Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, ada satu pemandangan yang hampir selalu sama di lingkungan tempat saya tinggal. Bendera Merah Putih mulai bermunculan di depan rumah-rumah warga. Jalanan dihiasi umbul-umbul, anak-anak mulai berlatih untuk lomba, dan suasana perlahan berubah menjadi lebih semarak. Selama bertahun-tahun, salah satu tetangga saya termasuk orang yang paling awal memasang bendera di halaman rumahnya. Namun, tahun ini ada yang berbeda.
Tiang bendera di depan rumahnya masih berdiri, tetapi kosong. Karena penasaran, saya pun mengobrol dengannya. Saya bertanya mengapa tahun ini ia belum memasang bendera seperti biasanya. Jawabannya cukup mengejutkan. Ia mengaku tidak merasa ada yang dirayakan. Ia menjelaskan bahwa bukan berarti dirinya membenci Indonesia. Ia tetap mencintai tanah kelahirannya. Namun, semakin bertambah usia, semakin besar pula beban hidup yang ia rasakan. Menurutnya, rasa merdeka perlahan memudar karena kehidupan justru terasa semakin menghimpit.
Ia bercerita tentang biaya kesehatan yang terus meningkat. Ketika ada anggota keluarga sakit, tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun bisa habis hanya dalam hitungan hari. Di sisi lain, biaya pendidikan anak juga semakin mahal. Orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik, tetapi keinginan itu sering kali berbenturan dengan kenyataan bahwa kebutuhan hidup terus bertambah.
Belum lagi berbagai tagihan rutin yang harus dibayar setiap bulan. Di tengah kondisi tersebut, kewajiban membayar pajak tetap berjalan. Bukan berarti ia menolak membayar pajak. Yang membuatnya kecewa adalah ia merasa manfaat yang diterima tidak sebanding dengan apa yang telah ia keluarkan.
Saya ingat dia bilang seperti ini, "Saya tetap bayar karena itu kewajiban. Tapi kadang saya bingung, apakah negara benar-benar hadir ketika rakyat sedang kesulitan?"
Percakapan itu membuat saya terdiam cukup lama. Saya menyadari bahwa mungkin ada banyak orang yang merasakan hal serupa, tetapi memilih diam. Mereka tetap bekerja setiap hari, memenuhi kewajiban sebagai warga negara, membayar pajak, menaati aturan, namun dalam hati menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.
Kemerdekaan memang bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk hidup dengan layak, memperoleh pendidikan yang terjangkau, mendapatkan layanan kesehatan tanpa rasa khawatir, serta merasakan bahwa hasil pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.
Bisa jadi secara politik Indonesia telah merdeka selama puluhan tahun. Namun bagi sebagian orang, perjuangan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga terasa seperti bentuk perjuangan yang tidak pernah selesai. Mereka tidak sedang melawan penjajah, melainkan melawan tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan berbagai kebijakan yang dirasakan semakin berat.
Percakapan dengan tetangga itu kemudian mengingatkan saya pada kutipan yang sangat populer dan sering dikaitkan dengan Ir. Soekarno: "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Hingga kini, pesan yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bahan renungan.
Bukan berarti bangsa ini sedang menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Namun kutipan tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa tantangan setelah kemerdekaan justru datang dari bagaimana sebuah bangsa mengelola dirinya. Ketika rakyat mulai merasa tertekan oleh biaya hidup, kehilangan kepercayaan terhadap manfaat pajak, atau merasa negara semakin jauh dari kebutuhan mereka, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi bersama.
Mungkin tetangga saya pada akhirnya tetap akan memasang bendera Merah Putih. Tapi, mungkin juga tidak. Namun bagi saya, persoalannya bukan terletak pada selembar kain merah dan putih yang berkibar di depan rumah. Yang lebih penting adalah memastikan setiap warga benar-benar merasakan makna kemerdekaan itu sendiri. Sebab nasionalisme bukan hanya soal simbol, melainkan juga tentang keyakinan bahwa negara hadir untuk melindungi dan menyejahterakan seluruh rakyatnya.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Para Putra dan Pujaan Hati: Ketika Kasih Ibu Menjadi Belenggu
-
Mengulas Memoar Educated: Ketika Pendidikan Menjadi Jalan Keluar
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
Artikel Terkait
Kolom
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
-
Financial Anxiety: Saat Memikirkan Uang Lebih Melelahkan dari Mencari Uang
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
-
Label Expired untuk Perempuan: Mengapa Bertambah Usia Dianggap Kerugian?
Terkini
-
Melodi yang Terlambat Didengar
-
Optimis! Fabio Quartararo Yakin Honda Bisa Bangkit di Era MotoGP 2027
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup