Kekalahan telak menjadi pelajaran pahit bagi Timnas Indonesia U-17 saat menjamu China dalam laga uji coba di Indomilk Arena, Tangerang, Minggu (8/2/2026).
Pelatih Nova Arianto menegaskan bahwa hasil akhir 0-7 tersebut menunjukkan adanya jarak kualitas yang nyata, tetapi ia berharap anak asuhnya bisa segera belajar dan bangkit dari kegagalan tersebut.
Pertandingan yang berlangsung di Indomilk Arena tersebut memperlihatkan dominasi total tim tamu sejak peluit pertama dibunyikan. Gawang Indonesia yang dikawal Noah Leo Duvert terus dibombardir oleh lini serang Tiongkok yang tampil sangat klinis.
Babak pertama berakhir dengan keunggulan 0-4 untuk China. Gol pembuka dicetak melalui sundulan Zhao Songyuan pada menit ke-16, yang kemudian menambah pundi golnya di menit ke-43. Dua gol lainnya di babak pertama dihasilkan oleh Wang Heyi (25') dan Shuai Weihao (45').
Memasuki babak kedua, intensitas serangan China tidak menurun. Shuai Weihao mencetak gol keduanya pada menit ke-53, disusul oleh Zhang Bolin pada menit ke-73, dan ditutup oleh gol Ailikamu Yilihong di masa injury time (90+).
Nova Arianto tidak menutupi kekecewaannya atas performa tim yang dinilai masih jauh di bawah standar yang ia tetapkan. Strategi yang telah dipersiapkan selama latihan tidak berjalan mulus di atas lapangan hijau.
"Yang pasti pertama secara ekspektasi pastinya jauh dari harapan kami. Jadi apa yang kita persiapkan di pertandingan, di seluruh pertandingan secara ekspektasi memang sangat jauh dari harapan kami," ujar Nova Arianto dalam sesi jumpa pers pasca pertandingan, melansir Antara News pada Senin (9/2/2026).
Meski demikian, Nova mencoba memahami situasi para pemainnya. Perlu diketahui bahwa skuad ini mayoritas merupakan wajah baru, dengan hanya menyisakan Mierza Firjatullah sebagai alumni Piala Dunia U-17 2025.
Perbedaan Level Kompetisi dan Kebutuhan Jam Terbang
Salah satu poin penting yang disoroti Nova adalah perbedaan mencolok antara kompetisi domestik dan pertandingan internasional. Padahal, secara statistik, para pemain ini memiliki performa gemilang di level klub.
Sebagian besar pemain Timnas U-17 saat ini tergabung dalam Garuda United U-18 yang berkompetisi di Elite Pro Academy (EPA). Di sana, mereka memuncaki klasemen dengan 55 poin dari 22 pertandingan dan mencatatkan 62 gol.
Namun, dominasi di level EPA ternyata belum cukup untuk menghadapi tim sekelas China yang memiliki intensitas permainan lebih tinggi. Indonesia terlihat kesulitan menghadapi high pressing dan kerap kecolongan melalui bola mati serta serangan balik.
"Dan kita tahu China juga menjadi salah satu tim yang sangat baik dalam pertandingan hari ini. Dan saya kira pemain sudah berjuang sangat maksimal hari ini. Dan itu yang saya ingin saya lihat dari pemain agar pemain bisa belajar dari pertandingan hari ini," tambah Nova.
Kekurangan utama terlihat pada lini pertahanan yang rapuh dan lini serang yang mandul. Tercatat hanya ada satu peluang emas dari I Komang Semadi, namun sayangnya gagal dikonversi menjadi gol.
Nova menekankan bahwa pengalaman bertanding melawan tim-tim kuat Asia sangat krusial bagi regenerasi pemain. Ia telah berkoordinasi dengan PSSI agar jadwal uji coba internasional bisa diperbanyak sebelum terjun ke turnamen resmi.
"Dan itu yang saya sampaikan ke PSSI juga, bagaimana pemain-pemain ini membutuhkan uji coba secara internasional karena pasti berbeda secara intensitasnya," tegas pelatih yang identik dengan gaya disiplinnya tersebut.
Waktu yang tersisa menuju Piala Asia U-17 2026 yang akan digelar 30 April mendatang tergolong singkat. Nova memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengevaluasi aspek fisik, taktik, dan mental dari 28 pemain yang dipanggil.
"Kalau saya bicara masalah level, memang kita masih jauh untuk bersaing di Asia. Tapi kita masih ada waktu, hampir 1-2 bulan (menuju Piala Asia U-17 2026)," tandasnya.
Kekalahan ini sejatinya menjadi alarm penting bagi pengembangan sepak bola usia muda Indonesia. Dengan menghadapi kenyataan pahit lebih awal, diharapkan Timnas Indonesia U-17 bisa melakukan perbaikan menyeluruh sebelum benar-benar bertarung di panggung Asia demi mengejar tiket Piala Dunia U-17 2027.
Baca Juga
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah
-
Kim Ji Yeon dan Park Seo Ham Tampil Serasi di Script Reading Dive Into You
-
Ada yang Hilang dari Xdinary Heroes, Lagu Lost and Found Jadi Lebih Nylekit
-
Bentrok Jadwal, Lee Jong Suk Dipastikan Batal Bintangi Iseop's Romance
-
Persebaya Siap Taklukkan Cuaca Panas di Bhayangkara, Bisa Rebut Tiga Poin?
Artikel Terkait
-
Dihajar China, Timnas Indonesia U-17 Perlu Evaluasi Menyeluruh?
-
Eks Tangan Kanan STY Buka Opsi Tambah Pemain Diaspora untuk Timnas Indonesia U-17
-
Timnas Indonesia U-17 Pertimbangkan Tambah Pemain Diaspora, Nova Pasrahkan ke Kurniawan Dwi Yulianto
-
Sampaikan ke PSSI, Nova Arianto Akui Timnya Masih Jauh dari Level Asia
-
Pantas Saja Kalah Telak, Timnas Indonesia U-17 Turun dengan Skuad Baru
Hobi
-
Mengejar atau Dikejar Marc Marquez: Mana yang Lebih Menakutkan di Lintasan MotoGP?
-
Kejutan Skuad Timnas di FIFA ASEAN Cup 2026: Badai Cedera dan Misi Sulit John Herdman
-
Banting Setir! Alex Rins Hijrah ke Kompetisi Balap Roda 4 Usai dari MotoGP
-
Jadi Rekan Setim, Marc Marquez Prediksi Bakal Dikalahkan oleh Pedro Acosta
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
Terkini
-
Skin Barrier Sehat! 4 Pelembap Cream Squalane Kunci Hidrasi Kulit Kering
-
Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?
-
Di Balik Kekecewaan 5 cm, Saat Nostalgia Terbentur Realitas Prekuel
-
4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal