Ashraf Haidari, seorang ekonom kementerian keuanagn Afghanistan, sedang menunggu dengan cemas di rumahnya ketika ada telepon dari pihak Taliban. Seorang komandan memintanya untuk Kembali bekerja sehingga dia bisa membantu menjalankan negara itu begitu “orang asing” itu telah meninggalkan negaranya, laporan Reuters (25/08).
Sebagai seorang yang bekerja untuk pemerintahan yang didukung oleh Barat, dia khawatir akan menjadi salah satu yang menjadi korban pembalasan.
Di ujung lain telepon adalah seorang komandan Taliban, mendesak Haidari untuk kembali ke kementeriannya di mana dia bekerja mengalokasikan dana ke 34 provinsi negara itu.
"Dia mengatakan jangan panik atau mencoba bersembunyi, para pejabat membutuhkan keahlian Anda untuk menjalankan negara kami setelah orang asing itu pergi," Haidari, mengatakan kepada Reuters (25/08).
Untuk menyesuaikan dengan norma-norma pemerintahan Taliban sebelumnya, ketika mereka secara brutal menerapkan interpretasi ketat terhadap hukum Islam, Haidari menumbuhkan janggut. Setelah panggilan telepon pada hari Minggu (22/08), dia menukar jasnya dengan jubah tradisional Afghanistan untuk bertemu dengan bos barunya.
Reuters berbicara dengan tiga pejabat tingkat menengah lainnya di kementerian keuangan dan bank sentral Afghanistan yang mengatakan mereka telah diberitahu oleh Taliban untuk kembali bekerja, karena negara itu menghadapi pergolakan ekonomi dan kekurangan uang tunai.
Sohrab Sikandar, yang bekerja di departemen pendapatan kementerian keuangan, mengatakan dia tidak melihat rekan perempuannya sejak dia kembali ke kantor.
Selama pemerintahan Taliban 1996-2001, perempuan tidak bisa bekerja dan harus menutupi wajah mereka dan ditemani oleh kerabat laki-laki jika mereka ingin keluar rumah. Juru bicara Taliban telah berusaha untuk meyakinkan warga Afghanistan bahwa mereka tidak bangkit untuk membalas dendam dan mereka akan mengizinkan perempuan untuk bekerja, selama pekerjaan mereka konsisten dengan hukum Islam.
Namun laporan penggeledahan dari rumah ke rumah, perempuan yang dipaksa keluar dari pekerjaan dan pembalasan terhadap mantan pejabat keamanan dan etnis minoritas telah membuat orang waspada. Taliban telah berjanji untuk menyelidiki pelanggaran yang dilaporkan.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada wartawan di Kabul pada hari Selasa (25/08) bahwa "sudah waktunya bagi orang untuk bekerja untuk negara mereka". Dia menambahkan bahwa Taliban sedang mengerjakan prosedur bagi pekerja pemerintah wanita untuk kembali ke pekerjaan mereka tetapi untuk saat ini mereka harus tinggal di rumah karena alasan "keamanan".
Baca Juga
-
Menlu AS Lakukan Kunjungan Resmi Pertama ke Afrika Pekan Depan
-
Mahasiswa Turki Bermalam di Taman untuk Memprotes Kenaikan Sewa Penginapan
-
India Tunda Kesepakatan Ekspor Gula karena Harga Domestik Meningkat
-
AS Menyelesaikan Penarikan Pasukan Secara Keseluruhan dari Afghanistan
-
4 Cara Mencari Uang di Internet, Cocok Buat Kamu yang Butuh Kerja Sampingan
Artikel Terkait
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
76 Tahun AS Berperang: Triliunan Dolar Habis, Jutaan Nyawa Melayang, Perang Iran yang Termahal
-
Update Perang Pakistan vs Afghanistan: BBM Langka, 160 Ribu Warga Terancam Kelaparan
-
Biang Kerok Perang Pakistan vs Afghanistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan Didanai Siapa?
News
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Pecah! Gelar Pertunjukan HIVI! Tutup MOKAKU UPI 2026 di Bumi Siliwangi
-
KKN-MAs Kelompok 19 Kenalkan Dimsum Lele untuk PMT Balita di Puthukrejo
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Gabung Grup Maut AVC Women's 2026, Begini Peluang Timnas Voli Putri Indonesia
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan