Kabupaten Sidoarjo, yang dikenal lewat ikon bandeng dan udang, ternyata menyimpan kekhasan lain yang tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisirnya. Selain sambal terasi dan beragam olahan hasil laut, ada satu tradisi lama yang hingga kini masih dijaga keberlangsungannya, yaitu Nyadran.
Nyadran telah diwariskan lintas generasi dan tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Meski pelaksanaannya kini mengalami penyesuaian dengan kondisi masyarakat yang semakin modern, nilai-nilai utama yang dikandungnya seperti rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam masih terus dijaga.
Bentuk Rasa Syukur Warga Pesisir Sidoarjo
Tradisi Nyadran merupakan tradisi tahunan yang hidup dan dijaga oleh masyarakat pesisir Sidoarjo, terutama para nelayan beserta keluarganya di wilayah seperti Desa Balongdowo dan Bluru.
Bagi mereka, Nyadran bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang selama ini menjadi penopang kehidupan.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Ruwah atau Sya’ban, menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Pada hari pelaksanaannya, warga berkumpul untuk menyiapkan tumpeng dan aneka hasil laut, lalu mengikuti rangkaian doa bersama.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam leluhur, khususnya makam Dewi Sekardadu, yang dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah masyarakat pesisir Sidoarjo.
Ziarah ini menjadi bagian penting dalam tradisi, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat akan asal-usul kehidupan masyarakat pesisir.
Setibanya di makam Dewi Sekardadu, warga mengikuti serangkaian doa bersama yang dipimpin tokoh adat atau sesepuh desa.
Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi para nelayan saat melaut. Setelah itu, tumpeng dan hidangan yang dibawa didoakan, sebagian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan.
Kupang sebagai Simbol Rasa Syukur dalam Tradisi Nyadran
Dalam tradisi Nyadran di pesisir Sidoarjo, kupang menjadi hal yang paling diperhatikan karena merupakan sumber penghidupan utama masyarakat nelayan. Bagi mereka, kupang bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan bahwa rezeki laut tidak datang dengan sendirinya, melainkan bergantung pada keseimbangan perairan tempat kupang dan ikan hidup. Dengan cara ini, masyarakat pesisir menanamkan kesadaran kepada generasi saat ini dan generasi mendatang bahwa menjaga laut berarti menjaga keberlanjutan rezeki mereka sendiri.
Merawat Laut Lewat Tradisi: Kearifan yang Terus Diajarkan
Setelah rangkaian ziarah selesai, ritual Nyadran dilanjutkan dengan larung sesaji ke laut. Larung sesaji ini bukan berarti membuang-buang makanan begitu saja, melainkan menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut yang selama ini menjadi penghasilan utama masyarakat pesisir. Prosesi ini juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap laut yang telah memberi kehidupan.
Sesaji yang dilarung umumnya telah dipilih dan disiapkan secara khusus, dengan harapan agar ekosistem laut tetap terjaga, kupang dan ikan terus hidup dan berkembang biak, serta nelayan dapat melaut dengan aman.
Dalam konteks ini, laut ditempatkan sebagai sesuatu yang dihormati dan dijaga, bukan sebagai objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Nilai inilah yang secara tidak langsung diwariskan melalui tradisi Nyadran.
Kesadaran terhadap lingkungan juga tercermin dari cara masyarakat mengelola kebersihan setelah rangkaian acara selesai. Panitia dan warga bersama-sama memastikan tidak ada sampah yang tertinggal, baik di area makam maupun di pesisir pantai. Bahkan dalam pembuatan bahan kenduri maupun sesaji, masyarakat menggunakan bahan alami seperti besek serta membatasi penggunaan plastik sekali pakai.
Dengan cara inilah tradisi Nyadran tidak hanya menjadi ritual budaya yang dilakukan sekali dalam setahun, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat nilai-nilai yang perlu terus dijaga. Melalui tradisi ini, masyarakat pesisir Sidoarjo mengajarkan kepada generasi saat ini dan mendatang bahwa merawat laut berarti merawat kehidupan, serta menjaga warisan alam yang akan terus menghidupi mereka di masa depan.
Baca Juga
-
Beli Barang Masa Kecil Bukan Boros, Tapi Cara Sederhana Bahagiakan Inner Child
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
Artikel Terkait
Kolom
-
Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu
-
Ketika Rupiah Melemah, Kelas Menengah Dipaksa Bertahan Lebih Keras
-
Belajar dari Kasus Ponpes Pati: Ruang Pendidikan Gagal Hadirkan Rasa Aman
-
Ketika Bantuan Pendidikan Tidak Selalu Sampai pada Kebutuhan Anak
-
Sampah Hari Ini, Ancaman Masa Depan: Gen Z Tak Boleh Acuh pada Lingkungan
Terkini
-
Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman
-
'Berpikir dan Bertindak Kreatif for Gen Z': Senjata Bertahan di Era Digital
-
Esensi Lagu 'Dance No More' Milik Harry Styles Punya Makna Lebih Energik
-
Ketika Chat Mesra Ternyata Salah Sasaran: Manisnya Sweety Anatomi
-
Bikin Khawatir di Baeksang, Ini Alasan Mata Choo Young Woo Ditutup Perban