Katanya, kalau dunia lagi nggak baik-baik saja, orang bijak bakal menyarankan kita untuk “menerima keadaan”. Hidup sederhana, jangan impulsif, dan jangan cari pelarian emosional yang murah. Tapi namanya juga manusia, kita nggak pernah benar-benar patuh pada anjuran bijak. Sejarah justru mencatat hal sebaliknya: saat dunia sedang ambyar, manusia malah makin rajin membeli hal-hal kecil yang bikin hati agak tenang. Dulu lipstik, sekarang novel romantis.
Fenomena ini ada istilah menterengnya: Lipstick Index. Intinya sederhana sekaligus agak menyedihkan. Ketika hidup terasa di luar kendali—ekonomi limbung, politik ribut, masa depan buram—kita butuh sesuatu yang masih bisa kita atur sendiri. Kalau negara kacau, setidaknya bibir bisa merah. Kalau hidup berantakan, setidaknya tokoh fiksi di tangan kita bisa bahagia.
Maka jangan heran kalau di tengah perang, pandemi, inflasi, dan notifikasi berita yang bikin dada sesak, penjualan novel romantis justru naik tajam. Dunia nyata itu penuh konflik tanpa jeda iklan, sementara dunia fiksi minimal punya janji suci: di halaman terakhir, semuanya akan beres. Ini bukan kebetulan; ini adalah mekanisme bertahan hidup yang dibungkus kertas dan dijual di toko buku.
Sayangnya, kesenangan kayak begini sering dipandang rendah. Membaca novel cinta dianggap kegiatan remeh, terlalu feminin, atau kurang intelektual. Seolah-olah penderitaan itu baru dianggap sah kalau ditemani buku filsafat tebal dengan sampul muram. Padahal, di dunia sekarang, bertahan hidup saja sudah cukup melelahkan tanpa perlu ditambah lomba gengsi bacaan.
Data penjualan malah menampar semua anggapan sok elit itu. Di Amerika dan Inggris, genre roman yang dulu cuma jadi pelengkap rak, mendadak meroket saat pandemi dan terus tumbuh sampai sekarang. Dunia boleh penuh ketidakpastian, tapi pembaca tampaknya sepakat pada satu hal: kalau hidup nggak pasti, ending cerita harus pasti.
Sekarang kita masuk ke era keemasan romansa. Penulis seperti Emily Henry rutin menduduki daftar terlaris dengan kisah cinta yang tampak ringan, tapi isinya penuh kecemasan khas manusia modern: karier nggak jelas, hidup nggak mapan, dan masa depan yang selalu “nanti saja dipikirkan”. Tokohnya overthinking dan capek—sangat manusiawi. Bedanya, mereka akhirnya punya pasangan yang mau berkomitmen, sesuatu yang di dunia nyata makin langka dan seringnya cuma jadi wacana.
Bahkan sekarang, batas genre makin cair. Novel yang katanya “bukan roman” tetap saja dibaca sebagai kisah cinta. Normal People contohnya. Mau dibedah pakai teori kelas atau bahasa sastra tinggi sekalipun, ujung-ujungnya tetap cerita dua manusia yang gagal move on. Ini romansa, tapi dikasih jaket akademis supaya pembacanya nggak malu mengakuinya.
Ironisnya, fiksi romantis modern justru jauh dari dunia yang manis-manis saja. Di balik dialog hangat, ada isu berat: depresi, trauma, rasisme, hingga kecemasan hidup di sistem ekonomi yang doyan menekan. Bedanya, semua itu disajikan tanpa menguliahi atau membuat kita ingin menyerah pada hidup. Penulis seperti Jasmine Guillory dan Talia Hibbert menggunakan romansa sebagai pintu masuk untuk membahas luka keluarga atau nyeri kronis. Bahkan ledakan queer romance menandai bahwa cinta akhirnya diizinkan muncul dalam bentuk yang beragam.
Lalu soal akhir bahagia. Ini bagian yang paling sering dicibir kritikus karena dianggap nggak realistis. Benar, hidup nggak sesederhana itu. Tapi masalah hidup bukan karena kebahagiaan itu nggak ada, melainkan karena hidup nggak pernah berhenti tepat saat kita bahagia. Buku memberi kita kemewahan untuk berhenti di momen itu. Membekukannya. Sesuatu yang mustahil kita lakukan di dunia nyata.
Jadi, ketika dunia terasa dingin dan orang-orang ramai membaca novel cinta, itu bukan tanda kebodohan. Justru sebaliknya. Itu tanda bahwa di tengah dunia yang gemar memisahkan, manusia masih keras kepala ingin terhubung. Masih percaya—meski cuma lewat fiksi—bahwa memilih satu sama lain adalah sesuatu yang mungkin.
Dan di zaman seperti sekarang, mungkin itu bukan sikap naif. Mungkin itu satu-satunya cara supaya kita tetap waras.
Baca Juga
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
-
Kuota Hangus: Kita Beli, tapi Nggak Pernah Punya
-
Upgrade Instan ala Naturalisasi: Jalan Pintas yang Kadang Nggak Sesingkat Itu
Artikel Terkait
Kolom
-
Cara Menghubungi Dosen yang Benar Tanpa Perlu Menjadi Penjahat Waktu
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu
Terkini
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Gaya Casual ke Formal Look, 4 Ide Outfit ala Shin Hae Sun yang Super Chic!
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari
-
Dalang Penggedor Pintu Dapur di Malam Takbir Saat Nenek Membuat Wajik