Ngomongin sound horeg itu kadang rasanya kayak lagi debat kusir: yang satu kupingnya sakit, yang lain hatinya senang. Dua-duanya sama-sama merasa paling benar. Yang satu teriak, “Ini berisik, ganggu orang!” Sementara yang lain santai saja, “Lah, ini hiburan rakyat, kok dilarang?”
Sekilas memang kelihatan remeh. Cuma urusan musik kencang lewat kampung. Tapi kalau dipikir agak serius (nggak usah serius-serius amat juga sih), perkara ini ternyata lebih ruwet dari sekadar soal volume speaker. Ini soal siapa yang boleh bahagia, dan siapa yang harus mengalah.
Bayangkan ada rombongan sound horeg lewat: speaker segede lemari, bass-nya bukan lagi jedag-jedug tapi sudah masuk kategori “gempa ringan”, penari di depan-belakang, dan jalan kampung yang otomatis berubah jadi panggung berjalan. Buat sebagian orang, ini hiburan. Gratis lagi. Tinggal keluar rumah, sudah dapat tontonan.
Tapi buat yang lain? Ini mimpi buruk. Bayi nggak bisa tidur, orang sakit makin meringis, genteng ikut bergetar, dan yang tadinya mau istirahat malah ikut “konser” tanpa beli tiket.
Makanya jangan heran kalau kolom komentar langsung berubah jadi arena gladiator. Hinaan beterbangan: kampungan, norak, SDM rendah—pokoknya semua istilah yang bisa bikin orang lain kelihatan lebih rendah dari posisi kita sekarang. Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal suara keras, tapi soal cara kita memandang sesama.
Yang menarik, di balik segala kebisingannya, sound horeg ini justru punya fungsi yang jarang disadari: dia menghidupi. Bukan cuma pemilik sound system, tapi juga kru, penyewa, sampai orang-orang kecil yang kebagian rezeki dari acara itu. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga perputaran ekonomi. Istilah kerennya: ekonomi kerakyatan.
Dan jangan lupa, buat sebagian masyarakat, hiburan itu barang mewah. Nonton konser artis besar? Tiketnya bisa buat makan sebulan. Main ke tempat hiburan modern? Dompet bisa langsung masuk mode darurat. Jadi ketika ada hiburan yang datang sendiri ke depan rumah, gratis pula, ya wajar kalau disambut.
Di sinilah kita mulai melihat masalah yang lebih dalam. Bisa jadi, sound horeg itu bukan cuma soal musik keras, tapi soal pelarian. Pelarian dari hidup yang sempit, dari tekanan ekonomi, dari rasa “kok hidup gue gini-gini aja, ya?”
Kalau pakai bahasa agak sok akademis, ini nyambung ke yang namanya keterasingan sosial. Orang merasa jauh dari kesempatan, jauh dari perhatian, bahkan kadang jauh dari rasa dihargai. Jadi ketika ada ruang untuk merasa hidup—meskipun lewat suara yang bikin kaca jendela bergetar—ya itu yang dipegang.
Masalahnya, kita sering berhenti di permukaan. Ribut, hujat, selesai. Kadang ditambah stempel haram, seolah persoalan beres begitu saja. Padahal akarnya masih nongkrong santai: ketimpangan, kurangnya ruang hiburan, dan minimnya perhatian terhadap kualitas hidup masyarakat.
Lucunya lagi, kita sebenarnya melakukan hal yang mirip, cuma beda bungkus. Yang satu joget di jalan dengan sound horeg, yang lain joget di klub malam dengan sound system mahal dan ruangan ber-AC. Bedanya cuma: yang satu dianggap mengganggu, yang lain dianggap “lifestyle”.
Akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi “sound horeg ini harus ada atau tidak?”, tapi “kenapa ini jadi satu-satunya pilihan buat sebagian orang?”
Kalau masyarakat punya banyak alternatif hiburan yang sehat, terjangkau, dan manusiawi, mungkin sound horeg nggak perlu jadi sekeras itu untuk terasa “hidup”. Dan kalau kita mau sedikit menahan diri untuk tidak langsung menghina, mungkin diskusinya bisa lebih waras.
Jadi ya, sound horeg ini memang nggak sepenuhnya benar, tapi juga nggak bisa langsung disalahkan mentah-mentah. Dia itu semacam gejala. Tanda bahwa ada yang kurang beres di cara kita membangun kehidupan bersama.
Dan seperti biasa, yang paling gampang memang menyalahkan yang kelihatan. Yang paling susah? Membenahi yang nggak kelihatan.
Baca Juga
-
Dari Eco-Pesantren Hingga Teologi Hijau: Cara NU dan Muhammadiyah Mengubah Iman Jadi Aksi Lingkungan
-
Produk Desa Masuk Marketplace: Rahasia Produk Naik Kelas Jalur Branding
-
Ketika Penolakan Berujung Tragedi: Budaya Kita yang Salah?
-
Dilarang Berlama-lama: Cara Mengambil Manfaat dari 'Wangsit Kamar Mandi'
-
Diet Berita: Tutorial Tetap Waras di Zaman yang Terlalu Ramai
Artikel Terkait
-
Tantangan Kreatif Buat Pelajar di Asia: Merancang Wahana Taman Hiburan Impian!
-
Pariwisata Hiburan Naik Kelas, Pengalaman Event Kini Serba Terintegrasi
-
Selama Ramadan, Satpol PP DKI Temukan 27 Tempat Hiburan Malam Langgar Jam Operasional
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?
-
Wajib Tutup Selama Ramadan? Ini Daftar Tempat Hiburan Malam di Jaksel yang Disegel Pemprov DKI
Kolom
-
Eco-Friendly, Mengapa Gaya Hidup Ramah Lingkungan Terasa Sulit Terjangkau?
-
Soft Saving: Menabung Tanpa Menyiksa Diri di Tengah Tekanan Ekonomi
-
Indonesia Menuju Era Kendaraan Listrik: Antara Visi Besar dan Tantangan Nyata
-
Green Jobs: Menimbang Masa Depan Ketenagakerjaan di Era Transisi Ekologis
-
FOMO atau Tak Ada Waktu: Mengapa Tetap Liburan Meski Tahu Akan Berdesakan?
Terkini
-
Bukan Sekadar Mobil Listrik: Xiaomi SU7 Ultra Jadi Monster Sirkuit dengan Rekor Gila
-
Ulasan Novel Dawuk, Melawan Prasangka dan Stigma Buruk di Masyarakat
-
John Herdman, Timnas Indonesia, dan Formasi Laga Debutnya yang Amat Intimidatif
-
Buku Merayakan Iman: Menghidupkan Kembali Esensi Cinta dalam Agama
-
Tayang 15 April, Aktor Jang Dong Yoon Debut Jadi Sutradara Lewat Film Nuruk