Kebahagiaan dan kesedihan merupakan dua emosi manusia yang saling melengkapi, namun seringkali kita mengamati dan merasakannya sendiri bahwa kebahagiaan itu cenderung bersifat sementara, sedangkan kesedihan dapat bertahan dalam diri manusia untuk waktu yang lebih lama. Fenomena ini telah menarik perhatian para ahli psikologi dan neurosains untuk menjelaskan mengapa perasaan-perasaan ini memiliki kecenderungan yang berbeda dalam durasi dan intensitasnya.
A. Proses Evolusi dan Kebahagiaan Cepat
Kebahagiaan seringkali dikaitkan dengan pengalaman positif yang cepat, seperti mendapatkan hadiah atau mencapai tujuan tertentu. Menurut teori evolusi, respons cepat terhadap stimulus positif adalah keuntungan dalam persaingan hidup. Hasil penelitian oleh ahli psikologi evolusioner seperti David M. Buss dan Randy Larsen menunjukkan bahwa respons cepat terhadap hadiah atau kesuksesan memiliki nilai adaptif untuk kelangsungan hidup manusia di masa lalu. Jadi, tak heran jika kita merasakan kebahagiaan hanya beberapa saat saja, dan itupun merupakan proses dari reflek atas apa yang kita terima. Kita ingin tertawa saja itu tak bisa kita rencanakan dengan sedemikian rupa.
B. Mekanisme Neurubiologis Kesedihan yang Lama
Kesedihan, di sisi lain, cenderung memiliki dasar neurobiologis yang lebih kompleks. Neurotransmitter seperti serotonin dan dopamine, yang terlibat dalam regulasi mood, dapat berperan dalam ketahanan perasaan sedih. Penelitian oleh neurosains seperti Richard J. Davidson menunjukkan bahwa aktivitas otak yang berkelanjutan di daerah-daerah yang terlibat dalam emosi negatif dapat memperpanjang dan memperkuat perasaan kesedihan. Itupun, sudah menjadi sifat naluriah manusia, di mana kita mempunyai memori yang sulit untuk dipilah bagian mana saja yang layak disimpian atau tidak.
C. Peran Memori dalam Durasi Emosi
Salah satu faktor penting dalam perbedaan durasi kebahagiaan dan kesedihan adalah peran memori. Emosi positif cenderung memiliki pengaruh singkat karena memori terhadap pengalaman positif dapat memudar lebih cepat. Di sisi lain, kesedihan sering kali terkait dengan pengalaman trauma atau kegagalan, yang dapat meninggalkan jejak yang mendalam dalam ingatan jangka panjang.
Well, meskipun kebahagiaan cenderung bersifat sementara, dan kesedihan memiliki kecenderungan untuk bertahan lebih lama, kedua emosi ini memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Proses evolusi, mekanisme neurobiologis, dan peran memori semuanya berkontribusi pada perbedaan dalam durasi dan intensitas kebahagiaan dan kesedihan. Memahami aspek psikologis dan neurosains dari kedua emosi ini dapat membantu kita mengelola dan memahami pengalaman emosional kita dengan lebih baik.
Baca Juga
-
Pentingnya Berfilsafat di Tengah Kondisi Demokrasi yang Carut-Marut
-
Film A Moment to Remember: Menggugah Hati dan Syarat akan Antropologis
-
Menguak Misteri: Kecerdasan Tidak Didasarkan pada Kehebatan Matematika
-
Antara Kecerdasan Emosional dan Etika dalam Bermain Media Sosial
-
Ini yang Akan Terjadi jika Kuliah atau Pendidikan Tinggi Tidak Wajib!
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Terapi Luka Batin: Menemukan Kembali Diri Kita yang Belum Utuh
-
Lebih Bahagia dengan Cara Sederhana: Mulai dari Micro-Moments of Happiness
-
Koreksi Diri, 3 Hal Ini Membuat Kita Terjebak dalam Pilihan Salah
-
Deretan 10 Negara Paling Bahagia di Dunia, Termasuk Indonesia?
-
Di Balik Gaun Pengantin, Luka Psikologis Pernikahan Dini
Kolom
-
Idul Fitri dan Renyahnya Peyek Kacang dalam Tradisi Silaturahmi
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?
-
Harga Emas Naik, Alarm Krisis Ekonomi di Depan Mata
-
Ki Hadjar Dewantara Menangis, Pendidikan yang Dulu Dibela, Kini Dijual
Terkini
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Kembali Gendong Marwah Persepakbolaan Asia Tenggara
-
Ulasan Webtoon Our Secret Alliance: Perjanjian Palsu Ubah Teman Jadi Cinta
-
Pemain PC Kini Bebas dari PSN! Sony Ubah Kebijakan Akun PlayStation
-
Timnas Indonesia, Gelaran Piala Asia dan Bulan April yang Selalu Memihak Pasukan Garuda