Pasca even Indonesia Open 2025 yang rampung digelar pada 8 Juni 2025, kelanjutan nasib pasangan ganda campuran Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti akhirnya mendapat kejelasan. Partnership Dejan/Fadia resmi berakhir dan tampaknya bakal 'cerai' permanen.
Kepala bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Eng Hian menyampaikan pengumuman resminya terkait nasib duet Dejan/Fadia yang akhirnya tidak akan berlanjut. Keputusan ini diambil setelah Fadia sempat menjajal pengalaman bermain rangkap di ganda putri bersama Lanny Tria Mayasari dan ganda campuran dengan Dejan.
Tampaknya hasil yang kurang maksimal dan belum sesuai harapan membuat pelatih mengambil keputusan tegas. Fadia akan lebih difokuskan ke sektor ganda putri bersama Lanny di bawah asuhan Karel Mainaky.
“Setelah bermain rangkap selama kurang lebih enam bulan, melihat hasil yang ada dan dengan beberapa pertimbangan lain maka Siti Fadia Silva Ramadhanti akan fokus bermain di ganda putri,” ungkap Eng Hian.
Lalu, bagaimana nasib Dejan? Potensi Dejan yang sebelumnya bermain impresif bersama Gloria Emanuelle Widjaja sebagai pemain independen memang sempat mencuri perhatian Pelatnas hingga akhirnya direktut ke Cipayung.
Namun, meski juga memiliki potensi saat diduetkan dengan Fadia, tampaknya intensitas latihan yang kurang maksimal membuat pasangan baru ini belum bisa menunjukkan hasil yang sesuai harapan. Menyusul keputusan Fadia yang fokus ke ganda putri, Dejan bakal tetap di ganda campuran dan akan mendapat pasangan baru.
“Dejan Ferdinansyah akan dicarikan pasangan baru yang fokus di ganda campuran agar program latihan bisa berjalan efektif dan maksimal,” tambah Eng Hian menyampaikan kabar terbaru tentang nasib Dejan.
Jika merujuk pada pencapaian Dejan/Fadia sejauh ini, sebenarnya potensi pasangan muda ini cukup menjanjikan. Baru melalui 11 turnamen bersama sejak dipasangkan awal tahun 2025, Dejan/Fadia tercatat sudah tembus ke peringkat 28 dunia.
Catatan prestasi terbaiknya memang baru bisa persembahkan gelar sebagai runner up Thailand Masters 2025 dan Taipei Open 2025. Di luar itu, Dejan/Fadia memang cukup sering early exit di beberapa turnamen lain yang diikuti.
Hasil tersebut tidak lepas dari draw yang memang kurang menguntungkan. Dejan/Fadia sering bertemu unggulan, terutama Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran yang masih cukup sulit dikalahkan.
Termasuk di turnamen kandang Indonesia Open 2025, Dejan/Fadia kembali takluk di hadapan Bass/Fame yang merupakan unggulan Thailand. Di turnamen level Super 1000 ini, Dejan/Fadia kalah di babak pertama dalam dua gim dengan skor 18-21 dan 13-21.
Tentu bukan hasil yang diharapkan, baik oleh BL, pelatih, maupun Dejan/Fadia secara pribadi. Besar kemungkinan intensitas latihan yang minim juga ikut mempengaruhi chemistry mereka hingga belum terbangun maksimal.
Di tambah lagi pertemuan dengan sederet unggulan yang memang cukup sulit dihadapi, tentu membuat peluang Dejan/Fadia tembus babak final maupun meraih gelar menjadi semakin kecil. Solusi terbaik memang Fadia harus fokus pada satu sektor.
Menyusul hasil keputusan perpisahan Dejan/Fadia, tur Asia yang bakal dimulai Juli 2025 mendatang sudah tidak mencantumkan nama mereka lagi. Dejan/Fadia tidak didaftarkan di Japan Open 2025 dan China Open 2025.
Fadia hanya terdaftar bersama Lanny di dua turnamen tersebut, sedangkan Dejan masih belum terdaftar di turnamen apa pun. Tampaknya Pelatnas masih menimbang calon pasangan yang paling sesuai untuk Dejan nantinya.
Menanggapi pemberitaan ini, badminton lovers tanah air pun sudah cukup banyak bereaksi terkait pasangan terbaik untuk Dejan yang dirasa potensial. Beberapa nama bahkan mencuat dan santer diperbincangkan netizen, mulai dari Bernadine Anindya Wardana hingga Indah Cahya Sari Jamil yang sebenarnya masih berpasangan dengan Adnan Maulana.
Namun, pihak PP Pelatnas PBSI belum akan menyampaikan kabar lanjutan untuk pasangan Dejan. Tampaknya Pelatnas, terutama pelatih ganda campuran yang digawangi Rionny Mainaky ini masih menimbang-nimbang potensi terbaik mana yang bakal cocok dengan Dejan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Jujur, Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bikin Gen Z Jadi Kurang Produktif?
-
Media Sosial, Tren, dan Paylater: Kolaborasi "Epik" Gaya Hidup Konsumtif
-
Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital
-
Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
Artikel Terkait
-
4 Fakta Menarik dari Indonesia Open 2025, Ada Laga Dua Istora Boy di Final
-
Gigit Jari! Indonesia Open 2025 Buktikan Bulutangkis Indonesia Merosot Tajam?
-
Anders Antonsen Juara Tunggal Putra Indonesia Open 2025
-
Tumbang, Sabar/Reza Gagal Raih Gelar Juara Indonesia Open 2025
-
Indonesia Open 2025: Semifinal, Fajar/Rian Bersiap Lawan Juara All England!
Hobi
-
Piala Dunia 2026: Tanpa Bantuan AFC, Kualitas Qatar Hanyalah Sekelas Tim Semenjana Asia
-
Piala Dunia 2026: Tak Hanya Messi, Ronaldo Turut Cetak Rekor Prestisius
-
Prediksi Brasil vs Haiti: Selecao Wajib Menang, Haiti Mampukah Bertahan?
-
Jadwal MotoGP Ceko 2026: Marc Marquez Tak Mau Memberi Harapan Palsu
-
Ronaldo Tak Lagi Jadi Tumpuan? 3 Masalah Utama Portugal yang Wajib Diperbaiki
Terkini
-
Jujur, Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bikin Gen Z Jadi Kurang Produktif?
-
Piala Dunia 2026 Datang, Waktunya UMKM Panen Cuan Gila-gilaan dari Nobar!
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
-
Yang Datang Setelah Menggosipkan Orang
-
Bukan Mistis! Ini Alasan Kenapa Kamu Sering Lihat Wajah Makhluk Hidup di Benda Mati