Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Potret Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo (Chosun.com)
Angelia Cipta RN

Piala Dunia selalu menjadi ajang yang mampu membangkitkan kebanggaan sebuah bangsa. Ketika tim nasional tampil gemilang, seluruh masyarakat ikut merayakannya.

Namun sebaliknya, kegagalan di turnamen terbesar sepak bola dunia sering kali memicu gelombang kritik yang luar biasa.

Hal itulah yang sedang dialami Korea Selatan setelah langkah mereka terhenti di fase grup Piala Dunia 2026.

Harapan tinggi yang sempat mengiringi Taeguk Warriors berubah menjadi kekecewaan mendalam.

Korea Selatan gagal bersaing di Grup A setelah hanya meraih satu kemenangan dari tiga pertandingan.

Kekalahan dari Meksiko dan Afrika Selatan membuat mereka harus angkat koper lebih awal, sebuah hasil yang dianggap jauh dari ekspektasi publik.

Situasi semakin memanas ketika Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyampaikan kritik keras terhadap pengelolaan sepak bola nasional.

Tidak lama berselang, pelatih Hong Myung-bo memilih mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas hasil mengecewakan tersebut.

Bahkan, sejumlah media televisi di Korea Selatan dilaporkan menyamarkan atau menyensor wajah Hong dalam tayangan berita yang membahas kegagalan tim nasional, memperlihatkan betapa besarnya tekanan yang muncul setelah eliminasi tersebut.

Gelombang Kemarahan Publik dan Kritik Presiden Korea Selatan

Korea Selatan sebenarnya datang ke Piala Dunia 2026 dengan status salah satu kekuatan utama Asia.

Kehadiran pemain-pemain yang berkarier di liga elite Eropa membuat banyak pihak yakin mereka mampu melangkah jauh.

Namun kenyataan di lapangan berbicara berbeda. Kekalahan dari Meksiko menjadi pukulan pertama, kemudian hasil buruk melawan Afrika Selatan membuat peluang lolos semakin menipis.

Kemenangan atas Ceko tidak cukup mengangkat posisi mereka di klasemen sehingga perjalanan harus berakhir di fase grup.

Kegagalan tersebut langsung memicu reaksi luas dari masyarakat. Media Korea Selatan dipenuhi kritik terhadap federasi, staf pelatih, hingga keputusan taktik yang diterapkan sepanjang turnamen.

Banyak suporter mempertanyakan mengapa tim yang memiliki kualitas individu cukup baik justru tampil tanpa identitas permainan yang jelas.

Presiden Lee Jae Myung ikut memberikan pernyataan tegas. Ia menilai kegagalan ini bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga mencerminkan persoalan dalam tata kelola sepak bola nasional.

Menurutnya, jabatan strategis harus diisi oleh orang-orang yang benar-benar memiliki kompetensi, bukan berdasarkan kedekatan atau kepentingan tertentu.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena jarang seorang kepala negara menyampaikan kritik secara terbuka terhadap performa tim nasional.

Lee bahkan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan berjanji akan mendorong reformasi di sektor olahraga agar kegagalan serupa tidak kembali terulang.

Respons pemerintah memperlihatkan bahwa sepak bola di Korea Selatan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar olahraga.

Prestasi tim nasional dianggap sebagai simbol kebanggaan negara sehingga kegagalan di panggung dunia menjadi perhatian hingga tingkat pemerintahan.

Hong Myung-bo Memilih Mundur, Akhir Perjalanan Sang Legenda

Di tengah derasnya kritik, Hong Myung-bo mengambil keputusan yang cukup berani dengan mengundurkan diri dari kursi pelatih hanya sehari setelah Korea Selatan dipastikan tersingkir.

Legenda sepak bola Korea Selatan itu mengaku telah berusaha memberikan seluruh kemampuan terbaik selama menangani tim nasional.

