Belakangan fenomena Rojali Rohana di pusat perbelanjaan Indonesia mulai dikenal dan banyak terjadi di berbagai mall besar. Merujuk pada akronim “Rombongan Jarang Beli” dan “Rombongan Hanya Tanya”, fenomena ini cukup meresahkan outlet karena memicu penurunan daya beli.
Sebenarnya Rojali Rohana nggak melulu merugikan, karena rombongan ini tetap berdampak positif pada outlet kuliner. Rojali Rohana tetap mampir buat makan atau sekadar jajan minuman selama jalan-jalan di mall.
Menariknya, fenomena sejenis ternyata juga terjadi di Korea, lho. Budaya Cagongjok, namanya. Kalau Rojali Rohana ‘menyerang’ mall, berbeda dengan Cagongjok yang terjadi di kafe. Subjeknya juga berbeda, yaitu para pekerja dan pelajar.
Banyak yang menilai kalau Cagongjok yang jadi budaya baru di Korea ini merupakan another level dari Rojali Rohana yang ada di Indonesia. Dengan konsep yang mirip, baik Cagongjok maupun Rojali Rohana sama-sama menjadikan satu tempat beralih fungsi.
Apa Itu Cagongjok?
Melansir dari The Korea Herald, Cagongjok adalah akronim dari gabungan kata "cafe", "gongbu" (belajar), dan "jok" (suku atau kelompok). Jadi, istilah Cagongjok mengarah pada orang yang belajar di kafe dan berkembang menjadi WFC atau Work From Cafe.
Berbeda dengan Rojali Rohana yang memicu penurunan daya beli karena pelanggan sama sekali tidak melakukan transaksi pembelian barang, sebenarnya Cagongjok nggak sepenuhnya merugikan kafe.
Pasalnya, kelompok Cagongjok ini masih tetap membeli makanan atau minuman selama ‘nongkrong’ di kafe meski sembari belajar atau bekerja. Namun, ternyata Cagongjok justru memicu perdebatan sengit terkait etika.
Kontroversi Cagongjok
Bagi pelanggan lain, keberadaan Cagongjok mengusik etika penggunaan ruang publik, dalam hal ini kafe yang juga menjadi hak konsumen umum. Cukup banyak pelanggan yang kesal karena Cagongjok menguasai spot di kafe dalam waktu yang lama.
Padahal, mungkin saja pelanggan lain juga menginginkan spot tersebut dan keberadaan Cagongjok yang seolah jadi ‘penguasa’ tetap jadi terasa mengganggu. Pelanggan lain jadi nggak bisa bergantian, apalagi kalau kafe sedang ramai-ramainya.
Di sisi lain, pemilik kafe juga mulai merasakan imbasnya. Para Cagongjok yang belajar dan bekerja berjam-jam membuat kesal karena sering kali hanya memesan satu menu tanpa tambahan. Padahal kalau berganti pengunjung lain, pendapatan kafe bisa bertambah.
Bahkan, Cagongjok juga semakin eksis dan menunjukkan kenyamanan di ruang publik ini. banyak keluhan yang mengarah pada Cagongjok ‘bebal’ yang sampai membawa PC bahkan printer untuk menunjang kebutuhan kerjanya.
Kontroversi keberadaan Cagongjok pun semakin memanas setelah keluhan dari pelanggan dan pemilik kafe semakin banyak bermunculan. Budaya Cagongjok bak ‘jalan ninja’ untuk membangun kantor darurat tanpa harus mendirikan bangunan baru.
"Gong" Sebagai bentuk Self-Development
Meski kontroversial, tapi fenomena Cagongjok juga bisa memberikan perspektif baru tentang “gongbu” atau kegiatan belajar sebagai bentuk self-development. Kafe yang populer di kalangan anak muda sebagai tempat nongkrong ternyata juga bisa dimanfaatkan jadi ruang kerja dan belajar.
Budaya Cagongjok di Korea ini juga jadi peluang ruang WFC yang nyaman dan memudahkan akses kebutuhan dasar. Saat pekerja atau pelajar dituntut bekerja dan belajar cepat tanpa distraksi urusan perut, mereka bisa langsung memesan tanpa kendala.
Ruang baru untuk bekerja dan belajar pun bisa memudahkan insight datang hingga hasil karya bisa lebih kreatif. Hanya saja, aturan etika tetap harus diperhatikan mengingat cafe adalah public space yang bisa saja keberadaan Cagongjok mengganggu kenyamanan pengunjung lain.
Baca Juga
-
Saat Stres dan Belanja Mulai Sulit Dipisahkan, Paylater Jadi Pelarian?
-
Australian Open 2026: Wajah Indonesia Terselamatkan Gelar Tunggal Putra
-
AI Memang Tidak Menghakimi, Tapi Apakah Curhat ke ChatGPT Benar-benar Menyehatkan?
-
Harga BBM Naik, Gaya Hidup Tetap Jalan: Tanda Pola Konsumtif Sulit Lepas?
-
Cantik di Layar, Terlilit Cicilan di Dunia Nyata: Bahaya FOMO Bagi Perempuan
Artikel Terkait
-
Setelah Sukses di Venesia, Film Thriller No Other Choice Siap Sapa Penonton Indonesia
-
Batas Sehat Ketergantungan dalam Budaya Kolektivisme Masyarakat Indonesia
-
Belajar dari Jepang, CORE Indonesia Dorong Pemanfaatan Budaya untuk Pertumbuhan Ekonomi
-
Sinopsis dan Fakta Menarik You and Everything Else, Drakor Baru Kim Go Eun di Netflix
-
5 Alasan Tempest Drama Baru Jun Ji-hyun dan Gang Dong-won Wajib Ditonton
Lifestyle
-
Qualcomm Snapdragon X2 Elite atau Nvidia RTX Spark, Mana Chip ARM Terbaik untuk Laptop?
-
Praktis dan Unik, Ini 5 Rekomendasi Sabun Muka Bertekstur Bubuk
-
Honor X7e Plus 5G Lolos Sertifikasi Global,Usung Daya Tahan Ekstra dan Jaringan 5G
-
Oppo Reno 16 Global Siap Masuk Indonesia, Snapdragon Baru dan Kamera 200 MP Jadi Andalan
-
Tecno Camon 50 vs Camon 50 Pro 5G: Duel HP Tecno Terbaru 2026, Pilih Mana?
Terkini
-
Kisah Romansa Antara Mei Li dan Lung di Film Bangkok Traffic (Love) Story
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Baru Mulai 6 Menit, Felix Nmecha Cetak Gol Kilat Jerman di Piala Dunia 2026
-
Rayakan 10 Tahun Debut, NCT Dream Akan Gelar Fan Meeting Agustus Mendatang