M. Reza Sulaiman | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi jajanan SD (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Selama ini, jajanan SD sering mendapat cap sebagai makanan yang perlu dihindari. Kita tentu akrab dengan gorengan yang katanya digoreng dengan minyak yang dipakai berulang, jajan tepung-tepungan dengan saus yang tidak jelas, es warna-warni yang dipertanyakan kebersihannya, dan jajanan berwarna mencolok lainnya.

Para orang tua pun sering mengingatkan anak mereka agar tidak terlalu sering jajan karena takut sakit. Anehnya, dalam pengalaman banyak orang, jajan sembarangan paling sering berujung pada sakit perut atau diare, bukan keracunan serius sampai harus masuk rumah sakit.

Situasinya terasa kontras dengan kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kita dengar akhir-akhir ini. Program berskala besar dengan anggaran yang besar seharusnya memiliki pengawasan makanan yang lebih ketat. Namun, kasus keracunannya berdampak pada banyak anak dalam waktu berdekatan.

Tentu, pengalaman tidak keracunan setelah jajan sembarangan bukan bukti bahwa jajanan SD sepenuhnya aman. Namun, kalau makanan yang sejak dulu dicap tidak higienis saja tidak selalu menimbulkan dampak separah itu, mengapa persoalan keamanan pangan bisa muncul dalam program sebesar MBG?

Ketika Satu Dapur Menentukan Nasib Banyak Anak

Saya pernah mendengar candaan bahwa jajanan SD sudah melewati semacam “uji ketahanan” anak-anak dari generasi ke generasi. Tentu saja ini bukan alasan untuk menganggap jajanan tersebut aman. Hanya saja, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa label “tidak higienis” bukan berarti makanan akan menyebabkan keracunan berat.

Namun, perbandingan antara jajanan SD dan MBG cukup menarik karena jajanan tersebut sering kali dijual tanpa banyak kontrol yang terlihat. Ada makanan yang dibiarkan terbuka, diolah dengan peralatan sederhana, atau dijual di pinggir jalan yang ramai dan banyak polusi. Meski begitu, orang tetap punya ruang untuk memilih, berhenti membeli, atau beralih ke penjual lain jika merasa ada yang tidak beres.

Situasinya berbeda dengan makanan yang diterima anak melalui sebuah program. Mereka tidak punya banyak pilihan untuk menentukan siapa yang memasak atau bagaimana makanan itu diproses.

Itulah sebabnya, makanan yang dibagikan dalam jumlah besar perlu melewati standar keamanan yang lebih tinggi, bukan hanya dinilai dari kelayakannya untuk dimakan.

Bagi Pedagang Jajanan, Kepercayaan Pembeli Jadi Taruhan

Pedagang jajanan sebenarnya punya alasan untuk menjaga dagangannya tetap bisa dimakan. Kalau pembeli kapok, mereka bisa pindah ke penjual lain. Kalau makanan bikin orang sakit, reputasi dagangan bisa ikut hancur dan sumber pemasukan pun hilang.

Coba bandingkan dengan makanan yang dibagikan lewat program besar. Anak-anak yang menerima MBG tidak datang sebagai pelanggan yang bisa memilih dapur mana yang ingin mereka datangi. Mereka juga tidak punya banyak pilihan untuk menolak sistem penyediaan makanan yang sudah ditentukan.

Perbedaan posisi tersebut membuat sistem pengawasan menjadi sangat penting. Pedagang kaki lima tidak otomatis lebih bersih atau lebih aman, tetapi mereka punya hubungan langsung dengan orang yang membeli makanannya.

Anak-anak Tak Seharusnya Menanggung Risiko dari Sistem yang Lalai

Kesalahan dalam program sebesar MBG mungkin saja terjadi. Namun, kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem, bukan sesuatu yang terus berulang tanpa perubahan berarti.

Anak-anak yang menerima makanan tersebut tentu tidak bisa diminta ikut menanggung risiko dari proses yang berada sepenuhnya di luar kendali mereka.

Oleh karena itu, aspek keamanan makanan jangan sampai ditempatkan sebagai terakhir dari pelaksanaan program. Ada nyawa manusia di balik setiap porsi yang dibagikan. Begitu makanan sampai kepada anak-anak, tanggung jawab untuk memastikan makanan tersebut aman sudah menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Apalagi MBG menyasar anak-anak yang seharusnya berada dalam posisi paling dilindungi. Tujuan memenuhi kebutuhan gizi tentu patut diapresiasi, tetapi niat baik tidak cukup jika pelaksanaannya masih membuka ruang bagi risiko yang seharusnya bisa dicegah.