M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar AI (Pexels)
Juandi Manullang

Artificial Intelligence atau sering disebut AI menjadi primadona di masyarakat dan kalangan pengguna teknologi. AI ramai digunakan masyarakat untuk membantu pekerjaan dalam bidang teknologi, pendidikan, dan lain sebagainya. Kecanggihan AI sudah terlihat jelas bagaimana ia dapat digunakan untuk menggantikan manusia. Kita bisa melihat ramai di media sosial penggunaan AI sebagai sosok manusia yang memberikan edukasi, bahkan dapat sama persis dengan fisik asli.

Tentu saja hal tersebut memperjelas bahwa AI begitu canggih dan terasa sangat luar biasa. Padahal, AI pun tidak seratus persen berdampak positif, tetapi dapat berdampak negatif juga bagi kehidupan kita.

Kegunaan AI

AI berguna untuk membantu pekerjaan manusia dalam bidang teknologi, pendidikan, dan lain sebagainya. Kita bisa melihat AI memberikan sesuatu yang baik dan memukau bagi beberapa pihak.

Sebagai contoh, AI membantu penyuntingan (editing) video dan foto menjadi lebih baik, lebih cerah, dan lebih menarik. Hal tersebut dapat meningkatkan ketertarikan dari banyak orang sehingga dapat menghasilkan keuntungan. Saat ini, kita bisa melihat bagaimana kecanggihan ekonomi dapat memberikan pendapatan bagi mereka yang pandai menggunakan. Dan hal tersebut tentu saja membantu perekonomian bangsa dan negara menjadi lebih baik.

Bahaya AI

Kasus penyiraman terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, yang dilakukan oleh oknum tidak dikenal berhasil mengelabui kita. Beredar luas foto kedua pelaku berboncengan di media sosial dan menyiram air keras kepada Andrie Yunus. Foto tersebut memperlihatkan wajah yang jelas dan disinyalir mampu membantu pengungkapan pelaku.

Namun, apa yang terjadi? Pihak kepolisian menyampaikan bahwa foto yang beredar tersebut bukan pelaku, alias tidak asli karena menggunakan AI. Artinya, kita tertipu oleh AI. Sama saja foto yang beredar tersebut adalah hoaks. Dari hal tersebut, dapat kita katakan AI sering disalahgunakan. AI tidak seratus persen berdampak positif, tetapi memiliki dampak negatif karena kita terpapar hoaks.

Jika hal-hal tersebut semakin sering digunakan, bukan tidak mungkin akan banyak hoaks lainnya dengan menggunakan wajah orang lain dan akhirnya menjadi bagian dari pencemaran nama baik orang tertentu. Sebab itu, pembatasan penggunaan AI harus dilakukan. AI berada pada kondisi berguna dan/atau tidak berguna.

Di satu sisi, AI dapat memudahkan kita bekerja dan dapat digunakan untuk membantu pekerjaan di bidang teknologi, namun dapat pula disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak perlu. AI bukanlah segala-galanya. Manusia membuat AI mungkin tujuannya baik, namun ada pula yang membuatnya untuk kejahatan.

Kemudahan yang Berujung pada Rasa Malas

Dikarenakan AI dapat digunakan layaknya manusia pada umumnya, AI dapat membuat orang menjadi malas. Sebagai contoh, AI dapat digunakan untuk bahan ajar baik oleh guru maupun dosen. Seorang dosen maupun guru "disulap" dengan AI dan dicontohkan berbicara atau mengajar sendiri, padahal dosen dan gurunya sedang tidak ada di lokasi tempat mengajar.

Coba bayangkan saja, dengan AI membuat guru dan dosen tidak perlu hadir di kelas; cukup jarak jauh dan pakai AI. Jadi, pekerjaan selama ini dimudahkan oleh AI dan tidak ada lagi tatap muka. Tentu hal tersebut tidak dibenarkan. AI harus digunakan dengan baik dan memudahkan dalam kondisi tertentu, bukan seterusnya.

Jika seperti itu, hal ini membuktikan AI sebagai "dewa" yang dapat memudahkan setiap pekerjaan yang dilakukan manusia. Pekerjaan mudah dan menghasilkan uang dengan mudah pula. Jika begitu, teknologi canggih yang lahir di era modern bukan malah menggembirakan, tetapi berdampak negatif.

Coba kita mundur ke belakang, bagaimana sebelum ada AI setiap pekerjaan kita selalu berjalan lancar dan nyaman. Kita bisa bekerja tanpa mengenal AI dan pekerjaan itu beres serta menghasilkan kebaikan. Nah, kenapa kita tidak melakukan hal seperti dulu saja, dibandingkan kita terfokus dan berharap pada AI?

Sebenarnya, bahaya teknologi canggih adalah mendewakan mereka sehingga kita merasa semakin mudah, namun juga menjadi malas. Teknologi canggih dibutuhkan, cuma semakin hari semakin terlihat kekurangannya.

Dengan kata lain, penting untuk cerdas menggunakan teknologi canggih seperti AI. Jangan kita kebablasan juga karena hasilnya tidak akan baik. Bisakah kita senantiasa tetap mengoptimalkan tenaga dan pikiran yang sudah Tuhan berikan tanpa harus mendewakan AI?

Nantinya kita akan berada pada sebuah krisis kepercayaan dan tidak menggunakan akal pikiran untuk sebuah kebaikan. Jangan sampai kita terjebak pada hal tersebut karena sesungguhnya akal dan pikiran kita lebih baik dari sebuah teknologi. Tinggal bagaimana kita menggunakannya dengan penuh semangat dan gembira. Kita mempunyai buku untuk dibaca dan punya pena untuk menulis. Jangan sampai kedua alat tersebut digantikan oleh AI sehingga kita semakin manja.

Oleh karenanya, bijak menggunakan AI adalah sebuah keniscayaan agar kita memperoleh hidup yang baik dan tidak terperangkap pada hasil yang buruk.