Media sosial membuat kita semakin mudah menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Melihat unggahan seseorang yang sedang berduka, mengalami masalah, atau berada dalam kondisi sulit, kita biasanya spontan merasa iba.
Tidak jarang, rasa iba itu mendorong kita untuk meninggalkan komentar, membagikan unggahan, atau sekadar membuka profil untuk mengetahui cerita selengkapnya. Masalahnya, respons emosional seperti ini ternyata bisa dimanfaatkan sebagai celah dalam penipuan digital.
Belakangan, muncul modus di platform Threads yang menggunakan sadfishing sebagai pancingan sebelum mengarahkan pengguna ke jebakan phishing.
Unggahan bernuansa sedih dibuat untuk menarik perhatian, lalu perlahan ceritanya berubah menjadi promosi atau testimoni mendapatkan uang dengan mudah. Dari yang awalnya membuat iba, tiba-tiba muncul klaim saldo e-wallet bertambah ratusan ribu rupiah.
Setelah rasa penasaran muncul, pengguna diarahkan untuk mengeklik sebuah tautan yang justru dapat membahayakan keamanan akun.
Dari sinilah eksploitasi rasa iba menjadi masalah serius yang perlu diperhatikan di tengah kebiasaan kita mengonsumsi konten secara cepat di media sosial.
Sadfishing Bukan Sekadar Unggahan Sedih
Istilah sadfishing digunakan untuk menggambarkan perilaku mengunggah kesedihan atau masalah pribadi secara berlebihan demi mendapatkan perhatian, simpati, validasi, atau respons dari orang lain.
Namun, penting untuk membedakan antara seseorang yang benar-benar sedang membutuhkan dukungan dengan konten yang sengaja dibuat untuk memancing reaksi tertentu.
Dalam konteks penipuan digital, konsep tersebut menjadi lebih berbahaya karena kesedihan tidak lagi sekadar digunakan untuk mendapatkan engagement. Rasa iba dijadikan pintu masuk menuju tujuan lain.
Penipu bisa menggunakan foto makam, suasana duka, cerita kehilangan, atau narasi yang membuat orang penasaran. Konten semacam ini secara alami memiliki daya tarik emosional yang lebih besar dibandingkan unggahan biasa.
Penipu Tidak Hanya Memancing Sifat Serakah
Selama ini, kita mungkin membayangkan penipuan digital memanfaatkan keinginan seseorang untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, korban ditawari hadiah, pekerjaan dengan gaji tinggi, investasi menguntungkan, atau uang dalam jumlah besar. Artinya, penipu mencoba membangkitkan rasa ingin memiliki sesuatu.
Namun, modus seperti sadfishing menunjukkan bahwa rasa iba juga bisa menjadi celah. Kita tidak selalu tertipu karena tergiur easy money atau semacamnya. Ada kalanya kita lengah karena merasa kasihan kepada orang lain.
Menurut saya, ini yang membuat modus tersebut cukup licik. Rasa iba merupakan respons yang sebenarnya positif. Kita diajarkan untuk peduli kepada orang lain dan membantu orang yang kesulitan. Akan tetapi, di ruang digital, niat baik tersebut bisa dimanfaatkan.
Begitu perhatian berhasil didapatkan, penipu tinggal mengarahkan alurnya. Pertama, membuat pengguna berhenti dan memperhatikan. Kedua, membangun rasa penasaran. Ketiga, memberikan sesuatu yang terlihat menguntungkan. Keempat, menawarkan tautan sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan tersebut.
Tautan itulah yang kemudian bisa menjadi jebakan phishing. Pengguna mungkin diminta memasukkan data pribadi, kode tertentu, atau informasi lain yang seharusnya tidak diberikan.
Jangan Sampai Empati Membuat Kita Lengah
Maraknya modus seperti ini juga membuat saya berpikir tentang perubahan cara kita memperlakukan konten emosional di media sosial. Kita memang perlu lebih waspada, tetapi bukan berarti setiap unggahan sedih harus langsung dicurigai sebagai penipuan.
Ada orang yang benar-benar sedang berduka. Ada pula orang yang menggunakan media sosial untuk mencari dukungan karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tidak adil jika semua bentuk curhat dianggap sebagai sadfishing hanya karena kita pernah melihat modus penipuan yang memanfaatkannya.
Hal yang perlu diubah adalah cara kita merespons konten emosional di internet. Kita boleh merasa iba, tetapi harus tetap waspada. Empati dan sikap kritis seharusnya bisa beriringan. Apalagi, algoritma media sosial memang membuat kita terbiasa mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Bagi saya, eksploitasi rasa iba lewat sadfishing menunjukkan bahwa penipuan digital semakin pintar membaca kebiasaan manusia. Mereka hanya perlu memahami emosi apa yang bisa membuat seseorang berhenti berpikir kritis.
Unggahan yang menyentuh hati tetap boleh membuat kita peduli, tetapi jangan sampai rasa peduli tersebut menjadi alasan untuk mengabaikan tanda-tanda kejanggalan. Di dunia digital, tidak semua yang berhasil menyentuh emosi kita datang dengan niat yang baik.
Baca Juga
-
Sudahi Kebiasaan Doomscrolling! Tak Semua Hal di Internet Perlu Diikuti
-
Ulasan Seasons of Blossom: Mengurai Luka, Duka, dan Tekanan Masa Remaja
-
Ironi di Lapangan Upacara: Pejabat Duduk Nyaman, Peserta Berdiri Kepanasan
-
Ulasan Ghost Doctor: Menggali Makna Empati dan Kemanusiaan di Dunia Medis
-
Label Beauty with Brain untuk Perempuan: Pujian atau Warisan Stereotip?
Artikel Terkait
Kolom
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
-
Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian
-
Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng
Terkini
-
Teropong Pendidikan Kita: Membaca Wajah Pendidikan Indonesia 2006-2007
-
Bukan Ducati! Ancaman Aprilia Juatru Datang dari Tim Satelitnya Sendiri
-
Dont Say Good Luck: Kisah Remaja Dihadapkan Antara Mimpi atau Keluarga
-
Praktis Tinggal Usap, Ini 5 Micellar Wipes Pilihan untuk Kulit Berjerawat
-
Budaya Jadi Kunci: Bagaimana Kang Edai Bawa Desa Kemiren Bertumbuh?