Perasaan pencinta sepak bola di kabupaten Rembang belakangan ini tengah diliputi kekecewaan yang mendalam. Perjuangan keras tim kesayangan mereka, PSIR Rembang harus berakhir dengan cara yang tragis, didiskualifikasi!
PSIR Rembang yang kini tengah mengais prestasi di pentas Liga 4 Indonesia regional Jawa Tengah, harus terhenti langkahnya tepat di depan pintu gerbang putaran Liga 4 Nasional, yang sekaligus menjadi penentu status promosi tim dari divisi ini.
Penyebabnya? Tentu saja karena kisruh yang terjadi ketika tim berjuluk Laskar Dampo Awang tersebut menjamu Persak Kebumen di leg kedua babak semifinal Liga 4 regional Jawa Tengah.
Karena kisruh tersebut, sepertimana informasi yang dirilis oleh laman Suara.com (15/2/2026), PSIR harus menanggung hukuman disiplin berupa denda yang mencapai puluhan juta, sanksi individual terhadap beberapa pemain, panitia penyelenggara pertandingan, hingga yang paling menyakitkan tentu saja didiskualifikasi dari keikutsertaannya di Liga 4 Nasional.
Padahal, selama berbulan-bulan tim ini sudah berjuang begitu keras untuk bisa menggenggam tiket kelolosan ke level tersebut. Namun, begitu tiket sudah didapatkan, kerusuhan yang tak terkendali di laga yang sejatinya tak menentukan itu justru membuat impian menggapai Liga 3 menjadi kabur terbawa angin.
Sebagai salah satu warga Rembang yang sedikit-banyak memiliki kepedulian terhadap kiprah tim asli daerah, tentunya keputusan PSSI Jawa Tengah yang mendiskualifikasi PSIR dari keikutsertaan mereka di Liga 4 Nasional membuat saya kecewa berat.
Namun jika melihat grafik "anarkisme" suporter yang terus meningkat ketika PSIR memainkan laga kandang, bisa jadi keputusan diskualifikasi yang diturunkan oleh PSSI Jawa Tengah mendapatkan "sedikit" pembenaran.
Diakui ataupun tidak, para pendukung PSIR sendiri belum memiliki kedewasaan yang matang dan belum terbiasa untuk menerima hasil selain kemenangan ketika timnya bertarung.
Lebih-lebih para suporter fomo yang baru datang ke stadion ketika PSIR sudah mulai menunjukkan taringnya di gelaran liga, bukan sedari awal ketika PSIR berjuang.
Dari data yang saya rangkum dari instagram resmi PSIR Rembang, ketika awal-awal memulai liga, para pendukung yang hadir langsung di Stadion Krida Rembang hanya berada di angka seribuan saja. Kalaupun ada lebihnya, tentu hanya lebih sedikit.
Setelah itu angka kehadiran penonton terus bertambah seiring dengan menggemanya nama PSIR, dan semakin membludak. Seperti contoh, di laga melawan Persiharjo, penonton yang hadir "hanya" sekitar 2.685 pasang mata, kemudian menjadi 3.495 saat melawan Persikaba dan melonjak hingga lebih dari lima ribu kepala di partai terakhir melawan Persak Kebumen.
Namun sayangnya, peningkatan kehadiran penonton di Stadion Krida ini justru menimbulkan masalah tambahan. Alih-alih bersikap dewasa, para penonton yang hadir karena fomo atau hanya ingin merasakan euforia perjalanan PSIR tersebut justru menjadi penyebab kerusuhan yang berakhir fatal.
Ketika para pendukung setia PSIR seperti Ganster, The DampS, REDAM, dan RBG12 tampak adem-ayem dan cenderung menerima hasil dengan santai, justru para suporter fomo inilah yang menjadi tak terima. Selepas peluit akhir pertandingan ditiup, mereka menerobos pembatas, menganeksasi lapangan pertarungan, mengejar perangkat pertandingan, dan tentu saja tak ketinggalan merusak fasilitas stadion kebanggaan masyarakat Kabupaten Penghasil Garam tersebut.
Terlepas dari kepemimpinan wasit yang memang sangat butuh untuk dievaluasi, pancingan ringan dari beberapa pemain PSIR di lapangan sudah lebih dari cukup untuk meledakkan emosi tak terkendali dari para suporter fomo ini.
Mereka yang sebagian baru datang ketika melihat PSIR berhasil mempertontonkan hasil apik di kompetisi, menjadi terpancing dan membuat suasana ricuh hingga akhirnya berbuntut pada hilangnya tiket putaran Liga 4 Nasional yang sebelumnya sudah dalam genggaman.
Ah, jadinya harus kembali menunggu musim depan lagi kan kalau begini? Jikapun harus jadi suporter fomo, tolonglah jangan membuat kecewa berat para pendukung PSIR seperti ini.
Baca Juga
-
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
-
Tak Perlu Branding Berlebihan, Kualitas Herdman Terbukti Lebih Baik Ketimbang Kluivert
-
John Herdman, Timnas Indonesia, dan Formasi Laga Debutnya yang Amat Intimidatif
-
Otak-atik Skuad Timnas di FIFA Series Tanpa Gelandang Serang: Apa Siasat John Herdman?
Artikel Terkait
-
Nasib Nahas PSIR Rembang dan Wajah Sejati dari Persepakbolaan Dalam Negeri
-
PSIR Rembang Didiskualifikasi dari Liga 4 Jateng, Didenda Rp45 Juta dan Banjir Sanksi Lainnya
-
Piala Dunia 2026 Dihantui Kontroversi: ICE Ambil Peran Kunci, Suporter Waswas?
-
Brutal! Polisi Tembakan Gas Air Mata dan Peluru Karet Saat Pecah Rusuh Suporter
-
FOMO yang Menggerakkan: Mulai dari Ikut Tren Jadi Rutinitas Hidup Sehat Anak Muda
Hobi
-
Mobil ini Bisa Jalan Terbalik Menentang Gravitasi, Ini Rahasia McMurtry
-
Nasib Apes Pemain Diaspora: Main di Belanda tapi "Dibekukan" Gara-Gara Paspor WNI?
-
Bugatti Chiron Herms Edition, Hypercar dengan Sentuhan Fashion Mewah
-
Terungkap! Performa Red Bull Bukan Alasan Max Verstappen Ingin Pensiun
-
Kacau! Kemenangan Pecco Bagnaia Pupus karena Masalah Getaran pada Motor
Terkini
-
Drakor Romansa Human X Gumiho Rilis Jajaran Pemain, Siap Tayang 2027
-
Edho Zell Bercanda soal Kematian, Langsung Diperingatkan: Nggak Lucu Ah
-
Panggilan dari Dasar Laut Terdalam
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
-
iPhone Air Jadi iPhone Tertipis, Apakah Ada Spek yang Dikorbankan?