Pada tanggal 10 Juli tahun 2023 kali ini kembali diperingati sebagai hari bebas energi global atau Global Energy Independence Day. Melansir dari situs National Today, peringatan hari bebas energi global ini merupakan bentuk kampanye terhadap pembatasan atau pengurangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil dan sebagai bentuk penggalakan untuk penggunaan energi alternatif.
Di masa modern seperti sekarang, penggunaan energi yang bersumber dari bahan bakar fosil tentunya kian masif dilakukan oleh masyarakat dunia. Melansir dari data yang berasal dari situs dataindonesia.id, konsumsi bahan bakar fosil salah satunya minyak bumi mencapai 94,04 juta barel per hari pada 2021. Jumlah ini tentunya bisa meningkat hingga 100 juta barel per tahun apabila melihat trend yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Permasalahan Konsumsi Minyak Bumi yang Berlebihan
Konsumsi minyak bumi yang berlebihan dalam beberapa dekade terakhir ini tentunya menimbulkan pertanyaan tentang ketersediaan sumber bahan bakar fosil ini di masa depan. Melansir dari data British Petroleum (BP), Amerika Serikat menempati peringkat pertama sebagai negara konsumen minyak bumi dengan total sekitar 19 juta barel perharinya pada tahun 2021 lalu. Posisi kedua ditempati oleh Tiongkok dengan jumlah 15 juta barel perhar dan India dengan 4,88 juta barel perharinya.
Tentunya konsumsi minyak bumi ini dipergunakan untuk baragam kepentingan. Mulai dari tenaga penggerak kendaraan bermotor, kegiatan industry dan juga untuk membiayai beberapa pembangkit tenaga listrik. Hal ini bisa saja bertambah dari waktu ke waktu mengingat pertumbuhan industry global yang kian masif dari tahun ke tahun. Bila hal ini tidak segera ditemukan solusinya, bukan tidak mustahil cadangan minyak bumi kedepannya akan segera habis.
BACA JUGA: Kebutuhan Privasi Antarpasangan, Sejauh Mana Toleransinya?
Melansir dari situs katadata.co.id, cadangan sumber minyak di dunia diprediksi akan habis dalam 300 tahun ke depan apabila konsumsi minyak bumi tetap dengan skala seperti beberapa tahun terakhir. Cadangan minyak bumi terbesar masih dipegang oleh negara Venezuela dengan 303,81 miliar barel dan diikuti Arab Saudi dengan jumlah 267 miliar barel. Meskipun terlihat sebagai jumlah yang besar, akan tetapi jumlah cadangan minyak ini meskipun ditambah beberapa cadangan minyak di tempat lainnya diprediksi hanya mampu mencukupi konsumsi manusia sampai beberapa ratus tahun lagi. Hal ini membuat pencarian dan pengembangan energi alternatif perlu segera dilakukan.
Permasalahan Menemukan Energi Baru
Pengembangan sumber energi baru tentunya tidak semudah yang diperkirakan. Pencarian sumber energi fosil seperti minyak bumi tentunya juga masih dilakukan di beberapa penjuru dunia. Selain memerlukan biaya yang cukup besar, kegiatan pertambangan seperti minyak bumi ataupun batu bara tentunya juga rawan dalam menganggu ekosistem hayati apabila tidak diawasi dalam proses pertambangannya.
Tentunya pencemaran lingkungan dari proses pertambangan ini merupakan sebuah masalah klasik dalam menemukan sumber energi baru. Belum lagi pengembangan energi alternatif tentunya tidak semudah yang dikira banyak orang. Salah satu energi alternatif yang ditawarkan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah energi listirik, hal ini dapat terlihat dari banyaknya pabrikan kendaraan di dunia yang mulai mengkampanyekan penggunaan mobil listrik untuk meminimalisir penggunaan energi fosil.
Namun, hal ini dirasa juga tidak terlalu efektif mengingat sumber listrik yang dihasilkan oleh beberapa negara di dunia masih memerlukan sumber bahan bakar fosil seperti gas alam, batubara dan minyak bumi. Salah satu contohnya yakni di negara Indonesia hampir semua pembangkit listrik masih menggunakan batubara sebagai tenaga penggerakknya. Belum lagi sumber daya alam seperti gas yang populer digunakan di negara-negara Eropa dan timur tengah. Dengan adanya peringantan hari bebas energi global ini, diharapkan juga turut menumbuhkan perhatian dari masyarakat luas dalam menjaga dan membatasi konsumsi energi dunia kedepannya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tampil Gila di Piala Dunia 2026, Vozinha Layak Menunda Masa Pensiunnya!
-
Tak Punya Gelar Piala Dunia, Apakah Cristiano Ronaldo Sah Disebut Legenda Terbesar Portugal?
-
Bukan Sekadar Bola, Konflik Mbappe vs Senator Paraguay Berpotensi Jadi Masalah Diplomatik!
-
Babak Belur di Kandang Sendiri: Akhir Perjalanan Tragis AS, Kanada, dan Meksiko di Piala Dunia 2026
-
Ironi Brasil: Peraih 5 Gelar yang Selalu Gagal dalam 20 Tahun Terakhir
Artikel Terkait
Kolom
-
Dibalik Megaproyek B50: Siapkah Indonesia Mengatur Ulang Ekosistem Energinya?
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
Terkini
-
Drakor Agent Kim Reactivated Ungkap Pakai AI untuk Adegan Misi Korea Utara
-
Piala Dunia 2026: Kemenangan Argentina dan Perjuangan Swiss yang Dikhianati Pemainnya Sendiri
-
5 Tips Ampuh Memulai Percakapan Saat MPLS, Dijamin Gak Bakal Canggung!
-
Piala Dunia 2026: Norwegia Pulang dengan Kepala Tegak, Kok Bisa?
-
Tak Sekadar Tempat Tinggal, Ini Arti Rumah dalam Lagu 'Yuk, Pulang' Idgitaf