Satu Februari, Empat Makna: Valentine, Imlek, Pra-Paskah, dan Ramadan

Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Satu Februari, Empat Makna: Valentine, Imlek, Pra-Paskah, dan Ramadan
Bhineka Tunggal Ika (Unsplash/Mufid Majnun)

Februari tahun ini terasa berbeda. Dalam satu rentang waktu yang berdekatan, kita menyaksikan Valentine, Imlek, masa Pra-Paskah, dan persiapan menuju Ramadan hadir hampir bersamaan. Empat momen dengan tradisi, simbol, dan makna yang berbeda itu seperti bertemu di satu persimpangan waktu—mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang hidup.

Cinta yang Beragam Wajah

Valentine sering dipahami sebagai perayaan kasih sayang antarpasangan. Namun lebih dari itu, ia adalah pengingat sederhana bahwa manusia membutuhkan afeksi dan pengakuan. Di sisi lain, Imlek berbicara tentang harapan baru, pembaruan, dan doa agar kehidupan lebih sejahtera di tahun yang berganti.

Pra-Paskah—yang dalam tradisi Kristiani menjadi masa refleksi dan pertobatan—mengajak orang menengok ke dalam diri, memurnikan niat, dan menata ulang relasi dengan Tuhan serta sesama. Sementara Ramadan, bulan suci umat Islam, menekankan pengendalian diri, empati pada yang lapar, serta penguatan spiritualitas melalui puasa dan ibadah.

Empat momen itu, jika direnungkan, sama-sama berbicara tentang cinta. Cinta yang romantis, cinta keluarga, cinta yang diwujudkan dalam pertobatan, dan cinta yang diterjemahkan dalam kesabaran serta pengorbanan.

Spiritualitas dan Perayaan dalam Satu Nafas

Seringkali orang memisahkan antara yang “meriah” dan yang “hening”. Valentine dan Imlek identik dengan warna-warni, hadiah, dan perayaan. Pra-Paskah dan Ramadan identik dengan keheningan, doa, serta pengendalian diri.

Namun bukankah keduanya saling melengkapi? Perayaan tanpa refleksi bisa terasa hampa. Sebaliknya, refleksi tanpa sukacita bisa terasa berat. Februari yang padat makna ini mengajarkan keseimbangan: merayakan dengan hati, dan merenung tanpa kehilangan harapan.

Indonesia sebagai Ruang Pertemuan

Di Indonesia, keberagaman agama dan budaya membuat momen seperti ini bukan hal yang mustahil. Di satu sudut kota, lampion merah menyala menyambut Tahun Baru Imlek. Di tempat lain, gereja memulai masa Pra-Paskah dengan ibadah Rabu Abu. Di rumah-rumah, keluarga menyiapkan diri menyambut Ramadan. Sementara itu, toko-toko memajang bunga dan cokelat untuk Valentine.

Semua berjalan berdampingan. Tidak saling meniadakan.

Inilah wajah Indonesia: ruang di mana berbagai keyakinan hidup berdampingan dalam ritme yang sama. Kadang beririsan, kadang berdekatan, tetapi tetap memiliki tempat.

Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Mungkin Februari yang “ramai” ini justru menjadi kesempatan untuk memperluas empati. Bahwa cinta tidak hanya milik satu hari, harapan tidak hanya milik satu tradisi, dan pertobatan tidak hanya milik satu agama.

Ketika Valentine mengajak kita mencintai, Imlek mengajak kita berharap, Pra-Paskah mengajak kita berbenah, dan Ramadan mengajak kita menahan diri—semuanya sebenarnya berbicara tentang menjadi manusia yang lebih baik.

Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh perbedaan, Februari memberi pesan sederhana: keberagaman bisa hadir bersamaan tanpa harus bertabrakan. Dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

Kesimpulan

Februari yang mempertemukan Valentine, Imlek, Pra-Paskah, dan Ramadan menunjukkan bahwa perbedaan dapat hadir dalam waktu yang sama tanpa saling meniadakan. Setiap perayaan membawa pesan cinta, harapan, pertobatan, dan pengendalian diri—nilai-nilai universal yang melampaui batas agama dan budaya.

Momentum ini mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan sekadar fakta sosial, tetapi kesempatan untuk memperluas empati dan memperdalam kemanusiaan. Dalam ruang yang sama, kita bisa merayakan, merenung, dan bertumbuh bersama.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak