Hernawan | Mohammad Maulana Iqbal
Karl Marx (Dok. Pribadi/Mohammad Maulana Iqbal)
Mohammad Maulana Iqbal

Banyak orang, aktivis, bahkan masyarakat akademik sering salah kaprah dalam memahami gagasan-gagasan Marx. Lebih parahnya, salah kaprah pemahaman tersebut selalu berkonotasi negatif. Misalnya, Marx dianggap seorang materialis dalam artian negatif, seorang yang agresif dan lain sebagainya.

Padahal Marx itu nggak seburuk apa yang dikonstruksikan masyarakat. Melalui buku “Marx’s Consept of Man” atau dalam versi Indonesianya, “Konsep Manusia Menurut Marx” yang diterbitkan Pustaka Pelajar pada 2001. Buku ini merupakan karangan seorang sosiolog mazhab Frankfurt yakni Erich Fromm, menjelaskan bahwa banyak sekali kekeliruan-kekeliruan yang sering dipahami masyarakat mengenai Marx. Fromm berusaha untuk menafsirkan gagasan Marx yang bertolak belakang dengan apa yang dipahami masyarakat selama ini secara keliru.

Buku ini itu ibarah buku syarah, jika dalam tradisi pesantren. Maknanya, buku ini menafsirkan buku-buku karangan Marx yang asli seperti buku Capital, Economic and Philosophical Manuscript dan lain sebagainya. Erich Fromm berusaha menafsirkan gagasan Marx yang sering disalah kaprahi oleh kebanyakan masyarakat maupun intelektual.

Ada beberapa catatan dari Fromm mengenai kesalahpahaman masyarakat dalam memahami gagasan Marx. Melalui tulisan ini saya akan paparkan beberapa diantaranya secara singkat, padat, jelas dan trengginas.

1. Perihal Materialisme Historis

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa Marx itu orientasinya materi dalam artian negatif. Misalnya, Marx itu mikirnya duit melulu, kerja itu yang penting duit, duit dan duit. Jadi, semakin banyak materi, semakin banyak duit, maka kehidupan manusia akan lebih senang dan sejahtera.

Padahal, Marx itu nggak se-matre itu. Bagi Erich Fromm, Marx justru memiliki tujuan untuk membebaskan manusia dari tekanan kebutuhan ekonomi yang selama ini mengekang mereka.

Dan, sebenarnya Marx itu nggak menggunakan istilah “materialisme historis” sebagaimana yang sering kita dengar. Justru bagi Erich Fromm, Marx itu lebih menggunakan istilah “materialisme dialektika” yang berkebalikan dengan metode dialektika-nya Hegel. Jadi, Marx itu lebih empiris, lebih melihat kehidupan manusia secara nyata, dalam aspek ekonomi dan sosial.

2. Kesadaran

“Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan ke-ada-annya, tetapi sebaliknya, keadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya,” tutur Marx. Pernyataan tersebut bukan berarti Marx menyuruh masyarakat pasrah akan keadaan, menerima apa adanya. Kalau kata orang Jawa, nerimo ing pandum.

Bukan itu maksudnya Marx. Bagi, Erich Fromm masyarakat itu ditutut untuk sadar akan realitasnya yang terjadi, sadar secara nyata dan benar-benar sadar, bukan kesadaran palsu. Masyarakat harus tau kebutuhan mereka sesungguhnya, bukan sekadar kesenangan belaka alias kebutuhan palsu yang direkonstruksikan oleh kapital.

3. Tentang Watak Manusia

Marx itu sebenarnya nggak sepakat ketika manusia dilahirkan ibarat kertas putih yang siap untuk ditulis oleh kehidupannya kelak. Gagasan psikolog dan sosiolog kontemporer ini nggak begitu disetujui oleh Marx. Menurut Fromm bahwa Marx itu percaya kalau manusia sejak lahir sudah memiliki watak-watak umum, yang kemudian akan mengalami modifikasi seiring berjalannya waktu.

Kesalahan kaum komunis Uni Soviet, kaum sosialis reformis dan kaum kapitalis itu menganggap bahwa Marx hanya sekadar ingin menghapuskan kepemilikan pribadi dari sebuah raksasa kapital. Ketika kepemilikan pribadi terhapus, maka para buruh dapat menjadi pemilik modal.

