Final Kejuaraan AFF U-23 2025 antara Indonesia melawan Vietnam akan menjadi sorotan besar, bukan hanya karena rivalitas panas keduanya, tetapi juga karena penggunaan Video Assistant Referee (VAR) untuk pertama kalinya di turnamen ini.
Keputusan menggunakan VAR telah diumumkan secara resmi oleh pihak penyelenggara. Ahmed Zaki Iskandar selaku Manajer Timnas Indonesia U-23 telah mengonfirmasi bahwa teknologi ini akan hadir dalam laga penentuan nanti.
“(Final) Pakai VAR. Insyaallah pakai VAR. Sudah resmi diumumkan pakai VAR,” kata Zaki sebagaimana mengutip laporan Antara News, Senin (28/7/2025).
Sebelumnya, akun Instagram The ASEAN Football juga telah mengumumkan bahwa final edisi 2025 ini akan dilengkapi VAR. Menurut mereka, kehadiran teknologi ini akan menciptakan pertandingan yang lebih adil dan minim kontroversi.
Namun pelatih Gerald Vanenburg yang menangani Garuda Muda ternyata punya pandangan menarik. Ia mendukung penggunaan VAR di final, tetapi menyayangkan kehadirannya yang hanya muncul di penghujung turnamen.
“Mengenai VAR besok, tentu itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi, sejatinya VAR sudah harus digunakan di pertandingan-pertandingan sebelumnya karena ada beberapa kejadian yang seharusnya bisa dilihat dari situ,” ujar pelatih berusia 61 tahun itu dalam sesi konferensi pers di SUGBK.
"Tapi, kalau besok ada, akan sangat luar biasa," tambahnya.
Vanenburg menyiratkan bahwa penggunaan VAR sejak awal akan memberikan rasa keadilan yang lebih merata bagi semua tim peserta, bukan hanya dua finalis saja.
Meski begitu, ia tetap menyambut positif kehadiran VAR di partai final. Terlebih, laga melawan Vietnam diprediksi akan berjalan keras dan emosional, seperti pertemuan kedua tim di final edisi 2023 lalu yang berakhir dramatis melalui adu penalti.
VAR Lengkapi Final, Clean Play Wajib Dijaga Timnas Indonesia
Menghadapi tim seperti Vietnam yang dikenal punya gaya bermain agresif, kehadiran VAR bisa menjadi senjata tambahan bagi Indonesia untuk menjaga keadilan di lapangan.
VAR memungkinkan wasit meninjau ulang insiden-insiden krusial seperti pelanggaran kasar, diving, hingga provokasi yang tidak tertangkap secara langsung. Ini berarti pemain Vietnam harus lebih berhati-hati jika ingin bermain kotor.
Namun di sisi lain, Timnas Indonesia juga wajib mengedepankan permainan yang cerdas dan penuh disiplin. Pelanggaran ceroboh justru bisa berbalik menjadi bumerang karena wasit dibantu dengan teknologi.
Beberapa risiko besar dari pelanggaran tidak perlu bisa menghadirkan peluang tendangan bebas bagi lawan, kartu kuning atau merah, hingga terganggunya ritme permainan. Hal ini bisa dimanfaatkan Vietnam untuk membalikkan keadaan jika Indonesia lengah.
Dengan sistem VAR yang lebih objektif, Timnas Indonesia harus percaya diri untuk bermain keras, tapi tetap sportif. Jangan terjebak provokasi atau emosi yang bisa merugikan tim sendiri.
Pelatih Vanenburg pun tampaknya sadar betul akan hal ini. Pengalaman panjangnya di sepak bola Eropa menjadikannya paham betapa pentingnya kontrol emosi dan kecerdasan bermain dalam laga berintensitas tinggi.
VAR di partai final ini bukan hanya menjadi alat bantu teknis, tapi juga penyeimbang psikologis. Pemain yang tahu bahwa setiap gerakan bisa ditinjau ulang, akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan di lapangan.
Itu sebabnya menjaga clean play menjadi kewajiban. Karena jika tidak, teknologi tersebut justru bisa memperberat hukuman dan menggagalkan peluang emas Timnas Indonesia untuk meraih gelar juara.
Di sisi lain, penggunaan VAR juga akan memberikan efek jera bagi pemain yang biasa menggunakan trik kasar. Mereka akan lebih waspada karena VAR bisa menguak semua niat tersembunyi yang merugikan lawan.
Kabar baiknya, VAR bisa memberikan keadilan yang lebih jernih dan kesempatan banding secara real-time jika ada keputusan wasit yang dirasa kurang tepat. Ini membuat pertandingan bisa berjalan lebih transparan dan minim tekanan eksternal.
Baca Juga
-
Tanpa Thom Haye di FIFA Series, Timnas Indonesia Unjuk Transformasi Baru?
-
Elkan Baggott Comeback, Lini Belakang Timnas Indonesia Makin Terjamin?
-
Garuda Calling! John Herdman Kembalikan Nuansa Era Lama di Timnas Indonesia
-
PSSI Harus Bayar Denda Puluhan Juta ke AFC, Kok Bisa?
-
Reuni Jarak Jauh: Alejandro Catena Terima Jersi Persija dari Jordi Amat
Artikel Terkait
Hobi
-
Windah Basudara hingga Logan Paul, Kenapa Kartu Pokemon Mahal dan Digemari?
-
Tanpa Thom Haye di FIFA Series, Timnas Indonesia Unjuk Transformasi Baru?
-
Mimpi Buruk di Shanghai, Ini Alasan McLaren Tak Bisa Ikut GP China 2026
-
Juara Dunia 7 Kali Kembali! Sir Lewis Hamilton Podium Bersama Ferrari
-
Jadi Tuan Rumah GP Brasil, Ini Perjalanan Diogo Moreira Sampai di MotoGP
Terkini
-
Ketika Kecemasan Sosial Datang Bersamaan dengan Hari Raya
-
Xiaomi Rilis Mijia Front-Opening 18 Inci: Koper Travel Inovatif Antibakteri
-
Whoosh ke Surabaya: Ambisi Melaju Kilat di Atas Tumpukan Utang Negara
-
Kenapa TikTok Lebih Ngerti Kamu daripada Pacar Sendiri? Bongkar Rahasia Algoritma FYP
-
Habis Sahur Tidur Lagi? Ternyata Buat Pola Tidur dan Metabolisme Berantakan