Hikmawan Firdaus | Davina Aulia
A group of older man playing a game (Unsplash.com/Kush Dwivedi)
Davina Aulia

Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, salah satu masalah umum yang sering dihadapi banyak orang adalah kelelahan karena pekerjaan yang tiada henti. Setiap hari, agi hingga petang, kita dihadapkan pada pekerjaan yang tidak pernah habis. Generasi sebelumnya mungkin terbiasa dengan pola hidup “kerja keras hingga usia 60 tahun, lalu pensiun dan menikmati masa tua”. Namun, generasi Z datang dengan perspektif berbeda. Mereka menolak konsep lama tersebut dan justru mulai memimpikan pensiun di usia yang jauh lebih muda, bahkan sebelum 40 tahun.

Fenomena ini menarik karena bukan hanya soal impian besar, tetapi juga mencerminkan pergeseran nilai hidup dan cara pandang terhadap karier. Jika dulu kesuksesan diukur dari jabatan tinggi dan masa kerja panjang, kini Gen Z lebih memilih kebebasan waktu dibandingkan status karier. Mereka tidak ingin terjebak dalam rutinitas kerja hingga tua, melainkan ingin meraih kebebasan finansial secepat mungkin. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang menarik, apakah keinginan pensiun dini ini realistis atau sekadar utopia modern?

Dari Hustle Culture ke Soft Life

Generasi sebelumnya hidup dalam budaya hustle, di mana bekerja keras tanpa henti dianggap sebagai jalan menuju kesuksesan. Lembur, kerja tujuh hari seminggu, dan pengorbanan waktu pribadi menjadi norma yang diterima. Namun, Gen Z menolak cara ini. Mereka melihat hustle culture sebagai penyebab utama burnout, gangguan kesehatan mental, dan kualitas hidup yang buruk.

Sebaliknya, muncul tren “soft life” yang mengutamakan kenyamanan dan keseimbangan. Gen Z ingin hidup santai, punya waktu untuk diri sendiri, dan menikmati hal-hal sederhana. Inilah yang mendorong mereka memikirkan pensiun dini, bukan karena malas, tetapi karena mereka percaya kebahagiaan tidak harus menunggu usia senja.

Peran Teknologi dan Peluang Digital

Tidak bisa dipungkiri, teknologi membuka jalan baru bagi generasi muda untuk meraih kebebasan finansial lebih cepat. Peluang seperti bisnis online, menjadi kreator konten, hingga investasi digital membuat mereka merasa pensiun dini bukan lagi sekadar mimpi. Akses informasi tentang keuangan dan strategi investasi juga jauh lebih mudah dibanding era sebelumnya.

Selain itu, konsep penghasilan pasif semakin populer. Banyak Gen Z yang lebih terinspirasi dari kisah sukses wirausaha muda atau investor yang membuktikan bahwa bekerja tidak harus berarti terikat pada kantor. Internet memberi mereka keyakinan bahwa ada banyak cara untuk mencapai tujuan finansial tanpa menunggu puluhan tahun.

Antara Ambisi dan Realita

Meski terdengar menarik, keinginan pensiun dini ini punya tantangan besar. Tidak semua orang bisa mencapai kebebasan finansial di usia muda, apalagi dengan kondisi ekonomi yang fluktuatif dan biaya hidup yang terus meningkat. Banyak yang memulai tanpa perencanaan matang, sehingga berisiko gagal di tengah jalan.

Di sisi lain, pensiun dini bukan hanya soal uang. Banyak orang yang akhirnya merasa kehilangan identitas ketika berhenti bekerja terlalu cepat. Gen Z harus menyadari bahwa pensiun dini memerlukan strategi jangka panjang, disiplin, dan mindset yang tepat, bukan sekadar mengikuti tren.

Keinginan pensiun dini di kalangan Gen Z bukan sekadar mimpi kosong, melainkan refleksi dari perubahan nilai hidup dan cara pandang terhadap kerja. Mereka tidak ingin menghabiskan hidup hanya untuk bekerja, tetapi ingin menyeimbangkan antara finansial dan kebahagiaan. Meski tidak mudah, tren ini mengajarkan satu hal penting bahwa kesuksesan tidak lagi diukur dari lamanya bekerja, tetapi dari seberapa baik kita menikmati hidup yang dijalani.