Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tepat di hari pertama pada hari Senin (3/11/2025) di jenjang SMA diwarnai dengan kecurangan yang mencoreng integritas. Sebagian besar siswa yang sudah berjuang dan belajar sungguh-sungguh merasa kecewa dengan lemahnya pengawasan yang telah terjadi.
Berbagai tuntutan dan keluhan di kolom komentar pada unggahan ucapan selamat mengikuti TKA yang baru saja diunggah oleh Instagram Kemendikdasmen langsung ramai dipenuhi kritik, hal itu diketahui banyak soal yang terungkap di media sosial. Bahkan, ada pula siswi yang tertangkap melakukan siaran langsung di TikTok sambil mengerjakannya.
Penyebaran itu tak hanya melalui siaran langsung saja, bocoran soal pun dibagikan secara bebas hingga berbayar di saluran WhatsApp dan platform X yang bisa diakses publik. Hal ini tidak dapat dipungkiri masih ada beberapa kecurangan yang terjadi. Perilaku seperti ini memang sudah begitu mendarah daging, maka pengawasan berlapis perlu diterapkan.
Kemendikdasmen menyoroti kecurangan ini pada kolom komentar dengan merespons bahwa kejadian ini sedang diselidiki oleh tim internal dan sekaligus mengatakan bahwa soal yang diujikan juga bervariasi sehingga tak sama pada setiap siswa.
Mengapa Kecurangan Masih Bisa Lolos?
Penulis mengatakan ini adalah pertanyaan retoris. Mari kita berpikir sejenak dengan menggunakan logika, bagaimana bisa siswi sedang mengerjakan soal-soal TKA sambil melakukan live TikTok? Di mana keberadaan pengawas saat itu?
Pertanyaan itu bermunculan di benak kita, beragam klarifikasi apa pun yang dikatakan nanti untuk menanggapi peristiwa tersebut tentu sama sekali tak bisa diterima publik. Melalui tindakan ini, yaitu siswa yang tidak menjunjung tinggi integritas, dan pengawas yang tidak melaksanakan tanggung jawab dengan baik dapat mengindikasikan bahwa sebenarnya pengawasan TKA belum terlalu diperhatikan.
Meskipun dalam Keputusan Menteri sudah tercantum sanksi kepada sekolah hingga siswa yang melakukan tindak kecurangan, tetapi lemahnya pengawasan seperti ini mencerminkan buramnya integritas dalam pendidikan. Peserta yang mengikuti TKA ini bukan hanya segelintir siswa, melainkan jutaan siswa yang menyimpan harapan di dalamnya.
Tepatkah Membuat Soal Bervariasi untuk Meminimalisasi Kecurangan?
Membuat soal yang bervariasi dan acak memang bisa menjadi salah satu langkah yang bijak dalam mengatasi kecurangan, khususnya menyontek antarsiswa. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kecurangan di zaman sekarang tidak hanya dilakukan dengan menoleh-noleh jawaban siswa lain, berbisik-bisik dan lain sebagainya.
Penggunaan teknologi di masa kini dapat dikatakan meningkatkan kecurangan yang masif, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan untuk mendapat jawaban instan, melakukan siaran langsung, memotret soal menggunakan perangkat gawai, dan masih banyak lagi jenis kecurangan lainnya. Walaupun sudah ada kamera pengawas selama pelaksanaan, tetap saja tindakan ini masih bisa terjadi jika pengawasan tidak ketat.
Oleh karena itu, pembuatan soal yang bervariasi tidak menentukan atau membuktikan bahwa kecurangan akan menghilang. Barangkali pula di antara kita masih tidak menyangka bahwa kecurangan ternyata terjadi melalui siaran langsung di platform TikTok dan membagikan soal dengan cuma-cuma di saluran WhatsApp.
Kebocoran soal yang sudah terungkap akan tetap merugikan bagi siswa, kelemahan pengawasan yang berakhir membuahkan kesempatan siswa untuk berbuat licik dan culas membuat sistem TKA ini ternodai. Pengawas yang sepatutnya bertugas untuk mengamati dan mengawasi setiap siswa selama melaksanakan tes, malahan tidak menjalankan tanggung jawab sesuai prosedur.
Pemerintah perlu menyiasati segala bentuk kecurangan tanpa terkecuali dengan memberi sanksi tegas sesuai hukum dan keputusan yang setimpal. Program TKA sangat baik untuk mengukur kompetensi sekolah dan siswa di Indonesia dalam memahami pembelajaran. Akan tetapi, kecurangan saat pelaksanaannya tak bisa dibiarkan dan harus ditindak seadil-adilnya.
Baca Juga
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol
-
Diskon Tol Pilih Kasih: Ketika PNS Senyum, Anak Swasta Gigit Jari
-
Kritik Dibungkam atas Nama HAM: Salahkah Rakyat Menentang MBG?
-
Menjaga Lisan, Hati, dan Sikap: Kunci Ramadan Menurut Ustaz Ihya Ulumudin
-
Lupa Jalan Kampung
Artikel Terkait
-
TKA 2025 Hari Pertama Berjalan Lancar, Sinyal Positif dari Sekolah dan Siswa di Seluruh Indonesia
-
Selamatkan Bumi dari Sekolah: 5 Alasan Pendidikan Lingkungan Harus Dimulai dari Kebiasaan Jajan
-
Geger Ijazah Gibran: Roy Suryo ke Australia, Klaim Kantongi Bukti Langsung dari Petinggi UTS
-
Misi Roy Suryo Terbang ke Sydney: Investigasi Kampus Gibran, Klaim Kantongi Bukti Penting dari UTS
-
Benarkah Ada Bocoran Soal TKA Meski Diacak Komputer?
Kolom
-
Ramadan Berlalu, Lebaran Usai: Bagaimana Merawat Makna Fitri di Tengah Kesibukan Sehari-hari
-
Jebakan 'Aji Mumpung' Lebaran: Saat Harga Ikan Bakar Setara Fine Dining
-
Menjaga Kebiasaan Baik Pasca-Ramadan dan Lebaran: Tantangan Konsistensi
-
Rutan Kosong, Rumah Penuh: Akankah Status Tahanan Rumah Jadi Tren Pejabat?
-
Misi Menyelamatkan APBN: Mengulik Potensi Pajak yang Hilang dari Program MBG
Terkini
-
Lenovo Legion Y700 2026: Tablet Mungil yang Bikin HP Gaming Kamu Kena Mental!
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
-
Jeno NCT Mendadak Hapus Selfie: Mata Elang Netizen Temukan Vape?
-
Misi Erick Thohir Perkuat Citra Sepak Bola Nasional Lewat FIFA Series 2026
-
Wajah Muncul Jerawat setelah Lebaran! Ini 4 Acne Serum yang Layak Dicoba