M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi menabung (Unsplash/Towfiqu Bharbuiya)
Tika Maya Sari

Dari zaman bocil, aku sudah dikenalkan dengan budaya menabung oleh orang tuaku. Tidak peduli berapa nominal yang disisihkan, yang penting terus konsisten mengisi receh-receh ke dalam celengan durian plastikku dahulu.

Begitu dewasa dan masuk dunia kerja, lhadalah! Mengapa untuk menabung susahnya minta ampun?

Budaya Menabung yang Sudah Mendarah Daging

Menurut KBBI, menabung adalah kegiatan menyimpan uang di dalam celengan, pos, bank, dan lainnya. Kegiatan ini adalah kaidah hidup yang dijalankan masyarakat sedari dahulu, kendati tempat penyimpanan uang mereka sangatlah sederhana. Bisa dengan memanfaatkan ruas bambu, celengan gerabah, hingga kotak kayu yang dikubur di bawah tanah. Intinya, menyimpan kekayaan berupa uang.

Praktik ini dahulu disokong dengan kebijakan-kebijakan yang tidak rancu dan tetap berfokus pada perjuangan kesejahteraan rakyat yang digaungkan oleh presiden kala itu. Memang, dunia kerja tetaplah menguras tenaga dan mental, tetapi gaji masih terasa cukup untuk menuntaskan dahaga, bahkan sisanya masih bisa ditabung.

Artefak Harga yang Belum Bisa Kuterima Sampai Sekarang

Budaya menabung uang itu berbanding lurus dengan situasi pasar yang stabil. Harga-harga barang masih terkendali, bahkan cenderung murah. Aku sendiri masih ingat pernah hidup pada zaman minyak tanah seharga Rp2.000,00, bahan bakar motor berjenis Premium seharga Rp5.000,00, dan beras di kisaran Rp5.000,00 per kilogram. Uang saku sekolah sejumlah Rp10.000,00 sudah menjadikanku merasakan financial freedom selama sehari.

Namun sekarang, ketika aku terjun ke dunia kerja yang beringas ini?

Sudahlah harga kebutuhan terdongkrak naik imbas pelbagai kebijakan dan situasi global, gaji pun tetap stagnan. Harga-harga barang makin naik dengan gila. Beras sekarang bertukar harga menjadi Rp15.000,00 per kilogram atau lebih tergantung merek. Bahan bakar Premium dihapus dan berganti Pertalite yang seharga Rp10.000,00 per liter. Belum lagi harga kebutuhan lainnya.

Jangankan menyisihkan uang, gaji rasanya sudah mengajak survival mode sejak cair pada hari pertama. Sudahlah kita harus memikirkan harga kebutuhan pokok, masih ada pajak, tagihan listrik, maupun tagihan internet.

Jujur saja, rasanya masih tidak terima dengan kenyataan. Rasa-rasanya, ini semua adalah mimpi demam.

Rakyat Dipaksa Cosplay Koloni Semut dalam Film A Bug’s Life

Sebagai rakyat awam dan manusia biasa bukannya pahlawan super, aku merasa sesak saat mendapati harga-harga barang yang kian melambung. Mulai dari harga minyak dunia, kebutuhan sembako, dunia persabunan, sampai kuota internet yang makin edan. Sementara itu, gaji stagnan dan ditabrak oleh aneka kebijakan baru.

Namun, para pemangku kebijakan justru memalingkan muka atau bahkan bersikap layaknya kura-kura dalam perahu, yakni pura-pura tidak tahu adanya kenaikan harga pasar dan kesusahan rakyat menjalani hidup yang dihimpit tembok-tembok dunia. Mereka juga tutup mata pada fakta bahwa gas elpiji melon secara hitungan kertas hanya seharga Rp16.000,00, padahal di lapangan harganya menembus Rp21.000,00 atau bahkan lebih.

Kondisi ini sudah seperti koloni semut yang dijajah oleh kelompok belalang dalam film A Bug’s Life. Sekonyong-konyong mengais rezeki, lumbung tetap susah terisi. Punya celengan, tetapi susah berkembang lantaran uangnya lagi-lagi terambil oleh keadaan.

Kekhawatiran Mengenai Kriminalitas yang Meningkat

Melihat kurs mata uang yang bikin hati teriris serta fenomena di lapangan soal survival mode versi ekstrem, aku justru mewaspadai bakal lahirnya kriminalitas. Pasaran yang terimbas inflasi dan suku bunga tinggi, diikuti tabungan yang menipis atau minus, serta ditunjang dengan tuntutan kebutuhan perut adalah tiga kombo mematikan bagi manusia. Segala hal haram bisa dihalalkan, segala niat jahat bisa dilakukan.

Di satu sisi, orang melakukan penghematan dan melakoni lebih dari satu pekerjaan sampai terkena tifus karena kelelahan. Namun di sisi lain, ada saja pihak yang melakukan pemalakan, baik secara legal maupun ilegal. Lagi-lagi lumbung tabungan kita makin hari makin kosong, kendati kita sudah bekerja bak warung kelontong Madura yang buka tanpa hari libur!

Side Hustle dan Strategi Mengikat Perut

Aku tidak akan koar-koar sebagaimana influencer trading, sebab aku termasuk kaum mendang-mending yang masih berusaha mengisi lumbung tabungan.

Menabung memanglah budaya positif, tetapi dewasa ini eksekusinya tidak mudah. Aku sendiri harus mengatur strategi mengikat perut lebih ketat kendati masih senewen saat menjumpai kedai bakso. Hal itu dibarengi dengan side hustle menulis artikel daring dengan tema yang aku kuasai. Selain menambah keterampilan, hal ini juga menghasilkan cuan yang lumayan untuk membayar tagihan listrik.

Pada dasarnya aku sadar, bukan nafsu menguasai dunia yang membuat kita kesulitan menabung, melainkan perubahan zaman dan kian mahalnya segala aspek kehidupan, ditunjang dengan merembetnya aturan-aturan baru hingga situasi global yang memburuk.

Ini bukan tentang kita yang tidak bisa mengatur keuangan, melainkan nilai kebutuhan yang tidak lagi sama dengan masa silam.