Pernah kepikiran nggak, kira-kira kenapa ya sampai saat ini masyarakat kita masih belum melek literasi dan tertinggal dari negara lain? Jangan jauh-jauh mencontoh negara maju deh. Dengan negara berkembang di Asia Tenggara saja, indeks literasi kita masih saja kalah.
Menyadur dari laman The Global Economy, Indonesia masih menempati peringkat keenam dari delapan negara di Asia Tenggara dalam skor kemampuan literasi. Padahal kampanye tentang pentingnya literasi ini bukan lagi tema yang asing dibahas di tengah-tengah masyarakat.
Seminar dan ajakan tentang pentingnya membaca, sikap kritis dalam mengolah informasi, hingga upaya untuk meningkatkan minat baca sudah menjamur di mana-mana. Baik secara langsung maupun di media sosial.
Hal ini menunjukkan kalau sebenarnya masyarakat sudah mulai sadar tentang pentingnya memiliki perhatian terhadap literasi dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kesadaran ini bertabrakan dengan sebuah fenomena bahwa buku sebagai salah satu pilar utama literasi masih sulit di akses oleh semua orang. Khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Sebagai contoh, jika harga sebuah buku berkisar Rp.100.000 hingga 150.000 rupiah, nilai ini bisa setara dengan harga kebutuhan pokok harian satu keluarga. Mereka yang masih susah payah memenuhi kebutuhan sehari-hari tentu akan berpikir beberapa kali jika harus menguras kantong demi membeli sebuah buku.
Lantas, jika bukunya saja sudah sulit untuk diakses, bagaimana mungkin kita berharap bahwa budaya literasi ini bisa tumbuh di semua kalangan masyarakat?
Ketika sedang berkunjung ke toko buku terdekat, kita bisa menyaksikan bahwa harga rata-rata buku lokal saja bisa menyentuh angka ratusan ribu. Belum lagi jika ingin membeli buku import. Harganya bisa dua hingga tiga kali lipat dari buku lokal.
Bagi sebagian besar orang, uang yang harus dikeluarkan untuk membeli satu buku fisik menjadikan buku tersebut seolah menjadi barang mewah. Buku bisa menjadi kebutuhan tersier yang sulit dipenuhi sekalipun membaca sudah menjadi bagian dari hobi. Boro-boro beli buku, uang segitu bisa dipakai makan 3 sampai 4 kali di warteg.
Jangan heran jika hari ini Indonesia masih berada dalam posisi indeks minat baca yang rendah seperti yang saya bahas sebelumnya. Meskipun pemerintah juga sudah menggalakkan berbagai upaya agar masyarakat sadar dengan pentingnya literasi, namun mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah tentu lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan primer terlebih dahulu.
Jadi, berbagai gerakan yang mengusung tentang pentingnya budaya literasi nggak akan mengubah banyak hal selama akses buku sulit dijangkau.
Tapi mau bagaimana lagi. Pihak penerbit tentu juga telah menetapkan angka yang cukup realistis untuk menerbitkan sebuah buku. Mereka juga harus menutupi biaya produksi, royalti, pajak, dan biaya tambahan lainnya.
Sebagai bagian dari masyarakat yang hobi baca buku, saya pribadi menyiasati harga buku mahal dengan mulai beralih dengan langganan buku di platform digital yang jauh lebih murah.
Tapi sayangnya, nggak semua orang nyaman dengan membaca buku digital. Pinjam di perpustakaan atau koleksi milik teman juga tentu masih sangat terbatas.
Satu solusi lain yang barangkali bisa ditempuh adalah berharap bahwa pemerintah memberi kebijakan subsidi pada buku. Setidaknya dengan tidak mengambil pajak yang terlalu tinggi untuk buku-buku yang beredar. Melansir dari laman resmi Diroktorat Jenderal Pajak, setiap kali membeli buku, konsumen wajib dikenakan pajak sebesar 11% dari harga buku.
Jika harga buku Rp. 100.000, maka jumlah yang wajib kita bayar sebanyak Rp. 111.000. Nilai ini baru terhitung untuk satu buku. Jika ada beberapa buku yang terjual, bayangkan betapa besar pajak yang ditarik oleh pemerintah dalam industri perbukuan ini.
Sudahlah minat baca masyarakat rendah, ditambah pula harga buku semakin melonjak oleh adanya pajak. Bagaimana budaya literasi bangsa ini bisa semakin maju jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bekerja sama untuk membuat perubahan?
Namun, terlepas dari hal tersebut, kita harus tetap berupaya dengan mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Jika kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya budaya literasi telah tertanam, maka kita bisa mengajak orang-orang di sekitar kita untuk ikut peduli dan menyuarakan hal ini.
Semoga dengan semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan pemerintah yang semakin sadar, suatu hari nanti Indonesia bisa melahirkan generasi emas yang cerdas dan berlawanan luas. Dan semua itu bisa diwujudkan dengan memperkuat pilar literasi pada seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah
Artikel Terkait
-
KPK Siap Bantu Menkeu Purbaya Kejar 200 Pengemplang Pajak yang Tagihannya Mencapai Rp 60 Triliun
-
Viral Video SPBU Larang Kendaraan Mati Pajak Isi BBM, Pertamina: Hoaks!
-
Aktivis Kecam Pemerintah: Pajak Rakyat Dinaikkan, Cukai Rokok Dibiarkan Stagnan
-
Menkeu Purbaya Bongkar 200 Pengemplang Pajak, Ada Nama-nama Besar?
-
Membaca Buku Self Improvement, Sumber Motivasi atau Malah Toxic Positivity?
Kolom
-
Lulusan S2 Tanpa Karier: Manfaatkan Jeda, Tak Perlu Mengejar Timeline Orang
-
Post-Lebaran Syndrome pada Gen Z: Raga Udah di Kantor, Nyawa Masih di Kampung
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
-
Urban Loneliness: Kesepian yang Mengintai Pekerja di Kota Besar
-
Arus Balik dan Biaya Emosional yang Tak Masuk Anggaran
Terkini
-
Novel Lebih Senyap dari Bisikan, Jeritan Sunyi Seorang Ibu Pascamelahirkan
-
3 Rekomendasi HP iQOO Murah Terbaru 2026: Performa Ngebut, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
8 Cara Menghidupkan HP yang Mati Total Tanpa Tombol Power dan Volume
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
-
Menjadi Cantik di Mata Sendiri, Kiat Self Love di Novel Eat Drink Sleep