Dalam setiap keputusan, mulai dari pemanggilan pemain hingga penyusunan strategi pertandingan, ia mengklaim selalu mengutamakan kepentingan sepak bola Korea.

Meski demikian, Hong mengakui hasil akhir tetap menjadi ukuran utama dalam dunia sepak bola.

Karena target membawa Korea Selatan ke fase gugur gagal tercapai, ia memilih bertanggung jawab penuh atas pencapaian tersebut.

Salah satu keputusan yang paling banyak diperdebatkan adalah saat mencadangkan kapten sekaligus ikon tim, Son Heung-min, dalam pertandingan penting melawan Afrika Selatan.

Banyak pengamat menilai keputusan tersebut menjadi titik balik yang membuat Korea Selatan kehilangan kreativitas dan efektivitas di lini depan.

Setelah pengunduran dirinya diumumkan, suasana semakin emosional. Beberapa stasiun televisi dan media digital Korea Selatan bahkan dilaporkan menayangkan pemberitaan dengan menyamarkan atau memburamkan wajah Hong Myung-bo ketika membahas kegagalan tim nasional.

Langkah tersebut memunculkan berbagai perdebatan di kalangan publik. Sebagian menganggapnya sebagai simbol rasa kecewa yang mendalam, sementara yang lain menilai Hong tetap layak dihormati karena jasa-jasanya sebagai legenda sepak bola Korea.

Terlepas dari kontroversi tersebut, tidak banyak yang bisa menghapus kontribusi Hong bagi negaranya. Sebagai mantan pemain, ia pernah menjadi simbol keberhasilan Korea Selatan di Piala Dunia 2002.

Namun sebagai pelatih, kisahnya berakhir dengan cara yang jauh berbeda.

Saatnya Korea Selatan Memulai Babak Baru

Kegagalan di Piala Dunia 2026 dapat menjadi titik refleksi penting bagi sepak bola Korea Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka sebenarnya berhasil melahirkan banyak pemain berbakat yang tampil di kompetisi elite Eropa.

Namun kualitas individu saja terbukti belum cukup apabila tidak didukung sistem pembinaan, kepemimpinan, dan strategi yang tepat.

Federasi kini menghadapi pekerjaan besar untuk menentukan arah baru tim nasional.

Penunjukan pelatih berikutnya akan menjadi keputusan yang sangat menentukan karena publik berharap Korea Selatan mampu kembali menjadi kekuatan utama Asia sekaligus bersaing di level dunia.

Selain mencari sosok pelatih baru, evaluasi terhadap sistem pembinaan pemain muda juga menjadi kebutuhan mendesak.

Korea Selatan memiliki akademi-akademi berkualitas, tetapi kesinambungan antara pembinaan usia muda dan tim nasional senior harus diperkuat agar regenerasi berjalan lebih baik.

Di sisi lain, para pemain juga diharapkan segera bangkit dari kekecewaan. Nama-nama seperti Son Heung-min dan generasi muda Korea masih memiliki kualitas untuk membawa negara tersebut kembali bersaing di turnamen besar mendatang.

Pengalaman pahit di Piala Dunia 2026 bisa menjadi pelajaran berharga dalam membangun mental juara.

Kisah Korea Selatan di Piala Dunia kali ini menunjukkan bahwa kegagalan sebuah tim tidak pernah disebabkan oleh satu faktor saja.

Hasil di lapangan merupakan akumulasi dari keputusan teknis, kesiapan mental, kualitas organisasi, hingga kepemimpinan di balik layar.

Kini, setelah badai kritik mulai mereda, tantangan terbesar Korea Selatan adalah membangun kembali kepercayaan publik.

Apabila proses evaluasi dilakukan secara menyeluruh dan reformasi benar-benar dijalankan, kegagalan di Piala Dunia 2026 bukan tidak mungkin akan dikenang sebagai awal dari kebangkitan baru Taeguk Warriors menuju turnamen-turnamen besar berikutnya.