Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Selebrasi para pemain Vietnam U-22 setelah menjebol gawang Laos di SEA Games 2025 (dok. vietnam.vn)
Rana Fayola R.

Harapan Timnas Indonesia U-22 untuk melaju ke semifinal sepak bola putra SEA Games 2025 Thailand kembali hidup. Situasi ini tercipta berkat hasil pertandingan yang menguntungkan antara Malaysia melawan Vietnam di Grup B yang membuat peluang Garuda Muda belum tertutup sepenuhnya.

Melansir Antara News, kepastian mengenai terjaganya kans lolos tersebut muncul setelah laga antara Malaysia dan Vietnam tidak berakhir dengan skor imbang. Sebaliknya, kemenangan 2-0 menjadi milik Vietnam dalam laga yang berlangsung pada Jumat lalu.

Dua gol kemenangan yang membawa Vietnam melaju ke babak berikutnya dicetak oleh Nguyen Hyieu Minh pada menit ke-11. Keunggulan tersebut kemudian digandakan oleh Pham Minh Phuc pada menit ke-22.

Hasil ini secara otomatis membawa Vietnam asuhan Kim Sang-sik mengunci posisi sebagai juara Grup B dengan total enam poin. Sementara itu, Malaysia harus puas tertahan di peringkat kedua dengan koleksi tiga poin.

Malaysia yang tadinya hanya membutuhkan satu poin saja untuk memastikan tiket ke semifinal, kini berada di ujung tanduk dan sangat mungkin tersingkir. Untuk sementara, di dalam klasemen mini runner-up terbaik, Malaysia memang berada di posisi teratas. Mereka unggul dalam hal selisih gol dari pesaing terdekat, Timor Leste.

Namun posisi itu sama sekali tidak aman. Lantaran jika Indonesia berhasil meraih kemenangan dalam laga terakhirnya, maka Malaysia akan otomatis tersingkir dari persaingan. Saat ini, Garuda Muda masih berada di posisi kedua Grup C tanpa perolehan poin setelah dikalahkan Filipina 0-1 pada laga perdana.

Memperbaiki Kegagalan Laga Perdana

Kekalahan 0-1 yang dialami Timnas Indonesia U-22 dari Filipina di pertandingan pembuka Grup C SEA Games 2025 telah memicu kritik tajam dari berbagai pihak terhadap kualitas tim di bawah asuhan pelatih Indra Sjafri.

Gol sundulan dari Banatao Otu Abang pada menit injury time babak pertama, yang berawal dari skema lemparan ke dalam, menjadi titik lemah yang disoroti. Momen tersebut terjadi meski Indonesia menunjukkan dominasi permainan, khususnya di babak kedua.

Indra Sjafri sendiri mengakui bahwa performa timnya di lapangan tidak sesuai dengan harapan dan sangat menyesali kelengahan di sektor pertahanan.

Akibat hasil minor ini, publik membanjiri media sosial dengan kritikan pedas. Sorotan utama diarahkan pada lini depan yang dinilai tumpul, pertahanan yang rentan, serta taktik tim yang mudah dibaca lawan.

Beberapa faktor yang disinyalir menjadi penyebab kekalahan adalah lini depan yang gagal mengkonversi peluang, padahal Indonesia sudah menerapkan strategi tiga penyerang termasuk Mauro Zijlstra yang tidak efektif.

Kemudian, rapuhnya pertahanan yang mudah kebobolan dari situasi bola mati dan serangan balik Filipina. Terakhir, dominasi babak kedua menjadi sia-sia karena finishing yang buruk, termasuk kegagalan Rafael Struick mengeksekusi penalti..

Untuk kembali menjaga tradisi Timnas Indonesia yang selalu berhasil menembus semifinal SEA Games dalam tujuh edisi terakhir sejak menjadi tuan rumah pada 2011, Garuda Muda kini wajib bekerja keras.

Terakhir kali Indonesia gagal melewati babak fase grup adalah pada edisi 2009 di Vientiane, Kamboja, saat mereka menjadi juru kunci Grup B hanya dengan satu poin.