Selama ini, jajanan SD sering mendapat cap sebagai makanan yang perlu dihindari. Kita tentu akrab dengan gorengan yang katanya digoreng dengan minyak yang dipakai berulang, jajan tepung-tepungan dengan saus yang tidak jelas, es warna-warni yang dipertanyakan kebersihannya, dan jajanan berwarna mencolok lainnya.
Para orang tua pun sering mengingatkan anak mereka agar tidak terlalu sering jajan karena takut sakit. Anehnya, dalam pengalaman banyak orang, jajan sembarangan paling sering berujung pada sakit perut atau diare, bukan keracunan serius sampai harus masuk rumah sakit.
Situasinya terasa kontras dengan kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kita dengar akhir-akhir ini. Program berskala besar dengan anggaran yang besar seharusnya memiliki pengawasan makanan yang lebih ketat. Namun, kasus keracunannya berdampak pada banyak anak dalam waktu berdekatan.
Tentu, pengalaman tidak keracunan setelah jajan sembarangan bukan bukti bahwa jajanan SD sepenuhnya aman. Namun, kalau makanan yang sejak dulu dicap tidak higienis saja tidak selalu menimbulkan dampak separah itu, mengapa persoalan keamanan pangan bisa muncul dalam program sebesar MBG?
Ketika Satu Dapur Menentukan Nasib Banyak Anak
Saya pernah mendengar candaan bahwa jajanan SD sudah melewati semacam “uji ketahanan” anak-anak dari generasi ke generasi. Tentu saja ini bukan alasan untuk menganggap jajanan tersebut aman. Hanya saja, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa label “tidak higienis” bukan berarti makanan akan menyebabkan keracunan berat.
Namun, perbandingan antara jajanan SD dan MBG cukup menarik karena jajanan tersebut sering kali dijual tanpa banyak kontrol yang terlihat. Ada makanan yang dibiarkan terbuka, diolah dengan peralatan sederhana, atau dijual di pinggir jalan yang ramai dan banyak polusi. Meski begitu, orang tetap punya ruang untuk memilih, berhenti membeli, atau beralih ke penjual lain jika merasa ada yang tidak beres.
Situasinya berbeda dengan makanan yang diterima anak melalui sebuah program. Mereka tidak punya banyak pilihan untuk menentukan siapa yang memasak atau bagaimana makanan itu diproses.
Itulah sebabnya, makanan yang dibagikan dalam jumlah besar perlu melewati standar keamanan yang lebih tinggi, bukan hanya dinilai dari kelayakannya untuk dimakan.
Bagi Pedagang Jajanan, Kepercayaan Pembeli Jadi Taruhan
Pedagang jajanan sebenarnya punya alasan untuk menjaga dagangannya tetap bisa dimakan. Kalau pembeli kapok, mereka bisa pindah ke penjual lain. Kalau makanan bikin orang sakit, reputasi dagangan bisa ikut hancur dan sumber pemasukan pun hilang.
Coba bandingkan dengan makanan yang dibagikan lewat program besar. Anak-anak yang menerima MBG tidak datang sebagai pelanggan yang bisa memilih dapur mana yang ingin mereka datangi. Mereka juga tidak punya banyak pilihan untuk menolak sistem penyediaan makanan yang sudah ditentukan.
Perbedaan posisi tersebut membuat sistem pengawasan menjadi sangat penting. Pedagang kaki lima tidak otomatis lebih bersih atau lebih aman, tetapi mereka punya hubungan langsung dengan orang yang membeli makanannya.
Anak-anak Tak Seharusnya Menanggung Risiko dari Sistem yang Lalai
Kesalahan dalam program sebesar MBG mungkin saja terjadi. Namun, kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem, bukan sesuatu yang terus berulang tanpa perubahan berarti.
Anak-anak yang menerima makanan tersebut tentu tidak bisa diminta ikut menanggung risiko dari proses yang berada sepenuhnya di luar kendali mereka.
Oleh karena itu, aspek keamanan makanan jangan sampai ditempatkan sebagai terakhir dari pelaksanaan program. Ada nyawa manusia di balik setiap porsi yang dibagikan. Begitu makanan sampai kepada anak-anak, tanggung jawab untuk memastikan makanan tersebut aman sudah menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Apalagi MBG menyasar anak-anak yang seharusnya berada dalam posisi paling dilindungi. Tujuan memenuhi kebutuhan gizi tentu patut diapresiasi, tetapi niat baik tidak cukup jika pelaksanaannya masih membuka ruang bagi risiko yang seharusnya bisa dicegah.
Baca Juga
-
Modern Dad dan Warisan Patriarki: Mengubah Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan
-
Ulasan The Sound of Magic: Melihat Standar Kedewasaan dalam Hidup Anak Muda
-
Bias dalam Rekrutmen: Mengapa Status Pernikahan Membatasi Peluang Kerja?
-
Keberanian Gen Z Mendobrak Tradisi: Mewarisi Tak Harus Mengikuti
-
If You Wish Upon Me: Menemukan Alasan Hidup dari Mereka yang Menanti Ajal
Artikel Terkait
-
Lebih Banyak Mudaratnya! Menkes Kabinet Bayangan Desak MBG Dihentikan
-
Anggaran MBG Menyusut Jadi Rp240,2 Triliun, Sasaran Berkurang 10,8 Juta
-
Bukan Massa Mahasiswa, 21 Orang Bawa Petasan dan Diduga Molotov Dipulangkan
-
Masa TNI Disuruh Masak?: Gatot Nurmantyo Kritik Masifnya Militer di Program MBG dan Kopdes
-
Dari Dapur ke Piring: Mencegah Bom Waktu Keracunan Program MBG
Kolom
-
Modern Dad dan Warisan Patriarki: Mengubah Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan
-
Aging Population dan Gen Z yang Terjepit Generasi Sandwich
-
Tren Personal Branding oleh Gen Z: Sesulit Itukah Menjadi Diri Sendiri?
-
Be Wise: Bagaimana Membaca Menjadi Aplikator Sosial untuk Membaca Karakter Manusia
-
Bahaya Laten Self-Diagnosis: Saat Gangguan Mental Berubah Jadi Tren Estetika di Media Sosial
Terkini
-
Serbaguna! 5 Pelembap Wajah dan Tubuh Ampuh Mengunci Kelembapan Kulit
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Review Serial Reacher Season 2: Drama Kriminal Penuh Adrenalin dan Taktik!
-
Maba Wajib Tahu! 5 Tata Krama Biar Nggak Kena Culture Shock di Jogja
-
Drakor Our Beloved Summer: Kisah Mantan Kekasih yang Bikin Gagal Move On