Meskipun di laga terakhir melawan Jepang harus terbantai dengan kebobolan hingga enam gol tanpa balas, Timnas Indonesia tetap berhak untuk menjadi satu dari dua wakil grup C yang eneruskan langkahnya ke ronde keempat babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Menyadur informasi yang dirilis oleh laman Suara.com (6/6/2025), Pasukan Merah Putih sudah tak lagi terpengaruh dengan hasil pertandingan terakhir melawan Jepang tersebut karena mereka sebelumnya telah mengunci satu tiket ronde keempat pasca memenangi pertarungan krusial melawan China (5/6/2025).
Alhasil, meskipun di partai pamungkas Pasukan Merah Putih dijungkalkan setengah lusin gol oleh Pasukan Samurai Blue, namun status kelolosan mereka ke ronde selanjutnya kualifikasi sudah tak terbendung lagi.
Uniknya, di balik euforia kesuksesan Timnas Indonesia melaju ke ronde keempat babak kualifikasi kali ini, ternyata tersimpan sebuah fakta yang berkebalikan bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tak terbendungnya langkah Indonesia menuju ronde keempat ini, justru nantinya akan membuat rekan-rekan mereka di kawasan Asia Tenggara menjadi semakin susah.
Penyebabnya tentu saja karena apa yang saat ini ditorehkan oleh Indonesia akan membuat mereka kesulitan untuk menirunya. Sehingga, catatan Indonesia sebagai tim pertama Asia Tenggara yang lolos dari ronde ketiga kualifikasi akan membuat mereka semakin tak mampu untuk bisa sekadar menyamainya, bahkan oleh tim sekelas Thailand, Vietnam apalagi Malaysia.
Memang, jika kita melihat sejarah keikutsertaan tim-tim asal Asia Tenggara di babak kualifikasi Piala Dunia era modern ini, hanya elusan dada saja yang mungkin bisa kita kedepankan. Ketimbang kesuksesan yang mereka raih, justru lebih banyak kegagalan yang menerpa.
Bagaimana tidak, dalam tiga edisi terakhir kualifikasi Piala Dunia, tercatat hanya tiga negara saja yang bisa mencapai ronde ketiga kualifikasi ini. Sebelum Indonesia di edisi 2026, Thailand sudah mendahului di edisi 2018 dan Vietnam di edisi 2022 lalu.
Namun sayangnya, dua "senior" Timnas Indonesia tersebut semuanya harus terhenti langkahnya di ronde ketiga, dengan status sebagai tim juru kunci klasemen akhir pula. Sebuah hal yang cukup ironis, mengingat kedua negara ini adalah tumpuan kekuatan utama dalam persepakbolaan di kawasan Asia Tenggara.
Lebih ironis lagi jika kita mencoba untuk menghitung persentase dari kelolosan tim-tim asal Asia Tenggara ini dalam tiga edisi terakhir. Dari 11 negara yang menjadi penghuni kawasan, Asia Tenggara hanya mampu meloloskan satu wakilnya saja dalam setiap edisi ke ronde ketiga, selebihnya, 10 negara lainnya selalu terhenti di ronde kedua, atau bahkan di ronde pertama kualifikasi zona Asia.
Itu berarti, dalam setiap edisi, persentase kelolosan tim-tim dari kawasan ini ke ronde ketiga tak sampai 10 persen peluangnya! Mereka lebih banyak gagal di ronde kedua, dan hanya menyisakan satu negara saja untuk meneruskan persaingan melawan tim-tim yang lebih mapan di persepakbolaan benua kuning.
Nah, inilah yang membuat mereka semakin susah. Untuk sekadar bisa lolos dan bersaing di ronde ketiga babak kualifikasi saja tim-tim asal Asia Tenggara ini harus berjuang mati-matian, apalagi sampai ke ronde keempat kualifikasi? Tentunya hal tersebut membuat mereka sampai harus "bertarung darah" bukan?
Namun di sisi lain, ketika negara-negara Asia Tenggara lainnya tengah merasakan susah karena sulit untuk menyamai prestasi Timnas Indonesia ini, kita sebagai pendukung Skuat Garuda tentunya patut berbangga. Pasalnya, kelolosan Pasukan Merah Putih ke ronde keempat ini merupakan sebuah sejarah besar bagi persepakbolaan ASEAN, yang mana selama ini selalu mendapatkan stigma "kurang kualitas" dari negara-negara yang berasal dari kawasan lain di benua ini.
Jika sampai Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia, tim-tim dari Asia Tenggara sepertinya bakal lebih susah lagi, ya?
Baca Juga
-
Kesakralan Bulan Juni dan Pandangan Sederhana Saya Terkait Kesempurnaan Ide Pancasila
-
Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
-
'Oleh-Oleh' Presiden Prabowo dari Luar Negeri: Antara Visi Visioner dan Mimpi Buruk Guru di Sekolah
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
Artikel Terkait
Hobi
-
Piala Dunia 2026 Disebut yang Terbesar Sepanjang Masa, Ini Alasannya!
-
Sejarah Baru! Piala Dunia 2026 Gebrak Dunia dengan 3 Tuan Rumah dan 48 Tim Peserta
-
Raih Hasil Positif di FIFA Matchday, John Herdman Bisa Saingi Shin Tae-yong
-
Porsche Sulap Woody dan Buzz Lightyear Jadi Mobil Sport Jelang Toy Story 5
-
Ambisi Besar Macan Kemayoran: Datangkan Shin Tae-yong, Persija Siap Dominasi Liga 1!
Terkini
-
Mulai 3 Jutaan! 4 Rekomendasi AC Inverter 1 PK dengan Watt Rendah
-
Rating Melejit, Pemain dan Kru My Royal Nemesis Rencanakan Trip ke Vietnam
-
Ulasan Film Garuda di Dadaku: Animasi Epik yang Membakar Semangat Muda!
-
Dua Sisi: Belajar Menerima Kehidupan dari Berbagai Sudut Pandang
-
Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Atasi Sampah Menumpuk, Efisien Diterapkan?