Hayuning Ratri Hapsari | Budi Prathama
Ilustrasi Sound Horeg. (Pixabay.com/@ThorstenF)
Budi Prathama

Ngomongin sound horeg itu kadang rasanya kayak lagi debat kusir: yang satu kupingnya sakit, yang lain hatinya senang. Dua-duanya sama-sama merasa paling benar. Yang satu teriak, “Ini berisik, ganggu orang!” Sementara yang lain santai saja, “Lah, ini hiburan rakyat, kok dilarang?”

Sekilas memang kelihatan remeh. Cuma urusan musik kencang lewat kampung. Tapi kalau dipikir agak serius (nggak usah serius-serius amat juga sih), perkara ini ternyata lebih ruwet dari sekadar soal volume speaker. Ini soal siapa yang boleh bahagia, dan siapa yang harus mengalah.

Bayangkan ada rombongan sound horeg lewat: speaker segede lemari, bass-nya bukan lagi jedag-jedug tapi sudah masuk kategori “gempa ringan”, penari di depan-belakang, dan jalan kampung yang otomatis berubah jadi panggung berjalan. Buat sebagian orang, ini hiburan. Gratis lagi. Tinggal keluar rumah, sudah dapat tontonan.

Tapi buat yang lain? Ini mimpi buruk. Bayi nggak bisa tidur, orang sakit makin meringis, genteng ikut bergetar, dan yang tadinya mau istirahat malah ikut “konser” tanpa beli tiket.

Makanya jangan heran kalau kolom komentar langsung berubah jadi arena gladiator. Hinaan beterbangan: kampungan, norak, SDM rendah—pokoknya semua istilah yang bisa bikin orang lain kelihatan lebih rendah dari posisi kita sekarang. Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal suara keras, tapi soal cara kita memandang sesama.

Yang menarik, di balik segala kebisingannya, sound horeg ini justru punya fungsi yang jarang disadari: dia menghidupi. Bukan cuma pemilik sound system, tapi juga kru, penyewa, sampai orang-orang kecil yang kebagian rezeki dari acara itu. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga perputaran ekonomi. Istilah kerennya: ekonomi kerakyatan.

Dan jangan lupa, buat sebagian masyarakat, hiburan itu barang mewah. Nonton konser artis besar? Tiketnya bisa buat makan sebulan. Main ke tempat hiburan modern? Dompet bisa langsung masuk mode darurat. Jadi ketika ada hiburan yang datang sendiri ke depan rumah, gratis pula, ya wajar kalau disambut.

Di sinilah kita mulai melihat masalah yang lebih dalam. Bisa jadi, sound horeg itu bukan cuma soal musik keras, tapi soal pelarian. Pelarian dari hidup yang sempit, dari tekanan ekonomi, dari rasa “kok hidup gue gini-gini aja, ya?”

Kalau pakai bahasa agak sok akademis, ini nyambung ke yang namanya keterasingan sosial. Orang merasa jauh dari kesempatan, jauh dari perhatian, bahkan kadang jauh dari rasa dihargai. Jadi ketika ada ruang untuk merasa hidup—meskipun lewat suara yang bikin kaca jendela bergetar—ya itu yang dipegang.

Masalahnya, kita sering berhenti di permukaan. Ribut, hujat, selesai. Kadang ditambah stempel haram, seolah persoalan beres begitu saja. Padahal akarnya masih nongkrong santai: ketimpangan, kurangnya ruang hiburan, dan minimnya perhatian terhadap kualitas hidup masyarakat.

Lucunya lagi, kita sebenarnya melakukan hal yang mirip, cuma beda bungkus. Yang satu joget di jalan dengan sound horeg, yang lain joget di klub malam dengan sound system mahal dan ruangan ber-AC. Bedanya cuma: yang satu dianggap mengganggu, yang lain dianggap “lifestyle”.

Akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi “sound horeg ini harus ada atau tidak?”, tapi “kenapa ini jadi satu-satunya pilihan buat sebagian orang?”

Kalau masyarakat punya banyak alternatif hiburan yang sehat, terjangkau, dan manusiawi, mungkin sound horeg nggak perlu jadi sekeras itu untuk terasa “hidup”. Dan kalau kita mau sedikit menahan diri untuk tidak langsung menghina, mungkin diskusinya bisa lebih waras.

Jadi ya, sound horeg ini memang nggak sepenuhnya benar, tapi juga nggak bisa langsung disalahkan mentah-mentah. Dia itu semacam gejala. Tanda bahwa ada yang kurang beres di cara kita membangun kehidupan bersama.

Dan seperti biasa, yang paling gampang memang menyalahkan yang kelihatan. Yang paling susah? Membenahi yang nggak kelihatan.