemain muda atau yang biasa bermain sebagai cadangan. Karena jika pelatih melihat perkembangan yang mereka miliki, serta dinilai sesuai dengan pakem permainan yang dikembangkan, maka bukan tak mungkin mereka akan diangkut ke tim utama.
Jangan Lupakan yang Terjadi pada Rafael Struick
Terlebih lagi, para pemangku kepentingan tersebut juga bisa belajar dari apa yang dialami oleh penyerang andalan Timnas Indonesia, Rafael Struick.
Akhir tahun 2024 lalu, Struick yang saat itu tengah berusaha untuk mengembangkan kariernya di Brisbane Roar, memutuskan untuk menerima panggilan Timnas Indonesia senior untuk ajang Piala AFF 2024.
Namun, yang didapatkannya setelah itu justru hal yang sangat merugikan masa depannya. Karena pasca kembali ke Australia, posisi Struick semakin tak jelas dan ternafikan.
Menit bermain yang didapatkannya di klub Australia itu kian menyusut, dan membuatnya semakin akrab dengan bench pemain cadangan atau bahkan tak masuk dalam tim yang dibawa.
Meskipun faktor utama yang menjadikan Brisbane Roar menepikan Struick adalah kualitas, namun jangan salah, mereka juga cukup obyektif dalam melihat perkembangan pemainnya.
Selama Struick membela Timnas Indonesia, di saat yang bersamaan mereka juga memantau semua pemain yang ada dalam tim, baik terkait kesiapan, perkembangan, dan juga potensi masuk line up karena memiliki tactical familiarity yang cukup baik dengan yang dikembangkan oleh pelatih.
Jadi, daripada harus berjudi dengan memasang Struick yang saat itu tengah berada di negara lain bersama Timnas Indonesia dan belum terpantau sepenuhnya, tentu akan lebih masuk akal jika pihak Brisbane memaksimalkan para pemain yang turut serta dalam latihan rutin karena mereka memantau langsung perkembangannya bukan?
Hal-hal seperti inilah yang juga harus dipikirkan oleh PSSI maupun Gerald Vanenburg. Jangan sampai para pemain yang usianya masih muda ini, justru harus terhambat kariernya seperti Struick.
Jadi sepertinya, Timnas Indonesia U-23 tak perlu untuk memaksa para pemain diaspora untuk memperkuat Skuat Garuda di Piala AFF U-23 ya!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Belajar dari Pemecatan Purbaya, Jadi Abdi Pemerintah Dilarang Keras Punya Hati yang Melankolis
-
Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
Artikel Terkait
-
Profil Patrick Kisnorbo, Pelatih Baru yang Tangani Sandy Walsh di Yokohama F Marinos
-
Thailand dan Vietnam Geser Indonesia dari Pot Unggulan, Ternyata Begini Perhitungan Poinnya!
-
AC Milan Cuma Gimmick, Tidak Ada Nama Jay Idzes di Daftar Pemain Incaran
-
3 Faktor China Bisa Jadi Batu Sandungan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026
-
5 Kali Main Cetak 2 Gol, Patrick Kluivert Bisa Bawa Penyerang Semen Padang Ini Buat Lawan China
Hobi
-
Bedah Skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026: Badai Cedera dan Peluang Para Debutan
-
Kabar Buruk Jelang ASEAN Cup 2026: Jay Idzes Cedera, Elkan Baggott Siap Turun Gunung?
-
Optimis! Fabio Quartararo Yakin Honda Bisa Bangkit di Era MotoGP 2027
-
VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun
-
Ultimatum Keras Erick Thohir! Timnas Indonesia Harga Mati Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Terkini
-
Stop Oversharing! Ini 7 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri
-
Kehidupan Sebelumnya Anakku
-
Ironi Buah Nusantara: Dulu Pangan Sehari-hari, Kini Jadi "Kemewahan" Kecil?
-
Review Plastic Beauty: Sisi Gelap Operasi Plastik yang Dikemas Brutal dan Realistis
-
Anti-Kusam Seharian! 4 Chemical Sunscreen Brightening Bikin Wajah Glowing