Hampir sepekan pasca pemecatan Patrick Kluivert, induk sepak bola Indonesia alias PSSI belum juga menentukan sosok pengganti sang pelatih.
Meskipun belum akan dihadapkan dengan event besar hingga setidaknya tahun depan, namun agenda terdekat bertajuk FIFA Matchday bulan November sudah menanti di depan mata.
Jika nantinya sampai bulan November PSSI belum juga mendapatkan pelatih pengganti untuk menangani Timnas Indonesia senior, maka opsi menempatkan penasihat teknis Timnas Indonesia, Jordi Cruyff sebagai pelatih karetaker menjadi sebuah hal yang cukup masuk akal.
Jika benar opsi tersebut yang diambil oleh PSSI, maka akan menjadi sebuah hal yang menarik untuk sedikit mengulik bagaimana formasi yang mungkin saja akan diterapkan oleh saudara kandung dari Johan Cruyff tersebut.
Jika berkaca dari history Johan Cruyff saat menjadi pelatih, sejatinya skema permainan yang dikembangkan oleh legenda Belanda ini tak berbeda jauh dengan Patrick Kluivert yang mengandalkan skema empat bek.
Laman transfermarkt mencatat, setidaknya ada 3 formasi favorit Johan Cruyff yang berbasiskan empat bek. Selain 4-4-2 konvensional, Cruyff juga kerap memainkan 4-4-2 diamond dan 4-3-3.
Hal ini dapat terlihat ketika Cruyff melatih klub Shenzhen FC yang mana dirinya lebih sering memainkan formasi empat bek. Dari 17 laga yang dimainkan oleh klub asal China tersebut, Cuyff sebanyak 16 kali memainkan skema 4 bek, sementara satu kali terkonfirmasi bermain dengan formasi 3-4-3.
Berkaca dari hal tersebut, tentunya kita sebagai penggemar Timnas Indonesia agak khawatir jika nantinya Cruyff benar-benar memegang Timnas Indonesia untuk FIFA matchday mendatang.
Pasalnya, Skuat Garuda belakangan ini kerap tampil tak maksimal ketika memainkan skema 4 bek di lini pertahanan. Contoh nyatanya adalah era Patrick Kluivert kemarin, yang mana Jay Idzes dan kolega tak mampu berbuat banyak atas lawan-lawannya ketika memainkan pakem ini.
Terlebih lagi, meskipun bertajuk sebagai laga uji coba, namun FIFA matchday tetaplah laga yang turut menentukan penambahan atau pengurangan poin bagi Indonesia.
Sehingga jika nantinya Cruyff yang fanatik dengan skema 4 bek benar-benar memainkan formasi ini di Timnas Indonesia dan berujung kegagalan, maka upaya untuk menaikkan peringkat FIFA Indonesia yang di periode ini mengalami penurunan tentu akan kembali menelurkan hasil pahit.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kesakralan Bulan Juni dan Pandangan Sederhana Saya Terkait Kesempurnaan Ide Pancasila
-
Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
-
'Oleh-Oleh' Presiden Prabowo dari Luar Negeri: Antara Visi Visioner dan Mimpi Buruk Guru di Sekolah
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
Artikel Terkait
-
SEA Games 2025, Masih Perlukah Timnas Indonesia Turunkan Pemain Diaspora?
-
Calon Pelatih Timnas Indonesia, Timur Kapadze Pernah Tersandung Skandal dan Sabotase
-
Usai Dipecat, Alex Pastoor Bongkar 3 Target Besar PSSI yang Gagal Total di Era Pelatih Belanda
-
Akira Nishino Diumumkan Jadi Pelatih Timnas Indonesia Hari Ini? Ini Profilnya
-
Perjalanan Hidup Calon Pelatih Indonesia, Timur Kapadze: Korban Tangan Besi Stalin
Hobi
-
Bukan Situs Ilegal! Ini Deretan Platform Resmi untuk Streaming Piala Dunia 2026
-
Shin Tae-yong Resmi ke Persija, Mampukah Formula Sukses Timnas Terulang?
-
Erick Thohir Ultimatum Timnas Indonesia Jelang Hadapi Mozambik, Ada Apa?
-
Jadwal MotoGP Hungaria 2026: Akankah Marc Marquez Mengulang Kesuksesannya?
-
Karier Tak Jelas, Elkan Baggott Berpeluang Kembali Dipinjamkan Musim Depan?
Terkini
-
Ulasan Drama Pro Bono, Perjalanan Jung Kyung-ho Melawan Ketidakadilan
-
Menghargai dan Merayakan Diri Sendiri dalam Buku Kios Pasar Sore
-
5 Rekomendasi Lipstik Korea biar Bibir Kamu Auto Mirip Idol K-Pop!
-
MBG Sampai ke Raja Ampat, tapi Siapa yang Mau Bayar?
-
Skandal Miliaran BGN Dibongkar: Ketegasan Nyata atau Bom Waktu yang Telat?