Problematika bangsa Indonesia selama pendudukan Jepang, pada awal tahun 1945, semakin memprihatinkan. Hal ini merupakan akibat dari kekalahan Jepang dalam berbagai front di Perang Pasifik. Pertempuran mulai dikuasai oleh Amerika beserta sekutunya, termasuk Belanda. Dalam hal ini, Jepang sudah dalam ambang batas tidak ada rasa kemanusiaan ketika semakin terdesak kalah.
Blitar merupakan salah satu kota di Jawa Timur, yang memiliki kekuatan pasukan PETA terbaik. PETA, atau dikenal dengan Pembela Tanah Air, adalah organisasi militer bentukan Jepang yang dibentuk guna membantu Jepang ketika berhadapan dengan Sekutu di Indonesia. Banyak tokoh-tokoh Indonesia yang berasal dari kesatuan PETA, seperti Jenderal Soedirman.
Sikap kesewenang-wenangan Jepang di Blitar pada awal tahun 1945 sudah semakin menjadi-jadi. Selain menyita semua hasil bumi dari para penduduk, harta berupa uang dan perhiasan juga dirampasnya. Semua demi kepentingan perang Jepang. Para penduduk juga semakin ditekan untuk memberikan segenap tenaga dan pikirannya demi kemenangan perang Jepang.
Dalam peristiwa lain, sampai banyak terjadi pelecehan terhadap penduduk setempat. Suatu hal yang membuat para pasukan PETA semakin geram. Mereka hendak melancarkan balasannya dengan melakukan sebuah gerakan perlawanan.
Berbagai kegiatan pertemuan antar pasukan PETA di setiap kota sudah mulai intens dilakukan sejak September 1944. Namun, dianggap siap ketika Jepang sudah terlihat semakin terdesak di awal tahun 1945. Hingga penetapan waktu perlawanan ditentukan oleh Supriyadi. Berbekal senjata-senjata hasil rampasan dari pihak Jepang. Gerakan perlawanan kemudian ditetapkan pada dini hari.
Tepat, pada tanggal 14 Februari 1945 yang seperti kita tahu merupakan tanggal cinta kasih, pasukan PETA menembakkan mortir ke area Hotel Sakura. Tempat kediaman para perwira Jepang di Blitar. Satuan kelompok PETA lainnya, dengan gencar menembaki markas Kempetai (polisi rahasia) Jepang dengan strategi hit and run.
Akan tetapi, upaya perlawanan tersebut tidak berjalan lancar dalam rencana. Kesatuan lain yang dari awal sudah dipersiapkan untuk membantu serangan, justru sudah "diamankan" oleh Kempetai Jepang. Mereka semua dilucuti senjatanya, dan segera dihadapkan ke meja pengadilan militer.
Begitupula dengan pasukan Supriyadi, yang pada akhirnya kewalahan menghadapi Jepang. Hingga para pemimpinya kemudian dapat ditangkap oleh Jepang. Mereka semua dijatuhi hukuman yang berat. Namun, tidak untuk Supriyadi, ia tidak dapat diketemukan usai peristiwa perlawanan tersebut. Dianggap hilang, dan tidak ada yang tahu di mana rimbanya.
Hingga pada masa kemerdekaan, Bung Karno mengangkat Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Hingga penetapannya, ia juga tidak kunjung hadir dan tampak. Sekiranya sejarah telah menuliskan, bahwa Supriyadi telah dianggap gugur ketika usai melancarkan perlawanannya kepada Jepang di Blitar.
Begitulah besarnya cinta seorang pahlawan, yang digelorakan demi kemerdekaan bangsanya. Walau harus mengorbankan jiwa raganya. Semoga arti cinta dari semangat perlawanan PETA di Blitar dapat memberi inspirasi bagi kita. Bahwa sejatinya cinta itu sebaiknya dapat kita berikan kepada bangsa dan negara. Seperti kisah cinta Supriyadi terhadap bangsa Indonesia.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Tren Skincare Pria: Dekonstruksi Maskulinitas dan Kesetaraan Atas Perawatan
-
Estetika di Atas Makna: Mengapa Ejaan Nama Anak Kini Semakin Rumit?
-
Kejujuran Mi Ayam dan Kepalsuan Harga Ramen: Sejak Kapan Rasa Kalah oleh Layar Ponsel?
-
Begadang Demi Tugas Bukanlah Prestasi, Itu Adalah Bentuk Kezaliman
-
Semalam Malas Nikah, Pagi Malah Ingin: Bagaimana FYP TikTok Mengacak Standar Kebahagiaan Kita
Terkini
-
Cerita dari Dapur Kayu Bakar: Tradisi Memotong Ayam dan Doa Opung untuk Cucu Merantau
-
Rahasia Performa Atlet Dunia: Mengulas Fitur Proaktif Samsung Galaxy Watch8
-
Napoleon dari Tanah Rencong: Saat Sejarah Aceh Menjadi Nyata dalam Novel Akmal Nasery Basral
-
Gaet Anderson .Paak, Taeyong NCT Rayakan Kesuksesan di Lagu Solo Rock Solid
-
Menyelami Metafisika Jawa dan Ilmu Kanuragan dalam Novel Epik Candi Murca: Ken Dedes