Nah, ini sangat keliru bagi Fromm. Nyatanya saat ini ada sistem saham dalam raksasa kapital dan buruh masih terkekang dengan nasibnya. Bagi Fromm, Marx itu ingin lebih dari pada itu, Marx itu ingin benar-benar membebaskan buruh dari pekerjaannya yang membelenggunya, membebaskan kreatifitas buruh, membebaskan dari alienasi yang dialami buruh. Jadi, nggak sekadar jadi penguasa kapital doang, kalau gitu sama saja balas dendam, dong?

4. Konsep Alienasi

Kesalahpahaman mengenai Marx, terutama bagi kaum sosialis, bahwa buruh itu seharusnya upahnya lebih besar sebagaimana ia bekerja. Namun, bagi Fromm, Marx itu nggak begitu ruwet dengan pendapatan buruh. Namun, Marx itu lebih fokus pada pembebasan buruh dari alienasinya (keterasingan diri dan dunianya).

Buruh sering banget bekerja tidak sesuai dengan keterampilannya, kreatifitasnya atau jika dalam bahasa Hegel dan Marx bahwa buruh tidak eksis sebagaimana esensi dalam dirinya. Inilah yang ingin dibebaskan oleh Marx mengenai keterasingan buruh dalam dunia pekerjanya. Bahkan tidak hanya buruh saja, melainkan dalam skala yang lebih besar yakni seluruh manusia agar tidak terasing dalam dunianya sendiri.

5. Sosialisme Ala Marx

Bagi Fromm, Stalin-lah yang telah menipu banyak orang dengan mengatasnamakan Marx dalam sebuah gagasan kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah independen atau berdikari yang hidup dalam iklim demokrasi saat itu.

Padahal, bagi Fromm, kebebasan Marx itu lebih radikal dari pada itu. Marx tidak hanya memproyeksikan kebebasan secara nyata, melainkan kebebasan tersebut juga harus diakui oleh para penentangnya.

Sosialisme ala Marx bagi Fromm bertujuan untuk membebaskan manusia dari dunia kerjanya, dari produknya, dari sesama manusianya, dari dirinya sendiri dan juga dari alam. Sehingga manusia benar-benar menjadi dirinya sendiri dan dapat menguasai dunia.

6. Korelasi Marx Muda dan Marx Tua

Terdapat sebuah anggapan bahwa pemikiran Marx muda dan Marx tua memiliki kontradiktif mengenai gagasan konsep manusia. Bahkan lebih parahnya, komunis Rusia justru melintir konsep materialisme Marx menjadi materialisme komunis yang justru lebih dekat dengan gagasan materialisme mekanistik ala borjuis abad 19.

Bagi, Fromm, tidak ada patahan yang signifikan antara pemikiran Marx muda dan Marx tua. Justru bagi kebanyakan sosiolog mazhab Frankfurt, menganggap Marx tua merupakan kontiunitas dari Marx muda.

Namun, Fromm mengakui bahwa seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa istilah idealisme Hegelian yang memang dijauhi Marx tua. Meskipun begitu, secara substantif gagasan Marx muda tidak pernah berubah mengenai sosialisme dan kritiknya kepada kapitalisme.

7. Kepribadian Marx

Ada anggapan bahwa Marx merupakan seorang penyendiri, sombong, agresif dan otoriter. Namun, bagi Fromm, sosok Marx itu tidak demikian. Marx dengan Engels merupakan sosok yang solid, tidak memandang rendah kawannya, bahkan menganggap temannya sebagai saudara sendiri.

Bagi Fromm, Marx memang seorang agresif, tapi dalam artian agresif membela kaum tertindas. Agresif dalam artian membela kebenaran. Agresif dalam membela kaum buruh yang mengalami alienasi dalam dunia kerjanya.

Marx dengan istri dan anak-anaknya pun tidak pernah menempatkan diri sebagai sosok yang superior atau mendominasi. Marx mengasihi dan mencintai istri dan anak-anaknya. Bahkan ketika Marx diminta oleh anaknya Eleanor bercerita dengan kisah yang berbeda, maka Marx pun menurutinya. Bahkan sederet karya Shakespeare diceritakan Marx kepada anaknya.

Gagasan-gagasan Marx memang cukup kompleks, terutama dalam sosial-ekonomi. Oleh karena itu, perlunya ketelitian dalam memahaminya dan tidak overgeneralization pada gagasan-gagasannya. Jangan sampai gagasannya disalah kaprahi, bahkan sampai menstigmtisasi negatif Marx.